
"Bby...kamu tahu anak kita punya pacar? apa dia pernah bilang mau kencan?" Tanya Ifa pada sang suami.
"Nggak pernah, dia diem aja sayang...keluar rumah kalau nggak sama teman temanya ya kita ajak kan? tapi...kemarin ngeyel berangkat sendiri kan ke rumah almarhum ibu." Ucap Aditya yang menerangkan.
"Tahu nggak bby...tadi aku telephone rumah sana, kata bibi...Reza bawa pacarnya pulang, terus dia nganter pacarnya katanya tadi, apa nggak apa apa ya bby?" Ucap Ifa yang sedikit khawatir.
"Dia udah gede sayang, nggak apa lah...selama pacaranya positif, toh lagi masa puber kan dia." Ucap Aditya lagi yang mencoba meyakinkan sang istri.
"Dulu kamu juga gitu bby?" Tanya Ifa tiba tiba pada sang suami.
"Jelas jelas kamu yang mampu luluhin hati aku sayang...masih aja di tanya? nggak percaya? mau belah dadaku? yuk di kamar aja." Ucap Aditya yang seketika mendapat tinjuan ringan dari tangan Ifa.
"Ngebet banget ya pingin punya anak lagi bby?" Tanya Ifa yang sungguh sungguh.
"Nggak usah nggak apa apa sayang, aku hanya bercanda, pinggulmu sempit untuk melahirkan normal...daripada resikonya yang enggak enggak, mending nggak usah, aku mau kamu temani sampai tua." Ucap Aditya yang lalu mendekap tubuh sang istri disana.
Di tempat Gandi dan Keyra, keduanya nampka tengah duduk di salah satu sudut cafe, cafe yang terletak di pusat kota, keduanya memilih cafe tersebut karena pemandanganya indah dari sana.
Terdapat satu sofa yang muat untuk duduk dua orang saja, dan satu meja di depanya, semuanya menghadap keluar jendela kaca transparan, sehingga pemandangan kota malam itu terlihat sangat jelas, keduanya duduk berjajar sambil menikmati pesanan makanan yang belum datang, sembari menikmati alunan musik dari band ternama ibu kota, yang mendayu mengalun kesukaan anak muda.
Masih sedikit kikuk untuk keduanya ngobrol
seperti biasa.
"Emb...mau foto?" Tanya Keyra yang membuka percakapan.
"Boleh...padahal aku udah punya foto kamu loh..." Ucap Gandi sembari membuka layar ponselnya dan memperlihatkan foto Keyra tengah tertidur di atas bangku meja belajarnya.
"Akh...kenapa pas seperti ini sih kamu fotonya, kan malu..." Ucap Keyra dengan wajah imutnya.
"Kenapa harus malu? kan imut sayang..." Ucap Gandi lagi, sampai Keyra melihat dua fotonya yang tidak asing, dan tidak gendut.
"Ini...foto aku pas dimobil? kok kamu punya?" Tanya Keyra lagi sembari menunjukan fotonya pada Gandi.
"Oh..itu aku nyuri sih..." Ucap Gandi lagi dengan senyum kecutnya.
"Oh...jadi kamu pura pura telephone waktu itu ya? akh...kenapa nggak bilang aja sih." Ucap Keyra dengan malunya.
"Hemz...kan aku yang malu kalau sampai minta." Ucap Gandi lagi, lalu keduanya mengambil foto berdua beberapa kali.
"Imutnya..." Ucap Gandi saat menatap foto fotonya dengan Keyra.
"Emb...aku mau unggah ke sosmed ya?" Ucap Gandi pada kekasihnya itu, dan seketika Keyra menatap kearahnya.
"Kamu yakin? kamu nggak takut para penggemar kamu patah hati?" Tanya Keyra pada Gandi.
"Lalu...masak ia aku harus sembunyiin pacar aku sih?" Ucap jawaban Gandi.
"Emb...jangan deh...ntar aja ya sayang...jangan sekarang." Ucap Keyra yang mendapat anggukan berat dari Gandi.
Hingga hidangan datang dan keduanya menikmatinya sampai habis, lalu Gandi mengantar Keyra untuk pulang, dan Gandi pun kembali ke rumah, dengan siulan siulan riangnya Gandi melenggang akan masuk kedalam rumah, tak lupa ia menyapa mama papanya yang masih asyik bersantai di teras rumahnya.
