THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Dan tanpa terasa



Hingga dengan tergesa gesa Nindi sampai ke kamarnya,


"Brugh." Tiba tiba saja Nindi menubruk sosok gagah di depanya yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Astaga ga...kamu ini...kaget tahu!" Ucap Nindi sembari berjalan masuk kedalam kamar.


"Aku kira kamu udah mandi tadi, mau aku ambilin pakaian." Ucap Nindi sembari akan membuka pintu lemari pakaian di depanya.


"Brak." Suara pintu lemari pakaian yang menutup kembali karena tangan Arga sudah menekanya dengan paksa.


"Kalian tadi ngomongin aku kan?" Ucap Arga yang memulai percakapanya pada sang istri.


"Enggak...kenapa bisa kamu kepedean." Ucap Nindi dengan membalikan tubuhnya menghadap sang suami yang ada di belakangnya, keduanya saling berhadapan dan saling menatap, meski Arga lebih tinggi beberapa jengkal darinya, namun tak menghalangi pandangan keduanya.


"Nih...bibir aku kegigit, tanda kamu sedang ngomomgin aku tadi kan sayang...obatin deh." Ucap Arga sambil satu tanganya memeluk pinggang Nindi agar merapat ke arahnya.


"Loh kan...alasanya basi deh..." Ucap Nindi yang harus mengecup bibir sang suami.


"Kok cuma sekali?" Tanya Arga pada sang istri yang masih merapat ketubuhnya.


"Loh...udah dikasih masih protes gimana sih..." Ucap Nindi yang sudah bersemu merah di sebagian wajahnya, tanda ia sedikit malu karena tingkah suaminya, dan saat itu pula Arga tahu kode Nindi yang membuatnya tidak akan berhenti dengan mudahnya.


"Baiklah...kalau begitu aku nggak maksa minta sayang...tapi aku maksa ngambil." Ucap Arga yang kini dengan kedua tangan yang sudah merengkuh tubuh sang istri seutuhnya dalam pelukanya, dan tanpa aba aba ia langsung menuju bibir Nindi yang dijadikan sasaranya.


Hingga beberapa saat berpagut dengan panasnya, sampai Nindi teringat jadwal sang suami yang harusnya tidak bisa ketunda.


Dan dengan sekuat tenaga, Nindi menyudahi ciumanya.


"Ga...sudah pukul setengah empat...nanti kamu telat." Ucap Nindi dengan kedua tangan yang tengah mendorong dada suaminya agar menjauh darinya.


Namun bukanya Arga menyerah, ia malah merasa tertantang dan langsung membopong tubuh sang istri menuju ke atas pembaringan.


Arga merasa hari itu adalah hari keberuntunganya, dimana pas sekali saat putera kecilnya tidak ada di rumah, dan lagi tidak ada si bibi pula disana.


"Harusnya kita segera memulainya sayang...Kamu berontak terus dari tadi." Ucap Arga yang sudah meletakan tubuh Nindi di atas pembaringanya dan segera melepas keatas kaos yang di kenakanya dan meletakanya di samping bantal yang Nindi pakai.


"Tapi..." Ucap Nindi yang sudah tak bisa ia lanjutkan karena ciuman Arga sudah mendarat tepat disana, membuatnya hanya bisa menerima dan membalasnya. Hingga hampir satu jam sudah Nindi tak mampu berkata kata lagi, dan Arga menyudahi aktivitasnya.


"Arga...kamu lupa ya?" Ucap Nindi dengan tangan menarik selimutnya, dan Arga hampir beranjak pergi meninggalkanya.


"Oh iya...aku lupa..." Ucap Arga sembari berbalik ke arah sang istri lalu mengecup keningnya.


"Makasih istriku sayang sudah di ingatkan." Ucapnya lalu menyunggingkan senyum manisnya, Arga mengira Nindi mengingatkanya untuk mencium keningnya.


"Hya Arga bukan itu...tapi rapat nya gimana?" Tanya Nindi lagi yang mencoba mengingatkan kembali.


"Oh...kirain apa...kamu lupa ya...siapa suami kamu! aku pending lah sampai nanti pukul tujuh malam, gimana? mau lanjut lagi mungkin?" Ucap Arga dengan songongnya.


"Arga...kenapa kamu nggak bilang...akh..." Ucap Nindi yang kemudian menarik selimutnya agar menutupi seluruh tubuhnya.


Lalu Arga pun masuk kedalam kamar mandinya, dan hingga beberapa saat sudah keluar lagi, namun terlihat Nindi sore itu malah tertidur, dan Arga tidak tega untuk membangunkanya.


