THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Tiba tiba kepo



Hingga akhirnya Gandi dan Eric serta yang lain sudah usai dengan membakar bahan makananya, segera Gandi membawa sepiring kecil daging dan juga sosis menuju ke arah Keyra, Reza yang melihatnya pun turut mengambilkan Qiran pula.


Gandi duduk di sebelah kekasihnya, dan Evan pun sama, kedua lelaki tersebut mengapit gadis gadis cantik di sisi kanan kirinya.


Gandi menyuapai Keyra dengan senyum tulusnya, dan Reza pun hanya memberikanya saja.


Saat itu, tengah muncul otak jahil di pikiran Gandi, sengaja ia menyuapi Keyra dengan sosis kemulutnya, dan tiba tiba Gandi ikut memakan ujung satunya lagi, sangat dekat wajah keduanya, yang di iringi senyuman bahagianya, nampak dari wajah keduanya, Reza yang ada di kursi ujung sebelah Qiran hanya melihatnya, menatap kearah Gandi dan juga Keyra.


"Dasar Gandi! menang banyak!" Ucap dalam hati Reza, dan saat itu, Reza yang melihat kekasihnya terlalu serius menyuap dagingnya tanpa merasa risi dengan rambut yang menutupi pipinya, atau bahkan mungkin ikut masuk kemulutnya, hanya bisa membantu menyibakan uraian rambut tersebut ke samping telinganya, hingga Qiran menatap kearahnya dan memberi Reza suapan kecil dari sendok yang di peganginya.


Eric dan Evan yang menatap dua pasangan yang romantis itu pun hanya bisa menonton, terlebih Eric, ia menikmati setiap apa yang dilihatnya dengan wajah yang ingin menangis kala itu.


"Evan...kenapa aku dulu pacaran sampai dua kali tapi nggak pernah seperti itu?" Ucap Eric yang tengah memeluk Evan.


"Terus kenapa kamu nangis?" Tanya Evan sembari membiarkan Eric terus memeluknya, karena kedua tanganya tengah membawa piring di tangan kirinya dan capit untuk mengambil daging, di tangan kananya.


"Kok malah ditanya, bayangin aja, aku yang udah dua kali pacaran tapi nggak pernah seperti itu, tapi mereka! yang bisa dibilang junior malah kayak senior aku." Ucap Eric yang menerangkan, karena keduanya seperti sudah handal soal pacaran.


Sampai...ke empatnya menatap kearah Evan dan Eric, Evan hanya menaikan bahunya saja.


"Kamu sih..." Ucap Keyra dengan manjanya.


"Kok jadi aku sih! kan karena kamu yang gemesin banget." Ucap gombalan Gandi seketika.


Hingga acara malam itu usai, Semua berpamitan, dan Keyra pun pulang tanpa Gandi, jarena Keyra tidak mau Gandi antar, Reza pun sudah pulang deng Qiran, Eric pun baru menyusul pulang, tinggalah Evan yang masih disana, ia senga ingin berbicara pada Gandi.


"Ada apa sayang? Evan kenapa?" Tanya Nindi pada sang putera saat berpapasan di dapur.


"Emb...dia kayaknya lagi galau mah...akh nanti aja ya...Gandi kesana dulu." Ucap Gandi sembari membawa cemilan dan minuman ke kamarnya.


"Udah Van...kamu mau carita apa?" Tanya Gandi setelah keduanya berada didalam kamarnya.


"Gand...jujur ya...aku ingin tahu kabar Vanya, apa kamu bisa mencari tahunya? diantara kita yang jago masalah pencarian kan kamu." Ucap Evan pada Gandi.


"Aku usahain ya Van." Ucap Gandi dengan sungguh sungguhnya, hingga beberapa saat, namun Evan juga tidak beranjak dari duduknya.


"Apa ada masalah lain?" Tanya Gandi saat ia melihat Evan masih diam disana, Gandi pikir, Evan tidak menunggui kabar darinya saat itu juga.


"Aku nungguin kamu nyari!" Ucap Evan dengan seriusnya.


"Haaaah...sekarang? aku pikir besok!" Ucap Gandi yang menimpali perkataak Evan.


"Iya iya...yaudah tunggu ya...aku lihat dulu." Ucap Gandi sembari mengambil laptop miliknya dan mengutak atiknya, namun ia belum menemukanya juga setelah hampir satu jam ia mencarinya di internet, lalu ia beralih ke komputer yang ada di atas meja kamarnya, mengutak atikan jemarinya diatas keyboard depan komputernya.


"Akh ketemu!" Ucap Gandi sembari memperlihatkan mantan artis cilik dalam Negeri, kini sukses di luar Negeri.


Segeta Evan melihat dalam layar komputer keponakanya itu, dengan senyum senang ia akhirnya baru pulang dengan tenang, karena sejak kepergian Vanya, Evan merasa tidak tenang, ia khawatir tentang kehidupan gadis itu, dan sekarang sudah lega saat melihat Vanya sukses seperti itu.


"Tapi...pastilah ia sudah melupakanku, dasar...dia tak ingat sudah mengejarku selama dua tahun!" Ucap dalam hati Evan sepanjang perjalanan pulangnya.