
Arga memacu mobil yang di kendarainya dengan kecepatan penuh bahkan terkesan ugal ugalan, untungnya tidak ada polisi lalulintas yang tengah berada di sepanjang jalan yang Arga lewati.
Hingga sampailah Arga di Rumah sakit yang tengah Aditya sebutkan tadi, dengan segera ia berlari menembus sepanjang lorong dan koridor Rumah sakit hanya untuk menuju ke arah ruang bersalin.
"maaf suster...dimana ruang bersalinya?" Tanya Arga pada salah seorang suster yang tengah lewat di depanya, kedua tanganya dengan segera menarik dasi yang mengalung ketat di lehernya, agar sedikit longgar, dan membuka satu kancing yang terlihat mencekik lehernya, dimana sang suster malah terpesona dengan kelakuan lelaki tampan yang tengah bertanya di depanya.
"Suster! jawab! saya buru buru!" Ucap Arga dengan suara yang meningginya.
"Akh...iya...mas eh pak...itu...lurus saja lalu belok ke kanan nanti belok lagi ke kiri...disana nanti ada tulisanya kok." Ucap si suster yang menerangkan sampai usai, namun lelaki tampan di depanya itu sudah ngibrit kabur begitu saja, bahkan beberapa saat saja sosok itu sudah hilang dari pandangan matanya.
Arga dengan cepat menuju tempat yang tadi di beritahukan oleh suster yang berpapasan denganya, benar saja! dari kejauhan nampak kakak iparnya dan asisten rumah tangganya serta si kecil Reza yang harusnya tidak berada disana.
"Kak...Nindi dimana?" Ucap Arga sembari ngos ngosan masih mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
"Didalam Ga!" Ucap Ifa sembari menunjukan ruangan yang tadi Dokter masuki dan membawa Nindi masuk serta, dan tanpa pikir panjang lagi, Arga pun segera menerobos masuk ke dalam ruangan yang kakak iparnya itu tunjukan.
"Ga...kamu jangan masuk!" Ucap Ifa dengan teriakanya, namun sudah tidak di gubris oleh Arga lagi, ia segera menerobos apapun yang terjadi, entah ia akan langsung di usir dari dalam, ataupun langsung di depak seketika, ia tidak peduli lagi. Yang ada ia hanya ingin bertemu dengan sang istri saat itu, ia akan lega saat melihat sendiri kondisi sang istri di dalam ruangan yang asing menurutnya.
"Sayang...kau dimana? aku datang!" Ucap arga dengan sedikit kerasnya, hingga membuat Nindi yang tengah berusaha mengejan itu pun berhenti sesaat untuk mengejan.
Dan Dokter serta suster yang membantunya tampak sedikit terperangah kaget saat kedatangan Arga barusan.
"Sayang....kemari...kemari...!" Teriak Nindi seketika, sembari melambai lambaikan tanganya memanggil sang suami datang padanya, dan seketika bukanya Arga mendekat ia malah terpana menyaksikan perjuangan sang istri yang akan melahirkan buah hatinya yang tengah di bantu satu Dokter perempuan dengan dua perawat di kedua sisinya.
"Tuan cepat kemari...!" Teriak Dokter yang geram dengan tingkah Arga yang terlihat mematung dan tidak bergerak dari tempatnya.
"Oh...iya iya...! Sahut Arga sembari bergegas mendekat ke arah sang istri dan menggeser tempat salah satu suster yang ada di samping sang istri.
Arga segera menggenggam jemari Nindi kuat kuat, memberinya dukungan dan kekuatan.
"Ayo nyonya...sudah saatnya anda mengejan nyonya...!" Ucap Dokter yang tengah memberi aba aba pada Nindi.
"Sayang...aku yakin kamu bisa sayang...ayo sayang...!" Ucap Arga sembari mengelap keringat di kening Nindi, dan tanpa henti hentinya mengelus rambut di puncak kepala sang istri dengan satu tanganya.
Hingga beberapa kali dorongan, nampak Nindi sudah kehabisan tenaga, ia begitu lemah saat itu.
"Ayo nyonya...sudah terlihat nyonya...ayo cepat...kasihan bayinya kalau anda tidak segera mengejan!" Ucap Dokter yang membuat Arga lebih cemas saat itu di banding Nindi sendiri.
