THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Insiden



"Amanda!" ucap Gandi seketika mengenali siapa sosok gadis cantik di depannya.


"Halo beb...lama tidak jumpa, kenapa sulit sekali hanya untuk bertemu denganmu, hemmmz...apa kau tidak merindukanku?" tanya Amanda pada Gandi, sambil memeluk begitu saja tubuh Gandi disana, bahkan tepat satu inci bibir Amanda akan menyentuh bibir lelaki tampan itu, namun seketika Gandi menoleh dari sana.


"Ayo lah Amanda...aku sedang tidak mood bermain main, mari kita selesaikan semuanya, akh...aku muak setiap tahun baru." Ucap Gandi dengan jujurnya, Amanda adalah gadis yang mengejar Gandi sejak lima tahun lalu, namun Gandi selalu menolaknya, sampai Amanda berusaha menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan Gandi, dan juga investor disana, barulah setiap kali Amanda ingin bertemu demgan Gandi dan alih alih membahas pekerjaan, Amanda hanya ingin bertemu dengan pujaan hatinya itu. Meski Amanda tahu, bahwa hati Gandi sudah tertawan oleh wanita lain, Amanda begitu gigih dan pantang menyerah.


"Apa kau tidak muak selama ini? sudah lima tahun kau selalu saja seperti ini, dan kau pun selalu tahu akhirnya." Ucap Gandi yang ingin gadis itu sadar dari ambisinya.


"Ayolah beb...kau selalu seperti ini, kau begitu teguh menjaga hatimu, apa kau tahu apa yang dilakukan gadis itu disana? mungkin dia sudah tidur dengan beberapa pria." Ucap Amanda dengan kedua tangan yang sudah merangkul di leher Gandi, namun Gandi hanya menghela nafasnya dalam dalam saja sebagai tanggapannya.


"Bagaimanapun kepribadian dia, semua adalah kesalahanku, jadi aku tidak masalah karena itu." Ucap Gandi yang mencoba membela Keyra disana.


"Ouh...apa kau juga tidak ingin mencoba tidur denganku malam ini? hemmz...paling tidak temani aku menghabiskan wine sembari menunggu pergantian tahun." Ucap Amanda dengan bisikan lembut tepat di telinga Gandi, seolah olah tengah mengendus dan meniup ringan disana.


"Aku masih ada kerjaan Amanda...jangan membuatku makin ilfil padamu. Oh ya...Max dia masih jomblo...aku akan merestui kalian jika kamu mau." Ucap Gandi sembari menarik paksa kedua tangan Amanda disana hingga terlepas. Gandi pun lalu pergi dari sana tanpa membahas apa apa.


"Max, kita pulang saja." Ucap Gandi pada asistennya, dan langsung di laksanakan oleh lelaki tersebut. Max adalah orang kepercayaan Gandi, orang pilihannya yang sudah melewati tahap seleksi, mulai dari kepintaran sampai bela diri, bahkan Gandi kenal Max saat ia bertanding di arena bela diri.


Mobil yang di tumpangi Gandi pun pergi meninggalkan hotel berbintang tersebut, di iringi dua mobil yang berisi beberapa anak buah Gandi di belakang mobilnya yang mengikuti.


Dua jam kemudian, Gandi merasa lelah, ia memutuskan untuk berhenti di salah satu mini market, Gandi pun duduk di bangku kosong depan mini market, sedangkan anak buah Gandi masih di dalam mobil, sengaja Gandi memberi perintah demikian, hanya Max yang masuk kedalam mini market membeli beberapa camilan yang Gandi inginkan.


"Ini bos." Ucap Max saat sudah berada di dekat bosnya. Dan Gandi menerima bingkisannya.


"Bos...setengah jam lagi kita sampai di rumah, apa bos tidak makan malam di rumah saja? atau datang ke acara makan malam di rumah teman papa bos saja? satu jam lagi sudah pergantian tahun." Ucap Max yang mengingatkan bosnya bahwa bosnya itu belum makan malam.


"Aku makin tersiksa kalau datang kesana Max." Ucap singkat Gandi, sampai Max izin untuk pergi ke kamar mandi.


Disebelah Gandi, terlihat Anak kecil yang tengah bermain bola, di samping mobil orang tuanya, terlihat mamanya tengah sibuk menata barang bawaannya, dan papa si kecil tengah masuk kedalam mini market. Tiba tiba bola yang di pegangi anak usia tiga tahun itu jatuh menggelinding hampir ke tengah jalan, langsung saja anak itu mengejarnya, Gandi yang saat itu melihat dan berada paling dekat dengan gadis kecil itu pun refleks bangkit dari duduknya dan berlari mengejar si gadis kecil, karena Gandi melihat motor dengan kecepatan tinggi datang ke arah gadis kecil tersebut.


Bosnya tengah terlentang di tepian jalan dengan tangan yang mengucurkan darah, namun Gandi masih sadar, ia baik baik saja, hanya tangannya saja yang terluka. Max pun segera menghampiri ke arah bosnya.


"Bilang pada semua, jangan apa apakan orang itu, dia tidak salah...biarkan dia pergi, beri beberapa uang untuk motornya yang rusak." Ucap Gandi yang malah mengkhawatirkan pengendara motor yang menabrak dan menyeretnya. Max pun langsung melaksanakan perintah bosnya.


"Anda baik baik saja? anda tidak apa apa? terimakasih banyak telah menolong anak saya, terimakasih banyak..." ucap kedua orang tua gadis kecil itu, yang tidak henti hentinya meminta maaf dan berterimakasih pada Gandi.


"Tidak apa apa, saya baik baik saja." Ucap Gandi yang sudah di papah Max untuk berdiri. Max segera membawa Gandi ke rumah sakit Kota, karena jaraknya yang memang sudah dekat dari sana.


"Max...jangan bilang apa apa sama papa, ini bukan suruhan, tapi perintah." Ucap Gandi dengan suara datar, sembari satu tangannya menekan tanganya yang sakit.


"Baik bos." Ucap Max dengan patuhnya. Gandi hanya tidak ingin papa dan mamanya merasa cemas saat mendengar kecelakaan Gandi.


Namun tiba tiba ponsel Gandi berbunyi, terlihat pada layar ponselnya adalah papanya yang tengah memanggil.


"Max, apa di mobil belakang ada salah satu orang papa?" tanya Gandi yang merasa papanya tahu apa yang di alaminya.


"Seharusnya tidak ada bos." Ucap Max yang memang tahu, siapa siapa yang ikut bersamanya hari itu. Dan Gandi hanya mengangguk, Gandi mengisyaratkan pada Max untuk mengangkat panggilannya, dan Max pun langsung patuh disana.


"Halo pah...ada apa?" ucap Gandi setelah menerima panggilan papanya.


"Beneran nggak pulang malam ini? papa dirumah om Abiyasa Gand kalau kamu mau gabung." Ucap Arga pada puteranya.


"Sepertinya beberapa hari ini Gandi tidak bisa pulang pah, Gandi sangat sibuk." Ucap Gandi yang membuat papanya mengerti. Memang sudah seperti itu Gandi setiap hari, menyibukan dirinya sampai ia lupa akan kesedihnnya hanya karena seorang gadis.


"Yasudah Gand, jangan lupa makan dan jaga kesehatan, papa tidak ingin kamu membuat gebrakan besar tapi dibalik itu kamu sakit." Ucap Arga lalu menyudahi panggilannya setelah Gandi mengiyakannya.