THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Awal yang tak menyenangkan



Pukul tujuh kurang lima menit, tepat Gandi tiba di depan pintu gerbang sekolah barunya.


"Bye bye papah..." Ucap Gandi setelah turun dan baru membanting pintu mobil hingga tertutup. Ia berlari menuju gerbang sekolah yang segera akan di tutup oleh petugas keamanan.


"Pak...eh tunggu pak...!" Teriak Gandi sembari berlari sekencangnya menuju gerbang yang hanya tinggal setengah meter saja bukanya, lalu dengan segera Gandi pun masuk kedalam.


"Akh...syukurlah...makasih pak satpam..." Ucapnya sembari berlari lagi menuju ke arah tengah lapangan, dimana semua siswa baru yang baru hari itu masuk tengah berkumpul disana semua.


Gandi segera mencari teman temanya, ratusan siswa siswi tengah berkumpul menjadi satu, tiba tiba...


"Bugh!" Gandi tanpa sengaja menabrak seorang gadis gendut namun imut, dan seketik tas yang ia bawa pun terjatuh.


"Akh...maaf ya...!" Ucap sang gadis, namun Gandi hanya mengambil tasnya, dan berlalu begitu saja.


"Hei sini...!" Teriak Eric sembari melambaikan tanganya, ke empatnya mendaftar bersamaan, meski Evan lebih tua beberapa bulan, namun saat masih taman kanak kanak, ia tak ingin berpisah dari sahabatnya, alhasil saat itu semua berkumpul jadi satu.


Kebetulan di yayasan tersebut, Arga dan Aditya yang paling menonjol di antara anggota anggota yang lain, sengaja keduanya diam diam ingin tahu perkembangan kemajuan sang putera langsung.


"Hai kawan...!" Ucap Gandi sembari menepuk pundak Evan yang seharusnya ia panggil om.


"Hemmmz..." Sahut Evan hanya dengan dengusanya saja.


Diantara ke empatnya, hanya Evan yang paling pendiam.


"Za...kenapa lu diem aja sih?" Tanya Gandi saat melihat teman sekaligus saudara dan juga merangkap tetangganya itu.


"Lu tuh...gara gara lu semalam ngajak maim game sampai malam, aku kesiangan bangunya tadi." Ucap Reza dengan dengusan kesalnya.


"Lah Za...jelas jelas gue liat lu berangkat ama bokap lu duluan tadi, masak iya gitu aja lu ngambek sih!" Ucap gerutu Gandi pula.


"Udah udah...udah mulai tuh ceramahnya...dengerin..." Ucap Eric yang menengahi keduanya.


Hingga acara usai dan sudah bubar, hari itu hanya di isi perkenalan kakak kakak pengurus osis, dan pembekalan osis, setelah itu bubar pulang.


Terlihat ke empatnya dengan santainya berjalan menuju ke gerbang sekolah, di luar gerbang, nampak mobil yang menjemput Evan, dan sedangkan Gandi, Reza dan Eric belum di jemput.


"Van...nebeng dong..." Ucap Gandi pada Evan, dan Evan hanya mengangguk mengiyakan, ke empatnya pun akhirnya masuk kedalam mobil.


"Van...nge game dulu yuk...nggak asyik kalau langsung pulang!" Ucap Eric pada Evan, dan di setujui oleh Gandi dan juga Reza.


"Nggak!" Ucap tegas dan datar Evan seketika.


Hingga ke tiganya hanya bisa nyungir membalasnya.


"Gan...gue lihat tadi lu godain cewek gendut ya?" Ucap asal Eric yang tengah kepo.


"Apaan sih lu...nggak mutu tahu!" Ucap Gandi yang menimpali, lalu tiba tiba...


"Eh papah!" Ucap Gandi saat ponselnya berdering, dan di layarnya terdapat nama sang papa disana.


"Iya pah halo...!" Ucap Gandi setelah mengangkat panggilan dari papanya.


"Sudah pulang?" Tanya Arga pada sang putera.


Hingga hari itu usai, dan tanpa terasa satu minggu sudah berlalu begitu saja, masa mos atau masa orientasi siswa pun sudah berakhir, hari itu sengaja Gandi nebeng om nya, yaitu Aditya, papanya Reza.


