
Sesampainya Evan dan semua sahabatnya di Negara asalnya, Evan segera menuju ke mobilnya, enam belas jam lebih yang di tempuhnya hanya ia gunakan untuk diam dan tanpa berkata, begitu pun juga dengan Gandi dan Reza, keduanya hanya bisa diam dan tanpa banyak bertanya, keduanya tahu benar bagaimana sakit hati yang Evan rasakan.
Evan pergi begitu saja, menuju kerumahnya, sedangkan Gandi, masih harus mengantar Keyra untuk pulang, dan Reza serta Qiran pun pulang langsung menuju ke rumahnya.
"Sayang...apa Evan benar baik baik saja?" Tanya Keyra pada Gandi, disaat perjalanan pulang menuju ke rumahnya.
"Aku yang bodoh Key, aku yang nyarikan akun sosial media Vanya, aku yang menyuruh Evan untuk menanyakan kabarnya lewat pesan pribadi, harusnya aku tahu! sudah bertahun tahun, nggak mungkin cewek se tenar Vanya masih sendirian, masih setia dengan Evan, bodoh!" Ucap Gandi sembari mengumpati dirinya sendiri dan memukul mukul beberapa kali setir mobil di depanya, hingga Gandi terdiam saat tangan Keyra menggenggam jemarinya.
"Nggak usah nyalahin diri sendiri Gand...kita masih punya waktu banyak kok untuk menemukan cinta, jadi..." Ucap Keyra yang tertahan karena Gandi sudah melirik tajam kearah nya.
"Apa? kenapa?" Tanya Keyra yang keheranan.
"Kamu bilang barusan apa? kita? hah...jadi kamu masih ada niatan cari yang lain gitu? nggak cukup hanya aku aja?" Ucap Gandi dengan sungutan kesalnya.
"Eh...enggak! maksud aku Evan, gandi...astaga...aku salah ngomong..." Ucap Keyra yang langsung membuat Gandi lega.
"Kirain!" Ucap Gandi lagi, hingga mobil yang ditumpangi keduanya sampi di rumah Keyra, subuh itu masih nampak sepi di rumah Keyra, namun sudah menyala lampu di bagian dapurnya.
"Sayang...aku nggak mampir ya...salam buat mama sama papa kamu." Ucap Gandi saat Keyra akan turun dari dalam mobilnya.
"Iya udah aku turun dulu ya Gand...makasih banyak loh udah di anterin." Ucap Keyra yang sudah membuka pintu mobilnya dan menurunkan satu kakinya, namun terhenti karena cekalan tangan Gandi yang menghentikanya.
"Sayang...maaf ya...jauh jauh aku pingin ngajak kamu liburan sebelum masuk sekolah lagi, eh...malah dapat capek, nggak jalan kemanapun, ntar aku ajak jalan deh...sekarang kamu cepat masuk dan istirahat, ntar sore aku jemput." Ucap Gandi sembari menyunggingkan senyum dan melepas cekalan tanganya, saat itu barulah Keyra turun dari dalam mobilnya, melihat Gandi yang masih menungguinya disana, sedangkan Keyra sudah berjalan mundur beberapa langkah.
"Apa ku bilang! kalau aku nggak nyosor duluan juga nggak bakalan peka tu anak!" Ucap dengus Gandi yang akan menghidupkan kembali mobilnya, namun ia terkaget saat mendapati Keyra datang lagi menuju kearahnya.
"Ada apa sayang? apa yang ketinggalan?" Tanya Gandi sembari membuka kaca mobilnya.
"Cup." Tiba tiba kecupan Keyra mendarat di sebelah pipi Gandi.
"Sekarang nggak ada yang ketinggalan." Ucap Keyra yang lalu benar benar pergi meninggalkan Gandi sendiri di dalam mobilnya.
"Gand...jangan senang senang, ingat Evan lagi bersedih!" Ucap dalam hati Gandi, yang seketika membuat senyumnya yang tadi merekah, kemudian terhenti.
Ditempat Evan, terlihat ia membanting tubuhnya keatas pembaringan, penat, suntuk dan benar benar sangat kesakitan ia rasakan kala itu.
"Brengsek!" Ucapnya berkali kali, dengan kedua mata yang ia tutup dengan lenganya, mungkin untuk seorang gadis, kala itu ia sudah menangis sejadi jadinya.
"Kenapa! kenapa bisa dia membalasku sekejam itu? apakah dahulu sikapku padanya sangat menyakitinya hingga ia begitu benci? selamat Vanya, kamu sukses mematahkan perasaan aku!" Ucap dalam hati Evan, lalu perlahan ia pun tertidur.
Di tempat Vanya, pagi itu Vanya sarapan bersama dengan Dion dan ayahnya.
"Kalian jadi jemput mama Vanya untuk pulang kan hari ini?" Tanya ayah Dion pada keduanya.
"Tentu ayah...kami pasti ke rumah sakit." Ucap Dion dengan senyum senangnya, Dion kala itu sudah bekerja sebagai pemilik salon untuk para artis, salon yang ia kelola lumayan banyak dan bisa di bilang sukses jadi pebisnis muda.
Hingga Ayah Dion pamit ke kantor, dan tinggalah Vanya dan Dion berdua saja.
"Gimana teman cowok kamu itu?" Tanya Dion yang masih merasa bersalah atas apa yang terjadi kemarin.
"Emb...nggak apa apa kok, mungkin kami nggak berjodoh Dion." Ucap Vanya menerangkan.
"Kenapa kamu nggak terus terang saja Van? aku nggak apa apa kok, nggak keberatan, cuma...jangan sampai ayah tahu itu saja." Ucap Dion dengan baiknya.
"Maksud kamu terus terang? kamu mau, aku bilang pada Evan bahwa aku akan jadi istri kamu kelak, dan kamu yang nggak suka perempuan, nggak mungkin akan nyentuh aku? jadi aku bisa bebas pacaran sama dia? begitu? kamu kira dia akan mau meskipun aku bilng begitu? saat itu pun aku sudah jadi istri kamu, nggak mungkin dia mau jadi orang ketiga di hubungan kita!" Ucap Vanya yang langsung mengucurkan air matanya, dimana saat itu ia sudah punya perjanjian dengan Dion, Dion yang hanya menyukai sesama jenis itu pun memanfaatkan kelemahan Vanya untuk menariknya agar mau menjadi istrinya kelak, dan akhirnya Vanya di perkenalkanpada keluarganya sebagai pacarnya dan keduanya sekalian di tunangkan, setelah lulus kuliah kelak baru Vanya dan Dion menikah.
Vanya hnya di manfaatkan Dion sebagai tameng untuk melindunginya dari sang ayah, ayah yang akan menjodohkanya jika ia tidak secepatnya menikah, karena memang Dion hanya suka sesama jenis saja, bukan lawan jenisnya, dan Vanya yang kala itu merangkak dari bawah hanya bisa mengiyakan tawaran Dion untuk mendapatkan pekerjaan, karena ia dan mamanya baru pindah ke Negara tersebut, apa lagi saat itu sang mama tengah sakit sakitan.
"Lalu aku harus bagaimana Van?" Tanya balik Dion, yang memang ia tidak ingin Vanya bersedih, ia sudah menganggap Vanya seperti adiknya sendiri.
"Mungkin nasibku harus begini Dion, sudahlah...tak usah kau hiraukan, aku hanya ingin mamaku sembuh, hanya dia hartaku satu satunya." Ucap Vanya yang masih sedih dengan sisa isakanya.