THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Kekasih dadakan



"Baiklah Qiran...sekarang udah usai...makasih, makasih...banget oke, aku pergi dulu, tolong...lupain semuanya, aku mohon...kamu pun pasti punya orang tua yang ngedidik kamu kan? kamu pasti anak terpelajar...orang tuamu santun, dan pasti tahu! bukan seperti ini sikap kepada lawan jenis, ngerti kan? aku pergi dulu ya..." Ucap Reza sembari menatap mata gadis cantik berambut pendek di depanya, saat itu Qiran hanya terdiam, matanya berkaca kaca, mulutnya membisu, kata kata Reza barusan benar benar pukulan telak baginya, hingga Reza berjalan hampir jauh dari pandanganya.


Dengan tangisanya, Qiran berlari mengejar Reza sedapatnya.


"Akh!!" Tiba tiba teriak Qiran saat ia tengah terjerembap jatuh, lututnya berdarah bahkan lebih parah dari luka Reza yang tadi.


Seketeka Reza menoleh, berbalik dan menghampiri Qiran lagi.


"Kamu ini, kenapa sampai bisa ceroboh kayak gini sih?" Ucap Reza sembari mencoba membantu Qiran untuk berdiri, namun Qiran malah menarik tangan Reza, sampai ia ikut terduduk di depanya.


"Aku ingin bilang...mama dan papa ku meninggal karena kecelakaan saat ada bencana alam, waktu itu umurku masih lima tahun, aku diasuh oleh nenek aku, dan nenek aku juga sudah meninggal lima tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku kelas satu SMP, kamu benar...aku seperti ini sama lawan jenis, karena aku tidak di didik oleh kedua orang tua, bahkan aku sudah lupa gimana wajah mereka, kamu pun tak tahu aku bilang mau nepatin janji kan? kamu pasti bingung, aku berjanji di depan makam orang tua aku, di makam nenek aku juga, aku janji akan jaga ciuman pertama aku, apa lagi tubuhku! paling nggak untuk suami aku kelak, karena aku memantapkan diri, aku harus tegar, aku harus kuat, tanpa siapa siapa disisi aku, tanpa perasaan bertele tele seneng seneng, apa lagi untuk pacaran, aku punya bisnis kecil yang terpaksa harus aku jalankan, karena tidak ada siapa siapa lagi yang bisa aku mintai tolong...jika aku sampai pacaran atau terjerat yang namanya cinta, siapa yang akan menghidupi semua karyawan aku? jika sampai ada apa apa dengan perusahaan, karena aku tinggal main main itu, jadi...jika kau tidak mau jadi suami aku kelak, maka...jadilah pacar aku, paling tidak tiga bulan saja, aku benar benar tidak main main, kamu bisa tanya penjaga makam, di desa ini hanya ada satu pemakaman umum, dan nenek aku di kubur disana, sengaja aku kesini mengunjunginya, aku nggak bohong, aku serius..." Ucap Qiran yang membuat Reza ingin ikut menangis, dan entah setan mana yang merasukinya, Reza seketika memeluk tubuh gadis di hadapanya dengan dekapan penuh kasih, mungkin saat itu, rasa cinta tumbuh di hatinya.


"Maaf...aku tadi sudah galak padamu Qiran...maaf...mungkin tuhan mempertemukan kita untuk saling menguatkan." Ucap Reza dengan pelukan hangatnya.


"Kamu nggak ingin memastikan perkataanku tadi?" Tanya Qiran yang membuat Reza melepas pelukanya, dan Reza hanya menggeleng, tanda ia percaya pada kekasih barunya itu.


Reza lalu mengajak Qiran untuk berdiri, memapahnya, namun baru tiga langkah saja, Qiran sudah tertatih tatih.


"Naik, aku gendong..." Ucap Reza pada Qiran.


"Aku berat...sungguh..." Ucap Qiran yang tidak di hiraukan Reza, ia langsung sedikit menunduk memberikan punggungnya pada Qiran, dan akhirnya Qiran pun naik disana, Reza membawanya berjalan dengan perlahan lahan.


