
"Aku balik dulu Van...kamu cepet pulih ya..." Ucap Evan sembari beranjak dari duduknya, dan saat itu pula Vanya ingin sekali menarik tangan Evan agar tidak pergi malam itu, namun apa boleh buat, Evan terlanjur berjalan menjauh, dan pergi.
Hingga hari berganti, semua rombongan sudah pulang ke rumah masing masing, tampak Evan satu mobil dengan Gandi, hari itu Gandi sengaja ingin pulang ke rumah kakek dan omanya.
"Van...Vanya gimana kemarin? kenapa kamu ikutan panik juga kemarin?" Tanya Gandi yang penasaran, karena tidak seperti biasanya Evan bersikap demikian, yang Gandi tahu, Evan selalu dingin dan tidak pernah menanggapi Vanya jika ada di dekatnya.
"Nggak apa Gan...udah jangan bahas lagi, nggak enak kalau papa tahu." Ucap Evan dengan nada yang sama, dan tanpa menoleh ke arah Gandi, hingga beberapa saat, mobil yang di tumpangi keduanya sampailah ke tempat tujuan.
Keduanya pun lalu turun dari dalam mobil, berjalan perlahan menuju ke pintu utama kediaman Wijaya.
"Akh...hampir dua minggu nggak main ke rumah kakek, rasanya beda banget..." Ucap Gandi dengan tas yang ada di punggungnya.
"Hemmmz..." Sahut Evan, hanya dengan dehemananya saja.
"Pah...mah..." Sapa Evan saat mendapati mama dan papa nya yang berada di ruang tengah.
"Iya sayang...udah pulang..." Sahut Anin pada sapaan sang putera.
"Oma...kakek..." Ucap sapa Gandi pula pada Anin dan Rendi, dan seketika itu pula keduanya terkejut dengan medatangan sang cucu.
"Loh...cucu oma yang ganteng juga ikut kesini...? nggak kasih kabar sih, oma kan bisa masakin makanan kesukaan kamu sayang..." Ucap Anin sembari memeluk sang cucu.
"Nggak perlu oma...Gandi main biasalah...minta uang saku ajah..." Ucap Gandi dengan cekikiknya.
"Keterlaluan emang si Nindi sama Arga ini ya...anaknya sampai minta uang saku sama omanya, biar ntar oma marahin deh mama sama papa kamu." Ucap Anin lagi yang membuat Gandi sedikit membelalakan matanya karena kaget, dimana ia kira akan kena omelan omanya, namun malah sebaliknya.
"Akh...oma...sebenarnya uang saku dari papa mama, Gandi tampung, buat beli ponsel baru, begitu oma..." Ucap Gandi dengan manjanya.
"Udah sana mandi dulu...trus makan, baru ntar biar di anter pulang kakek." Ucap Anin yang langsung di angguki Gandi seketika, lalu berjalan ke arah kamar Evan.
"Van...pinjem bajunya dong...bajuku kotor semua nih di tas." Ucap Gandi saat ia sudah masuk kedalam kamar Evan, kamar yang selalu terlihat rapi dan bersih tentunya.
"Tuh...ambil sendiri di almari pakaian, jangan bangunin aku ya...aku capek banget mau tidur, kalau mama tanya, bilangin...aku udah makan." Ucap Evan yang di sambut satu jempol Gandi yang mengacung, tanda ia mengerti.
"Iya...nanti kalau oma tanya, aku bilangin, Evan udah makan sama pacarnya." Ucap canda Gandi yang terlihat menggoda Evan.
"Coba aja kalau berani!" Ucap Evan dengan satu bantal yang ia ambil dengan cepat dan siap menimpuk keponakanya itu, namun Gandi langsung berlari sembunyi di balik pintu kamar mandi, dan menutupnya rapat rapat.
"Dasar Evan, nggak mau ngakuin kalau dia suka..." Ucap Gandi dengan gerutunya, lalu ia pun mulai mandi disana.
Hingga beberapa saat sudah, Gandi sudah usai dengan mandinya, juga sudah dengan makanya pula.
"Kakek...Gandi udan siap nih...ayo anterin pulang..." Ucap Gandi dengan rengekanya pada Rendi.
