
Nindi masih berusaha mengatur nafasnya, dan mencoba mengelus perut besarnya agar bayi didalam kandunganya tenang, Nindi mengira bahwa tusukan yang sering muncul itu di karenakan anaknya yang bergerak di dalam sana, namun kenyataanya, semakin Nindi rasakan semakin sering saja, hingga ia benar benar meringis dan bahkan di sertai sedikit erangan karena kesakitan.
"Nyonya...nyonya kenapa? apa sudah waktunya melahirkan?" Ucap bibi yang kelihatan sangat kebingungan, dimana saat itu ada dua mobil di garasi rumah tuanya, namun pak supir tengah mengantar tuanya untuk pergi ke kantor, sedangkan bibi tidak bisa mengendarai mobil.
"Apa yang harus bibi lakukan nyonya? tahan dulu nyonya...tahan...!" Ucap bibi yang sudah ikut gemetaran.
"Telephone suami saya bi..." Ucap Nindi dengan lirihnya, dan ia benar benar merasakan nyeri menusuk itu hilang timbul makin sering saja.
Lalu dengan segera, bibi pun berlari menuju ke arah telephone rumah berada, dan ia segera mencoba menghubungi tuanya.
Namun...hingga beberapa saat telephone bibi juga tidak di angkat, hingga sudah beberapa kali, namun tidak ada jawaban, dan sudah hampir tujuh kali panggilan, hingga bibi tersadar saat suara Nindi yang melengking tengah di dengarnya, lalu bibi pun menutup panggilanya.
"Nyonya...tuan tidak mengangkatnya...gimana ini nyonya?" Tanya bibi pada Nindi.
"Mungkin dia sedang rapat bi...sudahlah...bibi lari ke rumah kakak ipar ya...cepat...aku nggak kuat bi...cepat ya..." Ucap Nindi yang sudah basah dengan keringat yang mengucur di keningnya, namun yang ia rasakan dingin di sekujur tubuhnya meski berkeringat.
Bibi berlari secepatnya hingga sampai di depan pintu utama rumah Aditya, bibi segera mengetuk pintunya, dan bahkan terkesan menggedornya, sembari berteriak sesekali.
"Iya bibi ada apa? Reza baru tidur bibi...kok teriak teriak sih?" Ucap tanya Ifa yang baru saja membuka pintu utama rumahnya.
"Itu nyonya...nyonya Nindi sepertinya sedang mau lahiran...tuan tidak di rumah dan tuan tidak bisa di hubungi...gimana nyonya?" Ucap bibi dengan tubuh genetaran dan suara yang tersengal karena ngos ngosan dan bercampur kelelahan.
"Baiklah...bibi tenang...sekarang...bibi gendong Reza...aku mau buatin susu dulu buat Reza, lalu habis itu...aku akan nyetir antar Nindi ke Rumah sakit terdekat, oke? tenang...jangan panik...semua pasti akan baik baik saja." Ucap Ifa dengan tenangnya, karena satu satunya yang bisa menyetir mobil dan mengantarkan Nindi adalah dia, sedangkan suaminya pun juga sedang bekerja dan tidak di rumah pula.
Hingga beberapa saat, Ifa telah usai dengan susu formula Reza, dan bibi juga sudah memggendong Reza di pelukanya.
"Sekarang mari kita antarkan Nindi ke Rumah sakit bi..." Ucap Ifa sembari bergegas menuju ke Rumah Arga, dan segera berlari masuk sembari melihat keadaan Nindi yang benar benar sudah payah sekali.
"Ayo Nindi, kakak antar ke Rumah sakit terdekat...jangan mikir macam macam, pikirkan semua akan baik baik saja oke?" Ucap Ifa sembari membantu Nindi berjalan menuju ke arah depan rumah, dimana sebelumnya Ifa sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu utama rumah Arga pas tepat.
Setelah semuanya masuk, barulah Ifa melajukan mobil yang di kendarai ke arah Rumah sakit terdekat.