"Hemmmz...ternyata, cowok tampan dan romantis itu beneran ada ya...bukan hanya ada di novel atau di film film, buktinya...cowok aku udah tampan...romantis lagi, plus baik banget." Ucap Qiran yang membuat Reza tersenyum.


"Darimana kamu tahu aku baik? gimana kalau aku mau nyulik kamu?" Ucap Reza yang sudah mulai bisa dengan gombalanya.


"Jangankan kamu culik sebentar, culik selamanya juga boleh..." Ucap Qiran dengan tawanya.


"Gimana kalau aku orang nggak punya? kamu nggak takut aku ngabisin semua milikmu? yang udah kamu jaga dan lindungi selama ini?" Ucap Reza yang memastikan Qiran bukan cewek matrealistis.


"Nggak apa...kan kita bisa ngejalanin usaha sama sama, kenapa kamu harus ngabisin? hemz...kalau abis ya...aku tinggal minta kamu aja, kamu yang kerja, aku yang ngurus rumah, malah enak kan, aku nggak mikir kerjaan." Ucap Qiran dengan sungguh sungguhnya.


"Tuhan...aku tidak tahu, kenapa hatiku bisa luluh oleh tangisan gadis ini, semoga saja dia sunggung sungguh dan tidak mempermainkanku.


"Baiklah sayang...aku mau...dan kamu jangan khawatir, aku nggak bakalan main main, kalau aku udah janji...aku akan tepatin." Ucap Qiran yang membuat lega hati Reza.


Hingga keduanya sampai di tempat Reza.


"Huaaaah...ini sih istana, kamu bohong ya...kamu bilang kamu anak orang biasa, kamu kerja disini? jadi tukang jaga sini? apa gimana sayang?" Ucap Qiran dengan mata yang menatap sekeliling, rumah indah tersebut dua kali megahnya villa yang dimilikinya.


"Hemmz..." Reza mengelus pucuk hudung imut Qiran, dengan senyum tampanya, membuat Qiran tersipu malu dibuatnya, sembari menempel plester yang ia baru ambil dari kotak obat.


"Kenalin...nama aku, Syahreza Adfa Wibawa." Ucap Reza sembari masih berlutut di depan sofa yang Qiran tempati lalu mengulurkan satu tanganya untuk di jabat Qiran.


"Jangan bilang...kamu putera tunggal pemilik grup Wibawa?" Tanya balik Qiran dengan terbata batanya, dan Reza hanya mengangguk mengiyaknya saja.


"Aku boleh pingsan nggak?" Ucap Qiran lagi yang masih syock.


"Boleh...pingsanya dikamar sana, aku nggak sanggup kalau gendong kamu lagi." Canda Reza sembari masih berjabat tangan dengan pacar dadakanya itu, dan tiba tiba ponselnya berdering.


"Bentar ya...aku angkat panggilan dulu." Ucap Reza yang lalu pergi sedikit menjauh dari Qiran.


"Halo Gand...ada apa?" Tanya Reza pada sahabatnya itu.


"Kok kamu nggak balas pesan aku? gimana tuh setan wanita yang ngintilin kamu?" Tanya Gandi lagi.


"Emb...oh...dia...aku pacarin dia Gand, anggep aja aku udah gila, aku nggak waras, suka suka kamu aja lah oke." Ucap Reza yang seketika membuat Gandi melongo bengong saking kagetnya, seorang Reza, yang hampir tak terjamah gadis manapun, takhluk pada gadis setan yang ia pikir menyeramkan.


"Aku pasti mimpi, Reza nggak mungkin kan macarin tu setan? hah...Aduuuuh!" Ucap Gandi dengan teriakanya, karena ia mencubit lenganya sendiri, dan ternyata itu nyata sakitnya.


"Haruskah aku rayain rekor bersejarah ini?" Ucap Gandi lagi yang benar benar tidak tahu lagi harus ngomong apa.


"Mama...Gandi merinding...!" Teriak Gandi sembari mengusap usap kedua sisi lenganya.