THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Syock



Seketika Gandi memalingkan tubuh beserta wajahnya, ia tidak siap untuk mengetahui apa yang akan ia ketahui nanti, ia pun memutuskan pergi dari sana, menyendiri di balkon atas, sembari membawa satu gelas wine ditangannya.


Sedangkan Evan, ia masih berbincang bincang dengan Dion dan Vanya saat Key datang ke arahnya.


"Selamat ya Van, aku datang mewakili papa." Ucap Key sembari menyalami Evan disana.


"Loh...Keyra..." ucap kaget Evan yang melihat gadis itu tiba tiba.


"Tadi Gand..." ucap Evan terhenti saat mencari sosok yang akan ia sebutkan ternyata tidak ada disana.


"La ini siapa Key?" ucap Evan pada gadis itu.


"Ini saudara sepupu aku, saudara jauh sih...dia datang sengaja aku ajak kesini, habisnya aku kira tidak ada yang aku kenal, eh...ini Vanya ya? wah...tambah cantik saja kamu...ini?" ucap Key dengan mulusnya, dan terhenti pada sosok lelaki yang Vanya gandeng.


"Hay Key, kenalin ini suami aku." Ucap Vanya dengan senyumannya, sampai...terlihat Dion berpamitan pergi begitu saja dari sana menuju kearah seseorang yang ia kenal, meninggalkan Vanya sendirian.


"Maaf pak saya kesana sebentar." Ucap Dion pada Evan, padahal Dion berumur lebih tua dari Evan, karena Evan lebih berkuasa, makanya ia disegani olehnya.


"Sayang aku tinggal sebentar." Ucap Dion dengan bisikannya di telinga Vanya. Lalu pergi begitu saja.


"Eh...silahkan ayo nikmati hidangannya." Ucap Evan yang mempersilakan Key dan keponakannya untuk menuju ke meja makanan, karena niatnya ia ingin berdua dengan Vanya.


"Yasudah...aku ke Qiran dan yang lain dulu kalau begitu." Ucap Key pada Evan, saat ia melihat Qiran, Reza dan Eric ada di ujung ruangan tengah ngobrol asyik, namun tidak terlihat Gandi disana, makanya Key mau ikut gabung mereka.


"Apa kau menyukai pestanya?" bisik Evan pada gadis di depannya, namun Vanya hanya menyunggingkan senyumannya. Disana cukup ramai orang yang menyapa Evan, sampai Evan memutuskan untuk menarik Vanya agar menjauh dari sana, Evan membawa Vanya ke balkon, dan Evan tidak tahu bahwa Gandi ada disana pula.


"Van...kenapa kamu membawaku kemari?" ucap Vanya saat melepas pegangan tangan Evan.


"Aku hanya ingin berdua denganmu, apa kau tidak peduli?" tanya Evan pada gadis yang kini menemaninya.


"Ssst...apa kau tidak sadar bahwa aku terlalu menyukaimu Vanya? hemmmz...apa harus aku mengadakan pesta pembukaan perusahaan baru sampai sebegini besarnya? jika bukan karenamu! aku hanya ingin kau datang...yang harusnya yang aku undang hanya kolega penting penting saja, namun karenamu, aku harus mengundang suamimu itu pula." Ucap Evan yang menekankan. Sampai....


"Uhuk, uhuk, uhuk." Suara Gandi tersedak oleh minumannya di ujung tempat.


"Maaf, maaf...aku pergi saja...aku tidak mendengar apapun...oke...aku pergi..." ucap Gandi yang lalu berjalan pergi meninggalkan keduanya.


Setelah Evan melihat Gandi pergi, iapun langsung menarik tubuh Vanya mendekat ke arahnya, Vanya pun yang memegangi gelas jus ditangannya hanya bisa mengikuti apa yang lelaki itu inginkan, tanpa menolaknya, Vanya tidak ingin jus yang dibawanya menumpahi jas mahal yang Evan kenakan.


"Kau tidak akan menciumku kan?" tanya Vanya saat menyadari wajah lelaki itu teramat dekat padanya.


"Jujur aku ingin sekali menciumu, tapi...aku khawatir riasanmu akan belepotan, jadi...bisakah dilain waktu kita hanya berdua saja?" tanya Evan dengan ciuman yang menghujani jenjang leher Vanya, dan gadis itu lagi lagi tidak bisa menolaknya.