Kebetulan ke empatnya dapat satu kelas yang sama, hingga membuat ke empatnya senang, diantara Evan, Gandi, Reza dan Eric, Gandi paling menonjol dalam pelajaran, atau bisa dibilang paling encer otakmya saat menyangkut pelajaran, mungkin turunan jenius dari papanya.


Di urutan kedua ada Evan, Reza serta Eric, dan soal ketampanan, ke empatnya tak bisa diragukan lagi, meski yang paling tampan adalah Gandi tentunya.


Saat itu, jam mata pelajaran telah usai, dan waktunya istirahat, terlihat Reza datang dari arah toilet dengan Eric di sebelahnya.


"Nih...!" Ucap Eric yang di suruh Reza untuk memberikan sebuah surat cinta warna pink pada Gandi.


"Akh...lagi....!" Ucap Gandi dengan lelahnya, dan seketika ia hanya menerimanya dan memasukanya ke laci bangku nya tanpa membukanya, disana terlihat sudah ada beberapa surat, namun sepertinya masih rapi dan belum ia lihat satu pun.


"Aneh...kenapa rangking pertama yang selalu dapat surat cinta si Gandi mulu sih, rangking kedua si cagar alam, ketiga kamu...nah aku perasaan tampanya yang khas malah nggak pernah dapet." Ucap Eric dengan bibir cemberutnya.


"Siapa yang kamu bilang cagar alam?" Tanya Evan yang baru buka suara.


"Kamu lah...siapa lagi?!" Ucap Eric dengan sadisnya.


"Kamu itu! baru SD lulus, baru aja SMP...sudah bahas yang nggak nggak, awas kalau ntar ulangan tanya jawaban, nggak aku kasih." Ucap Evan dengan nada datarnya, dan seketika Eric pun terdiam.


"Iya...iya maaf...ayo ke kantin!" Ajak Eric pada semua sahabatnya.


"Aku traktir deh ntar..." Ucap Eric lagi, lalu semua pun berdiri dan turut ke kantin sekolah.


"Dugh." Lagi lagi Gandi tanpa sengaja tersenggol tubuh gendut siswi yang tempo hari waktu pembukaan mos juga menubruknya.


"Hei...kamu lagi si gendut...nggak usah sok kenal sok dekat deh...aku udah kenyang modus kayak gitu, awas lu dekat dekat lagi!" Ucap Gandi dengan nada kasarnya, dan siswi gendut itu pun hanya bisa menunduk sembari meminta maaf, namun maafnya hanya tertelan dan tidak tersampaikan.


"Nggak usah sekasar itu kali Gan...kamu nggak tahu aja siapa dia." Ucap Reza yang merasa perlu menegur sikap kasar sahabatnya agar tidak jadi kebiasaan.


"Akh...sudahlah...kalian nggak tahu aja...waktu mos pula dia suka nubruk nubruk, caper banget deh." Ucap Gandi lagi.


"Lu benci sama dia?" Tanya Eric yang ikut nimbrung ke obrolan.


"Iya lah...udah ketebak kan." Ucap balas Gandi yang asal asalan.


"Jangan benci Gan...ntar jadi cinta lu nyesel tahu!" Ucap Eric yang memperingatkan sahabatnya.


"Amit amit lah...yang cantik banyak!" Ucap balas Gandi dengan songongnya.


"Sekali lagi kalian bahas yang nggak bermutu...aku nggak ikutan nih." Ucap Evan tiba tiba, dan ke tiganya semua langsung terdiam.


Hingga waktu istirahat itu pun usai, dan pak guru memberitahukan bahwa siswi dari kelas sebelah yang di pindahkan ke kelas unggulan karena kecerdasanya yang lumayan.


Kelas unggulan adalah kelas dimana ke empatnya tempati,


"Anak anak...ini teman kalian yang baru...Vanya." Ucap pak guru yang tengah memperkenalkan siswi yang baru masuk ke dalam kelasnya.


Seketika mata Reza, Eric, apa lagi Gandi...terbelalak tak percaya atas apa yang di lihatnya, namun tidak termasuk Evan.