"Mama...papa...Gandi sayang kalian..." Ucap Gandi sembari memeluk mama papanya, dan Nindi serta sang suami menatap heran karena tingkah sang putera yang tidak biasa.
"Iya dong...Gandi gitu loh..." Ucap Gandi yang lalu akan masuk kedalam rumahnya.
"Sayang besok sore pacarnya ajak dong main kesini, kita makan malam bersama, sama temen temenya juga ya...udah lama kan nggak ngumpul bareng." Ucap Nindi sebelum Gandi benar benar masuk kedalam rumah, dan Gandi hanya mengiyakanya saja.
"Akh...anak itu udah ngerti pacaran ya ternyata, kamu tahu sayang siapa pacarnya?" Tanya Arga pada istrinya.
"Siapa lagi kalau bukan anak teman baik kamu itu, yang mau kalian jodohin itu loh..." Ucap Nindi dengan senyumanya.
"Ouh kabar baik dong...perlu aku kasih tahu kan Abiyasa nih." Ucap Arga dengan senangnya, namun...Abiyasa terlanjut terlebih dahulu menghubunginya.
"Halo Yas ada apa?" Ucap Arga setelah mengangkat panggilanya.
"Ga...mereka pacaran Ga..." Ucap Abiyasa dengan senangnya, dan terlihat Arga pun sama.
"Peluang besanan dong..." Ucap Arga lagi dengan tawanya.
"Ya semoga saja, masih jauh itu..." Ucap Abiyasa yang kemudian melanjutkan perbincangan yang lain dan menyudahi panggilanya.
"Perasaan perjodohan di film film gitu kan sulit ya sayang, kenapa Gandi dan Keyra gampang banget ya?!" Ucap Arga sebelum mengajak sang istri untuk masuk kedalam.
Terlihat Gandi pun memberi kabar pada teman temanya semua kalau besok kumpul di rumahnya, dan terakhir Gandi mencoba menghubungi Reza.
"Halo Za...besok sore ngumpul di rumah ya...kamu udah balik kan?" Tanya Gandi pada sahabat samping rumahnya itu.
"Iya...besok siang baliknya Gand, pasti lah aku akan ikutan." Ucap Reza pada sahabatnya.
"Inget lu...ajak tuh pacarnya, katanya punya pacar, hayo bohong ya?" Tanya Gandi dengan candanya.
"Sayang, besok aku mau ngumpul sama temen temen di rumahnya, mau ikut gabung nggak?" Tanya Reza pada sang kekasih yang ada disisinya, namun panggilan telephonenya pun masih berjalan, hingga Gandi pun turut mendengarnya, suara gadis yang mengatakan, "iya sayang...aku ikut."
Karena memang saat itu Qiran ada di samping Reza.
"Za lu beneran sama cewek sekarang?" Ucap Gandi dengan bibir sedikit gemetar karena tidak percaya.
"Lu denger sendiri kan Gand, lagian aku nggak pernah bohong kok, iya besok dia mau aku ajak." Ucap Reza yang menerangkan.
"Itu cewek beneran yang lu pacarin?" Tanya Gandi lagi yang benar benar masih penasaran.
"Tentu cewek beneran lah Gand...udah akh aku mau tidur." Ucap Reza lagi.
"Loh...kalian tinggal bareng?" Ucap tanya Gandi yang makin syock.
"Iya Gand...udah akh...ngobrol mulu dari tadi, sampai ketemu besok deh Gand." Ucap Reza yang langsung mematikan panggilanya.
"Astaga...aku ngutarain cinta sama Key aja nggak sampai gemeteran kayak gini, tapi ngobrol sama Reza barusan kenapa jadi tremor begini ni badan?" Ucap Gandi yang lalu masuk kedalam selimutnya dan mematikan lampu kamarnya.
"Astaga gelap sekali malam ini." Ucapnya yang lalu menyalan kembali lampu kamarnya.
"Akh...aku nggak bisa tidur kalau terang, akh...lagian kenapa tuh anak sampai bermalam bersama sih? gila bener bener gila!" Gerutu Gandi yang langsung terduduk dari tiduranya, ia gelisah saat itu, dan menatap jam dinding kamarnya yang ternyata sudah pukul sebelas malam lewat.
Hingga ia mau tidak mau memejamkan matanya sampai tertidur.