Arga lalu turun kebawah, berjalan menuju ke arah pintu utama rumahnya, karena ia mendengar suara bel pintu yang berbunyi, tanda ada seseorang yang bertamu ke rumahnya, dan saat Arga membukanya...


"Loh Evan mana?" Tanya Arga seketika saat ia lihat Evan tidak ikut serta.


"Evan tadi di jemput om Rendi sendiri ga...jadi sudah pulang lah dia." Ucap Aditya yang lalu berpamitan untuk pulang.


"Pah...mama dimana?" Tanya Gandi yang masih di gendongan papanya.


"Ada...dikamar sayang, mau papa ajak kesana?" Ucap Arga yang langsung di angguki puteranya.


Hingga keduanya sampai di dalam kamar yang Nindi tempati, nampak Gandi turun dari gendongan papanya dan langsung berlari kecil menuju ke arah mamanya yang sedang berbaring.


"Mama...!" Ucap Gandi sembari memeluk tubuh mamanya yang berselimut tebal.


"Akh sayangnya mama sudah pulang ya..." Ucap Nindi dengan pelukan hangatnya.


"Loh...mama mau mandi ya? apa sudah mandi? kok belum bajuan?" Ucap tanya Gandi yang melihat mamanya hanya memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Akh...iya mama mau mandi tadi, eh...ketiduran sayang...Gandi main sama papa dulu ya...mama mau mandi." Ucap Nindi sembari memberi isyarat pada sang suami agar mengajak Gandi keluar dari kamarnya.


"Akh...sayang...ayo ikut papa dulu deh..." Ucap Arga sembari menarik tubuh puteranya dari belakang dan menggendongnya. Dan akhirnya Nindi pun segera bangkit dari tidurnya dan berlari masuk kedalam kamar mandinya.


Hingga tanpa terasa waktu berjalan dengan begitu cepatnya, hari hari yang menyenangkan pun berlalu begitu saja, tanpa terasa tahun tahun pun sudah terlewat dengan menyenangkan, begitu pula para jagoan kecil yang tumbuh dengan penuh kasih sayang orang tuanya masing masing itu pun kini sudah memasuki masa masa sekolah menengah pertama.


"Gandi...ayo cepat sayang...keburu papa kamu kesiangan ntar...tuh lihat Reza udah berangkat dari tadi...!" Ucap Nindi dengan sedikit teriakanya, karena sang putera terlalu lama di kamarnya, padahal pagi itu adalah mos atau masa orientasi siswa pertama kalinya masuk sekolah menengah pertama.


"Oke papah...mamah...Gandi siap...ayo...!" Ucap Gandi yang berwajah tampan dan rupawan yang baru tiba di ruang makan.


"Eh...main ayo aja...nggak mama kasih uang jajanya ntar kalau nggak sarapan dulu! heran deh kebiasaan banget nih anak." Ucap Nindi dengan gerurunya.


Lalu Arga pun langsung menarik kursi di dekatnya dan memberi isyarat pada sang putera agar menurut saja.


Hingga ketiganya sudah usai dengan sarapanya dan akhirnya Arga serta sang putera pun berangkat juga.


"Pah...kenapa sih tumben papa kayak takut sama mama?" Tanya Gandi saat keduanya sudah berdua saja di dalam mobil yang melaju menuju ke sekolah baru Gandi.


Namun sebelum Arga menjawabnya,riba tiba panggilan masuk dari sang istri yang tidak boleh Arga abaikan.


"Iya sayang...ada apa?" Tanya Arga setelah mengangkat panggilanya.


"Awas ya kalau kalian suka bahas aku di belakang!" Ucap Nindi lalu mematikan panggilanya seketika.


"Tuh...dengerin...mamamu kalau mau datang bulan pasti peka banget, udah ngalah ngalahin singa betina, gimana papa nggak takut coba!" Ucap Arga sembari mengerlingkan satu matanya ke arah Gandi, dan seakan Arga memang benar benar takut pada sang istri.


"Udah dikasih saku belom?" Tanya Arga pada sang putera.


"Udah dong..." Ucap Gandi dengan senyumnya.


"Nih papa tambahin lagi, tapi ingat...jangan bilang bilang mama ya pembahasan kita hari ini, ingat! ini hanya antara lelaki saja, oke?" Ucap Arga sembari memberikan selembar seratus ribuan pada sang putera, dan Gandi pun mengangguk setuju dan mengambil uang dari papanya.


"Ingat sayang ini bukan suap, oke? jangan di jadikan kebiasaan apa lagi di contoh." Ucap Arga lagi dan Gandi pun mengangguk mengerti.