"Van oke baiklah...lain waktu akan aku usahakan, jangan seperti ini." Ucap Vanya yang membuat Evan terjaga, ia menatap lekat wajah Vanya, lalu menyunggingkan senyumannya.


"Kamu kan yang punya acara, kalau ada yang mencari bagaimana?" tanya Vanya yang membuat Evan tersenyum lagi, senyumnya kian tampan saat itu.


"Tapi ini salah Van...kita..." ucap Vanya tertahan karena Evan sudah memgecupnya ringan.


"Kalau kamu banyak bicara...aku akan menghabiskan lipstik yang kamu pakai, agar semua tahu...kau itu milikku, mau?" tanya Evan dengan alis yang terangkat sebelah, dan Vanya hanya menggeleng sebagai jawabannya, Vanya pun tidak ambil pusing, mau Dion tahu atau tidak, lelaki itu memang membebaskan dia untuk mencintai, atau sekedar pelepas dahaga. Jujur Dion tidak mengekang Vanya, karena Dion hanya ingin status dari gadis itu, bukan tubuh atau rasa cintanya.


Di tempat Gandi, ia melengos saat menatap Keyra dengan lelaki disampingnya, terlihat akrab dan tawa sesekali menghiasi.


"Gand...sini..." ucap Reza pada temannya itu. Lalu Gandi pun mengeluarkan ponselnya, mengguncang guncangkanya kearah Reza, tanda Reza harus melihatnya.


"Lu mau gue CLBK sama pacar orang?" ucap pesan singkat Gandi yang ia tujukan pada Reza. Seketika Reza pun tertawa, ia lalu mengirim pesan balasan pada lelaki sukses namun jomblo itu.


"Heh...dia masih jomblo! itu sepupunya." Ucap pesan balasan yang Reza kirimkan, sontak membuat Gandi mengingat ingat kembali, karena ia pun sedikit familiar dengan wajah lelaki itu.


"Akh...dia kan wakil direktur di perusahaan anak cabang, masak iya selera Key menurun!" ucap Gandi dalam hatinya, lalu dengan Cool ia datang menuju kearah Reza dan teman temannya.


"Loh...pak Gandi?" sapa teman yang Key ajak. Namun Gandi hanya tersenyum untuk menanggapinya.


"Siapa ya?" tanya Gandi dengan songngnya. Sembari mempertahankan ke coolanya.


"Saya asisten manager di perusahaan anak cabang pak Gandi." Ucap si lelaki tersebut.


"Oh...begitu, saya tidak tahu siapa siapa yang berada dibawah manager, yang saya ingat paling bawah hanya manager, itu pun kadang ingat kadang tidak." Ucap Gandi yang sudah membuat Key muak mendengarnya, sengaja saat itu Gandi ingin menarik perhatian gadis itu, Gandi merasa menang saat melihat wajah Key mulai sebal disana.


Dan Gandi mengalihkan pandangannya saat melihat Evan dan Vanya yang beriringan turun menuruni anak tangga.


Bayangannya menerawang tadi saat ia masih diatas balkon, samar samar ia mendengar Evan tengah menggoda Vanya.


"Sejak kapan lelaki itu jadi perayu? heeemmmz..." ucap Gandi yang turut senang disana, Gandi belum tahu bahwa Vanya sudah bersuami. Sampai Evan dan Vanya mendekat kearah semuanya, di susul Dion yang juga mendekat ke arah Vanya.


"Sayang...aku mencarimu dari tadi," ucap Dion saat melihat Vanya ada disana.


"Akh...aku habis mencari udara segar..." ucap Vanya yang membuat Gandi terbengong disana.


"Kok sayang?" celetuk Gandi seketika.


"Iya...kenalin, ini suami aku!" ucap Vanya yang langsung membuat Gandi tersentak karena kagetnya.


"Uhuk!" lagi lagi Gandi tersedak minumannya. Namun saat itu terlihat tangan jenjang nan mulus tengah mengelap bibir Gandi dengan tisu yang ia bawa.


"Gila Evan!" ucap Gandi dalam hatinya.


"Terimakasih..." ucap Gandi yang lalu mengambil tisu ditangan gadis itu, Gandi berniat akan mengelapnya sendiri, namun gadis itu menahannya, sampai Gandi menoleh, dan cup...kecupan itu mendarat di pipi Gandi, hingga bekas merah menyala lipstik itu tertinggal di pipinya.