
Gandi hanya menatap papa Key dengan tatapan penuh harap, andai ia bisa terus bersama Key untuk waktu yang lama, andai Key bisa mengerti akan semuanya, namun semua sudah tidak ada gunanya lagi, Gandi hanya bisa menatap pesawat yang suadah lepas landas itu dengan perasaan hancur dan remuk berkeping keping. kepergian Keyra membuat Gandi menyadari, betapa menyenangkannya hari hari yang telah keduanya lewati bersama, hari hari singkat yang tanpa keduanya sadari sirna begitu saja, namun Gandi yakin...pasti Key suatu hari bisa memaafkan semua kesalahannya dan semua ketidak mampuannya menjadi seorang kekasih.
"Baiklah om...Gandi bahagia meski Key tidak mengetahui keinginan Gandi, asalkan om sudah tahu niat tulus Gandi, Gandi bisa senang dan melepas Key untuk waktu yang sangat lama." Ucap Gandi lagi lagi dengan senyuman yang ia paksakan.
"Mau pulang sama sama Gand?" tanya Abiyasa pada putera sahabatnya itu.
"Tidak om, terimakasih...Gandi masih mau mampir ke suatu tempat..." ucap Gandi yang langsung mendapat anggukan dari papa mantan kekasihnya.
Gandi masih terdiam mematung di tempatnya, sesaat setelah ia mengantar kepergian Abiyasa. Ia kembali terduduk di kursinya, sendirian. Menikmati perasaan yang tercabik cabik ia rasakan. Sampai...
"Kalau kangen ya tinggal di samperin aja Gand...ngenes amat ya..." ucap seseorang dari samping Gandi dan lalu duduk di sebelahnya.
"Papa! kenapa papa bisa tahu Gandi ada disini sih?" tanya Gandi pada papanya, dan Arga hanya menepuk nepuk pundak puteranya beberapa kali.
"Gand, Gand...roman picisan kayak gini kamu selami terlalu dalam...kalau nggak ada orang ketiga itu mudah menurut papa...kamu lupa apa kalau punya papa yang mantan playboy ini? gampang...kalau kamu kangen...samperin...kalau memang kamu bisa menahannya dan mendukungnya...pantaskan dirimu untuknya...jangan sampai kamu kalah hebat darinya kelak...pesawat juga sudah ada...mau pakai dadakan pun bisa...hemmmz...kenapa sampai ngenes kayak begini? papa terus yang kena omelan mama kamu, tahu tidak?" ucap Arga dengan jujurnya, sedangkan Gandi hanya bisa mencerna beberapa kata saja ocehan papanya itu.
"Maksud papa kalau tidak ada orang ketiga itu mudahnya bagaimana?" tanya Gandi yang masih tidak mengerti, ia terlalu dini untuk bisa mengartikan semua kata kata papanya.
"Heh anak bodoh! ya jelas mudah kalau tidak ada orang ketiga, kalau kamu kangen...tinggal samperin dah tuh...nah kalau udah ada orang ke tiga...mau nyamperin gimana, kena gebuk orang iya Gand...pacar orang kamu samperin, gimana? sudah mengerti?" ucap Arga yang menjabarkan secara detail untuk anaknya.
"Oke pah, Gandi mengerti...terus...maksudnya kalau kangen tinggal kesana? kan jauh pah...sebelas jam perjalanan lebih...bagaimana itu?" tanya Gandi yang menyelidik.
"Nak katanya kamu kangen...jangankan hanya sebelas jam saja Gand...seribu jam pun kalau papa yang kangen mama kamu...papa pasti lewatin tuh...jangankan hanya jam...bulan pun papa lewati." Ucap jujur Arga pada puteranya. Dan terlihat Gandi hanya manggut manggut saja.
"Baiklah pah...Gandi yakin...Key pun tidak akan pernah bisa melupakan Gandi, jadi...Gandi pun percaya pada Key pah...Gandi akan berusaha memantaskan diri menunggu Key kembali nanti." Ucap Gandi dengan mantapnya. Lalu ia pun segera beranjak dari duduknya dan akan pergi meninggalkan papanya disana. Namun Arga dengan cepat menarik jaket yang puteranya itu kenakan dari belakang.