"Kakek...masalahnya tuh...dua hari Gandi nggak ketemu mama sama papa, nggak kasih kabar juga kakek...
karena ponsel gandi jatoh ke laut...ntar keburu papa nyuruh orang datang loh kek...akh nggak banget, Gandi nggak suka tahu." Ucap Gandi yang bisa di terima oleh Rendi.
"Yaudah ayo...kakek anterin." Ucap Rendi, dan kemudian Anin pun ikut mengantar kepergian keduanya dari depan pintu.
"Oma...jangan lupa transfer ya..." Ucap canda Gandi pada omanya, setelah ia sudah berada di dalam mobil.
"Dasar anak nakal!" Ucap Anin dengan lambaian tanganya dan senyum yang terkembang di bibirnya, Anin tahu perilaku sang cucu, ia bukan tipe yang suka menghambur hamburkan uang, dan dia percaya kalau Gandi selalu jujur.
Hingga setengah jam berlalu, dan terlihat mobil mewah di depan rumah Arga.
"Papamu ada tamu Gan sepertinya." Ucap Rendi pada sang cucu.
"Nggak tahu kakek siapa tamunya." Ucap Gandi sembari turun dari dalam mobil beserta Rendi, kemudian keduanya pun berjalan masuk kedalam rumah.
"Keyra...!" Ucap Gandi dengan terkejutnya, saat disana ia melihat Keyra dengan papanya tengah ngobrol di ruangtamu beserta mama papanya.
"Sayang...kebiasaan nih kamu suka ngerepotin kakek ya...!" Ucap Nindi sembari menarik tangan Gandi agar ikut duduk di sana.
"Pah...maaf ya...Gandi ngerepotin...kenapa nggak telephone Arga saja, biar Arga jemput tadi pah..." Ucap Sapa Arga pada mertuanya.
"Hemmmz...nggak apa apa ga...yaudah...aku cuma nganterin Gandi aja, masih ada kerjaan juga, aku pulang dulu, kapan kapan main lagi." Ucap Rendi sembari akan beranjak pergi.
"Papa nggak makan malam dulu sama sama?" Ucap Nindi sembari mengantar papanya, dan disusul Arga yang mengapit pinggang sang istri.
"Nggak Nindi...tadi papa sudah makan, ya udah...sana temui tamunya lagi." Ucap Rendi yang di sambut anggukan dan senyum oleh Nindi dan Arga.
"Papa hati hati di jalan ya pah...salam buat mama...makasih papah..." Ucap Nindi sembari melambaikan tangan mengantar kepergian papanya, lalu Nindi dan Arga masuk lagi kedalam setelah mobil yang di kendarai papanya sudah pergi jauh dan tak terlihat lagi.
"Gandi...om dan Key datang karena kamu sudah nolongin Key, Key sudah cerita dengan detailnya, dan om sangat berterimakasih akan hal itu, maaf jika malah membuat kamu kehilangan ponsel kamu, nih...buat Gandi, tolong di terima ya...kalau nggak...ntar om dan Key nggak enak hati jadinya." Ucap papa Keyra sembari memberika sebuah kotak ponsel baru yang memang sedang di incar Gandi.
"Nggak usah om...Gandi minta sama papa juga pasti di belikan yang baru kok...beneran deh om nggak apa apa kok, Keyra kan teman Gandi om, sudah biasa lah kalau saling tolong, ya kan Key?" Ucap Gandi yang seketika membuat Keyra terkejut, terperanjat.
"Akh...iya...iya pah...Gandi benar..." Ucap Keyra lagi.
Meski bagaimanapun, Keyra setuju dengan apa yang te.anya itu bilang, namun ia juga setuju dengan pemikiran papanya, bahwa ia harus mengganti ponsel Gandi yang terjatuh karenanya, ia tidak ingin merasa tak nyaman saat bertemu atau berpapasan dengan temanya itu.
"Ga...puteramu susah di taklukin...biarin ya aku tinggal disini aja nih ponsel, toh...aku pun ingin ngasih calon mantuku." Ucap Abiyasa dengan candanya, dimana Keyra dan Gandi saat itu sedang bermain bersama di teras samping rumahnya, di tepi kolam renang.
"Oke calon besan..." Ucap sambutan Arga balik dengan candanya pula, lalu keduanya pun tertawa terbahak bahak.