THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Masih cemburu



"Za...bisakah aku menemuinya sendirian?" Tanya Qiran pada kekasihnya itu, dan saat itu reza hanya terdiam sesaat, ia merasa tidak senang dengan ucapan Qiran, namun ia juga tak punya pilihan lain selain menyetujui keinginanya.


"Yaudah...aku tungguin disaini ya..." Ucap Reza yang langsung di angguki Qiran, lalu Qiran pun keluar dari dalam mobil menuju kearah cowok yang sudah berdiri mematung didepan mobilnya.


"Adriyan..." Sapa lembut Qiran pada cowok tersebut.


"Rani...aku menunggumu dari kemarin kemarin, dua hari kemarin kamu nggak bisa di hubungi, kamu juga nggak bales chat aku, kenapa? ada apa?" Tanya Iyan pada gadis di depanya, gadis yang sudah sejak beberapa tahun lalu dekat denganya.


"Iyan...maaf...aku udah mulai jaga hati pacar aku, jadi...maaf banget ya...aku nggak bisa blas chat kamu kalau nggak ada yang penting." Ucap Qiran yang seolah bagaikan petir menyambar di siang itu untuk iyan.


"Hah...apa!? pacar? maksud kamu? bukanya kamu hanya dekat denganku saja untuk waktu yang lama? kenapa bisa bisanya kamu ngilang dua hari saja, dan pulang pulang bawa pacar! siapa dia? dimana dia sekarang?" Ucap Adriyan yang langsung celingukan mencari keberadaan cowok yang Qirani akui sebagai pacarnya.


Hingga akhirnya Adriyan menemukan Reza di dalam mobilnya, segera Adriyan menghampirinya dan langsung menggedor gedor jendela kaca mobil Reza.


"Keluar lu brengsek!" Ucap Adriyan yang berulang kali, dengan kedua tangan yang masih menggedor, sesaat Qiran menghalanginya, namun ia kalah dengan kuatnya cowok di depanya itu.


Saat itu pun, Reza akhirnya keluar dari dalam mobilnya, seketika Adriyan meraih kerah baju Reza dan menarik kasar kearahnya, sampai membenturkan punggung Reza ke belakang, membentur mobil di belakanya.


"Lu ancam apaan Rani? brengsek! nggak mungkin Rani bisa terima lu kalau dia nggak dapat ancaman." Ucap Adriyan yang begitu kasar, dimana Qiran saat itu tengah gemetaran, sesekali Reza melihatnya, hingga ia hanya diam dan mengikuti kemauan Adriyan, agar Qiran tidak ketakutan lebih parah.


"Gue nggak sengaja nyium dia!" Ucap Reza dengan jujurnya, dengan pose yang masih sama, tubuh tertahan membentur body mobil.


"Bugh!" satu pukulan tinju mendarat di ujung bibir Reza, hingga membuatnya biru dan bahkan terlihat sedikit darah disana, saat itu Reza masih diam tidak membalasnya, ia tahu bagaimana perasaan Adriyan saat itu, saat tahu orang yang disuka menjadi pacar orang lain.


"Tidaaaakkk! jangan Iyan...Reza nggak salah...aku yang terjatuh saat itu, hingga menciumnya." Ucap Qiran yang memegangi satu lengan Iyan dengan kedua tanganya, namun saat itu pula Iyan mengibaskan dengan kasarnya, membuat Qiran jatuh tersungkur dan lututnya membentur permukaan kasar tanah.


Saat itu Reza langsung menghampiri Qiran dan membantunya untuk berdiri, namun saat Iyan akan memberikan satu tinjunya lagi untuk Reza, seseorang dengan pawakan tinggi besar dan berkukit hitam mengkilat datang, dan langsung meringkus Adriyan hingga Adriyan terdiam.


"Akh...sampai kapan papa anggep aku anak kecil terus! malu maluin deh di depan Qiran." Ucap Reza sembari membantu Qiran berdiri.


"Kamu nggak apa apa?" Tanya Reza pada gadis yang masih terlihat sedikit syock didepanya.


"Gue peringatin lu ya, lu boleh berlaku jahat sama gue, tapi tidak dengan Qiran, dia nggak salah apa apa." Ucap Reza yang lalu pergi memapah Qiran, mengajaknya untuk masuk menuju ke apartemenya.


"Cowok kayak lu yang hanya bisanya berlindung di ketiak bokapnya, mana bisa jagain kamu Rani...!" Teriak Adriyan saat keduanya tengah masuk kedalam.


"Cih...Rani! apaan itu!" Dengus kesal Reza yang entah apa sebabnya, ia merasa tak senang saat ada yang memanggil Qiran dengan nama khas lain.


"Tunggu!" Ucap Reza saat keduanya sampai di depan pintu apartemen Qiran, dengan tangan yang menekan kedua pundak Qiran hingga membentur pintu dan menghadap kearahnya.


"Ya?" Tanya Qiran yang tidak mengerti akan sikap Reza barusan.


"Kenapa dia bisa bisanya panggil kamu aneh gitu sih? Rani! apaan? jelas jelas nggak pantes." Ucap Reza dengan nada sedikit kesalnya.


"Sepertinya...hanya kamu yang manggil aku aneh, teman teman aku yang lain pun manggil aku nya Rani, dari kata Qi...Rani." Ucap Qiran yang seketika membuat Reza menatap mendelik kearahnya, karena ia tidak mendapat belaan dari kekasihnya sendiri.


"Akh sudah lah...ayo masuk cepat aku obatin kaki kamu tuh." Ucap Reza dengan nada kesalnya, dan Qiran hanya tersenyum melihat kecemburuan Reza yang tanpa sadar padanya.