"Kak...sakit...aku nggak kuat lagi kak...ini sangat sakit..." Ucap erangan Nindi yang begitu memilukan, namun Ifa dan bibi hanya diam tidak bisa menyahut kata kata lagi.
Dengan segera bibi pun melakukan apa yang Ifa perintakhan, dan benar saja, panggilanya langsung di angkat oleh Aditya.
"Halo sayang...ada apa? kok tumben...apa Reza nakal?" Ucap Aditya pada panggilanya yang mengira itu adalah sang istri yang tengah menghubunginya.
"Tuan...ini bibi...bibi yang bekerja di rumah tuan Arga tuan...bengini...sekarang nyonya Ifa sedang mengantarkan nyonya Nindi ke rumah sakit, sepertinya nyonya mau melahirkan, tapi tuan Arga tidak bisa di hubungi...tolong tuan..." Ucap Bibi yang terputus karena Aditya sudah mengerti dan langsung menyahut perkataan sang bibi.
"Iya bi aku ngerti...aku akan ke kantor Arga sekarang...oh ya...kalian mau ke Rumah sakit mana?" Tanya Aditya pada bibi.
"Nyonya kita ke Rumah sakit mana? tuan Aditya tanya." Ucap bibi sembari menoleh ke arah Ifa yang berada di sampingnya.
"Bilang saja ke Rumah sakit dekat rumah." Ucap Ifa pada bibi, dan segera bibi pun memberi kabar pada Aditya yang masih menunggu kabarnya, lalu terdengar telephone di matikan.
"Akh...kak...aku nggak kuat kak...sakit..." Ucap Nindi sembari mengerang.
Dan di tempat Arga, benar saja, ia sedang di ruangan rapatnya, nampak begitu serius dengan apa yang di sampaikanya, hingga terlihat Aditya yang tengah mendobrak pintu ruanganya dan di susul security yang berlari di belakangnya, karena Aditya tidak bisa di hentikan dan memerobos masuk ke dalam begitu saja.
"Hah....Ga...istrimu...sekarang mau melahirkan...dia berada di rumah sakit terdekat dengan rumah..." Ucap Aditya dengan nafas ngos ngosan dan masih mengatur sesekali nafasnya yang tidak beraturan.
"Apa!? oke kak makasih banyak baiklah kak...aku segera kesana!" Ucap Arga sembari melempar berkas di tanganya dan segera berlari keluar ruang rapat di kantornya dan meninggalkan Aditya yang masih berada disana.
"Akh...aku lelah...bukan istriku yang mau lahiran, kenapa aku yang ikut ngos ngosan tak karuan!" Dengus Aditya dengan gerutunya, lalu ia duduk di salah satu kursi yang ada disana, dan segera memutar kursinya, nampak beberapa orang yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin dan terasa menghujam.
"Oh...oke...kita baik baik saja meski bukan rekan kerja." Ucap Aditya kemudian bangkit dari duduknya dan segera menyusul Arga, sebenarnya ia hanya berniat untuk beristirahat sejenak, namun situasinya sangat canggung tadi, akhirnya Aditya pun mau tidak mau ikut menyusul sang adik berada.
Di depan UGD Rumah sakit yang Ifa tuju, nampak dua suster dengan satu dokter tengah membawa brankar menuju ke arah mobil Ifa yang terparkir di depan UGD tersebut, segera semuanya membantu Nindi untuk naik di atasnya, dan nampak semua pakaian di bagian bawah Nindi sudah basah, tanda ketubanya sudah merembes keluar.
Dan dengan cepat penanganan Nindi di laksanakan, akhirnya Nindi pun masuk ke ruang bersalin, dimana dokter melihat sudah ada delapan pembukaan, tinggal sedikit lagi bayi dalam kandungan Nindi keluar.
"Akh...sial...kenapa aku heningkan ponsel aku, bodoh Arga kamu bodoh...dasar bodoh..." Ucap Arga sembari melihat layar ponselnya, sudah ada belasan panggilan disana, namun saat ia menelephone balik sang istri, tidak dapat tersambung.