"Sayang...ayo...jangan nyerah...kamu pasti bisa!" Ucap Arga lagi sembari menggenggam sekuat tenaga tangan sang istri.
Namum Nindi malah berusaha melepas pegangan tanganya dari genggaman sang suami, ia menarik dasi yang Arga kenakan, yang membuat Arga mendekatkan wajahnya, saat itu pula, Nindi meraih kepala Arga dan menjambak rambut klimits sang suami dengan kedua tanganya.
"Kenapa malah Arga teriak saat bayinya lahir?" Ucap tanya Aditya saat ia baru tiba dan tanpa sengaja mendengarkan sang adik menjerit bahkan terkesan berteriak barusan.
"Bby...sepertinya bayi Arga Nindi udah keluar..." Ucap Ifa sembari menyambut sang suami.
"Iya sayang...syukurlah...semoga semua sehat sehat saja." Ucap balas Aditya pada sang istri.
Hingga bebera saat bu Dokter dan kedua suster keluar dari ruang bersalin, dan terlihat lega setelah membantu persalinan normal Nindi.
"Dokter...boleh kita masuk?" Tanya Aditya dan Ifa bersamaan.
"Silahkan..." Ucap bu Dokter dengan ramahnya, lalu keduanya pun masuk kedalam, meninggalkan Reza pada gendongan bibi asisten rumah tangga Nindi, Ifa dan Aditya bermaksud melihat kondisi adik iparnya itu dan bayinya, setelah itu berpamitan untuk pulang ke rumah.
Terlihat Nindi yang sudah berganti pakaian dengan rapi, dan bayi mungil yang berkulit putih bersih tengah di bedong di sampingnya.
"Selamat ya Nindi..." Ucap Ifa dan Aditya yang memberi selamat pada sang adik.
"Lah Arga mana? bukanya tadi dia yang teriak kencang?" Tanya Aditya tiba tiba, dan Nindi hanya tersenyum kecut sembari menunjuk pintu kamar mandi.
Dan segera saja Aditya berjalan menuju ke arah kamar mandi yang di tunjuk Nindi, Aditya terkejut melihat sang adik yang tengah terduduk di atas kloset duduk dan sembari beberapa kali mengusap usap wajahnya.
"Ga...kamu baik baik saja?" Tanya Aditya sembari tanganya mencoba membuka pintu kamar mandi, dan berjalan perlahan lahan menuju ke arah sang adik.
"Aku tahu ga...gimana perasaanmu, dulu aku pun sama terharunya seperti dirimu ini, saat melihat perjuangan istri melahirkan, aku pun tahu persis apa yang kamu rasakan...tapi masak iya kamu malah nangis disini sih? nggak apa apa kok tangis bahagia di perlihatkan ke Nindi, agar ia tahu bahwa kamu begitu bahagia!" Ucap Aditya menenangkan sang adik, namun Aditya tidak tahu Arga menangis karena jambakan Nindi di rambut kepalanya yang membuat kepalanya terasa nyut nyutan.
"Iya kak...kakak bawa obat pusing nggak? aku meras pusing sekarang!" Ucap Arga pada sang kakak.
"Ya nggak bawa lah...apa perlu aku belikan dulu?" Tanya balik Aditya pada sang adik.
"Akh...nggak usah kak...nggak apa apa kok kalau begitu." Ucap Arga sembari beranjak dari duduknya.
"Kamu sudah Adzanin anak kamu?" Tanya Aditya lagi, dan Arga pun mengangguk, sembari menggaruk garuk kepalanya perlahan lahan.
"Ga...saking bahagianya kah kamu sampai rambut kamu banyak yang rontok gitu?" Tanya Aditya saat ia lihat di bawah kaki adiknya ada beberapa helai rambut bahkan banyak yang Aditya lihat.
"Sangat bahagia kakak!" Ucap balasan Arga yang di sambut pelukan oleh Aditya.
"Mertuamu sudah kamu kabarin?" Tanya Aditya lagi, dan Arga lagi lagi hanya mengangguk perlahan. Meski banyak yang rontok rambut Arga, namun ia bahagia, istri dan buah hatinya selamat di depan matanya.