"Mau kemana kamu? hemmmz...jauh jauh papa datang kesini untuk membawamu pulang, se enaknya saja kamu mau pergi! nggak tahu apa mamamu sudah mencak mencak dari tadi, papa mulu yang kena semprot, pulang!" ucap Arga dengan seriyusnya, dan Gandi hanya patuh dan mengikutinya saja.
"Nggak usah mikirin mobil...biar orang papa nanti yang ngambil, pokoknya kamu harus pulang dengan papa." Ucap Arga dengan nada seriusnya dan tidak bisa di tawar lagi. Hingga Gandi hanya bisa mengekori papanya dan patuh masuk kedalam mobilnya.
Satu tahun pun berlalu dengan cepat. Ditempat lain, Yura dan Satria tengah mengadakan pesta makan malam, disana terlihat semua teman temannya, mulai dari Arga, Nindi, hingga Ifa dan Aditya, serta tidak lupa anak anak mereka, namun tidak ada Rendi dan Anin disana, hanya ada Evan yang mewakilinya, itupun yang memaksanya untuk datang jelas teman temannya.
Gandi dan Evan hanya duduk di sofa tepi taman dan kolam renang malam itu, keduanya nampak murung, sudah pasti karena galau. Evan merana karena merasa ia di permainkan oleh Vannya, perasaan itu masih sangat menyakitkan, saat ia ingat. Namun ia tetap menjadi yang terbaik dan tidak pernah menyerah pada kuliahnya. Sedangkan Gandi...jelas ia sangat merindukan Keyra, namun ia tidak bisa bilang pada siapa siapa, karena memang ia tidak pernah memberi tahu pada semua nya masalah apa yang membuatnya putus dengan Key satu tahun lalu.
Keduanya masih duduk disana dengan kepala yang menyandar pada sofa, sedangkan Eric sibuk dengan berenangnya, dan Reza yang masih setia bersama dengan Qirani.
"Bro...kalian nggak pingin ikut renang? sini..." ucap Eric yang baru saja menyembul dari dalam air dan berhenti tepat di tepian kolam, di depan Evan dan Gandi.
"Nggak ah Ric, lu aja kalau mau sakit, nggak usah ngajak ngajak!" gerutu Gandi yang sudah mewakili Evan pula. Dan Eric hanya mendengus sembari terus melanjutkan renangnya.
"Eh Ric, sini deh lu." Ucap Gandi yang membuat Eric berenang kembali ke arahnya.
"Apaan Gand?" tanya Eric yang penasaran.
"Eh lu tahu nggak? kenapa nyokap bokap lu pada ngadain makan malam kayak gini?" tanya Gandi yang memang mendapat bocoran dari kedua orang tuanya.
"Apa lagi sih Gand...mama papa aku kangen sama teman temannya lah...!" ucap Eric yang memang tidak tahu ada apa sebenarnya, sedangkan aslinya Eric pun curiga dengan acara malam itu, namun ia merasa biasa saja, ia pikir normal jika kedua orang tuanya mengadakan makan malam seperti itu.
"Nyokap bokap lu mau jodohin lu kali." Ucap Gandi yang asala asalan, namun kenyataannya memang demikian informasi yang Gandi dengar dari kedua orang tuanya.
"Gila lu Gand, gue baru saja kuliah satu tahun...heh...masih lama kali lulusnya, ngapain juga mereka bahas perjodohan, trus...gue mau di jodohin sama siapa? sama lu? sama Evan? atau...sama si Reza? nggak mungkin lah...yang mereka undang makan malam kan hanya teman temanya saja Gand...!" ucap Eric yang mencoba menolak apa yang Gandi ucapkan.
"Akh...terserah lu aja deh Ric, mau bilang apa juga, ingat ingat tuh kata kata gue." Ucap Gandi dengan seriusnya. Namun Eric hanya acuh tak acuh mendengarnya.