THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Ayo menikah



"Hah...bidadariku...kenapa bisa kamu? sejak kapan kamu suka mobil sport?!" ucap dalam hati Gandi dengan menelan ludahnya sekali telan.


"Oh...nggak, nggak apa apa sayang...aku mau minta maaf saja...sebel kamu nya nggak keluar kelur...maaf ya..." ucap Gandi dengan menurunkan lengan kemejanya kembali dan menarik dasinya agar terpasang dengan benar kembali, karena tadi dia sempat menariknya paksa dan menyingsing lengannya.


"Oh...tidak apa apa, aku bisa bawa mobil aku ke salon nanti." Ucap Key yang lalu akan masuk kedalam mobilnya kembali, namun Gandi segera menghentikannya.


"Sayang...tunggu!" ucap Gandi yang seketika membuat Key menoleh menatap ke arahnya.


"Kamu manggil aku?" tanya Key yang membuat Gandi mengangguk.


"Nama aku Keyra! bukan sayang!" ucap Key yang menerangkan.


"Iya sayang tahu! eh Key...tahu...bisakah kita menepi sebentar...jangn disini." Ajak Gandi pada gadis cantik itu.


"Kamu mau ngajak aku kencan?" tanya Key dengan angkuhnya, namun sebelum Gandi menjawabnya, Key sudah menancap gas mobilnya dari sana, membuat Gandi bergegas mengejarnya, namun saat itu lampu perempatan jalanan tengah menyala merah.


"Braaaaaak!!!" dentuman keras pun sempat Key dengar lihat dari kaca spion mobilnya, seketika Key menghentikan laju mobilnya, ia keluar dari sana dengan berlari, ia sudah berada beberapa meter dari tempat kecelakaan. Disana terdapat mobil box besar yang menghalangi pandangan mata Keyra, saat itu pun Key langsung tahu, mobil itu lah yang tabrakan dengan mobil Gandi, karena setahu Key, lelaki itu tengah terburu buru mengejarnya, air mata mengalir seketika di kedua kelopak mata, sepatu heels yang ia kenakan segera ia lempar asal asalan, ia berlari tanpa mengenakan alas kaki, ia tidak peduli lagi dengan kakinya yang terluka karena aspal jalanan.


"Gandi...maafkan aku...!" ucap Key saat ia sudah sampai di samping mobil Gandi yang arahnya sudah berlawanan dengan arah yang semula.


Key menangis meraung mengetuk kaca jendela mobil itu beberapa kali, namun tidak ada yang menghiraukannya.


"Gand...keluarlah...Gand...aku mohon...aku tidak bermaksud menolakmu, aku hanya ingin memberi pelajaran padamu saja, aku sudah tahu semuanya dari papa dan juga papamu...aku memaafkanmu Gandi...keluarlah..." ucap Key yang masih berusaha menggedor gedor kaca itu dari luar, kaca yang tidak tembus pandang dari luar, namun jelas terlihat dari dalam.


"Buka saja...nggak di kunci kok." Ucap seseorang dari belakangnya, hingga membuat Key tersadar bahwa ia belum mencoba membukanya.


"Iya benar...harusnya aku coba buka." Ucap Key dengan nada suara yang masih terlihat panik disana.


"Tunggu!" ucap Key yang langsung berbalik karena ia mengenal suara itu dengan jelas.


"Gandi!" teriak Key seketika sembari berlari memeluk tubuh lelaki itu dengan kuatnya.


"Kamu tidak apa apa? mana yang sakit? mana yang terluka? hemmmz biar aku periksa." Ucap Key sembari memeriksa tubuh lelaki itu secara bergantian.


"Aku baik baik saja! kamu yang terluka!" ucap Gandi sembari langsung mengangkat tubuh ramping Key, membopongnya menuju ke mobil Key yang berada jauh dari sana.


Key pun hanya bisa mengalungkan tangannya sembari menatap lekat kearah lelaki tersebut.


"Kenapa kamu nangis? mobil box itu nggak nabrak mobil aku!" ucap Gandi di sela sela jalannya.


"kenapa kamu cuek? sok jual mahal, toh nyatanya tahu semuanya?" tanya Gandi lagi pada gadis itu, sampai keduanya berada di dekat mobil, Gandi menurunkan Key perlahan dan mendudukannya ke atas jok samping kemudi.


"Aku masih marah sama kamu! dan aku nggak terima kamu perlakukan kayak begitu!" ucap Key dengan nada geram nya saat mengingat kejadian sembilan tahun lalu yang memilukan baginya.


"Harusnya kamu ngerti...aku melakukan itu semua untukmu, aku tidak ingin kamu menyerah dengan cita citamu karena aku!" ucap Gandi sembari menatap wajah cantik itu.


"Kita harus ke apotik, luka dikakimu harus segera di obati." Ucap Gandi yang langsung menuju kemudi.


"Ada Max yang mengurusnya." Ucap Gandi yang tanpa menoleh kearah Key.


"Kenapa kamu marah? seharusnya aku yang marah!" ucap Key dengan nada ketusnya.


"Aku lebih marah pada diriku sendiri karena aku kamu terluka begini." Ucap Gandi yang lalu melajukan mobil Key menuju kesebuah apotik. Akhirnya sampai juga keduanya di sebuah apotik tepi jalan, lalu Gandi menghentikan mobilnya disana, ia masuk kedalam apotik dengan tergesa, dan kembali dengan satu kresek perlengkapan di tangannya. Gandipun melajukan mobilnya kembali tanpa bertanya akan menuju kemana.


"Kita mau kemana?" tanya Key pada lelaki disampingnya.


"Ke apartemenku." Jawab Gandi singkat yang masih tetap fokus pada jalannya.


"Sejak kapan dia punya apartemen?" tanya Key dalam hatinya. Hingga beberapa saat pun keduanya sampai di apartemen elit tengah Kota.


"Sejak kapan kamu punya apartemen?" tanya Key yang penasaran.


"Ayolah Key, apa saatnya bertanya itu?" ucap Gandi yang hanya bisa menarik tubuh Key dan membopongnya.


"Aku bisa jalan Gand!" ucap Key yang ingin turun dan sedikit meronta dari pelukan lelaki itu.


"Tidak aku izinkan sebelum aku mengobati kakimu." Ucap Gandi yang berlalu begitu saja membawa Key ke apartemen miliknya, sampai disana Gandi meletakan tubuh Dokter muda itu keatas sofa, lalu menarik kakinya agar berada di pangkuannya, Gandi pun segera mengobati semua luka di kaki mulus gadis itu.


"Maaf...aku sudah membuatmu khawatir Key...maaf..." ucap Gandi sembari perlahan lahan meletakan kembali kaki Key.


"Dan maafkan aku atas sembilan tahun lalu, aku tidak bermaksud melukaimu, sungguh...saat itupun hatiku terluka, aku tidak berpikir dulu, yang aku pikirkan hanya kamu merelakan hubungan kita dan fokus pada kuliahmu sayang..." ucap Gandi menerangkan.


"Heeemzzz...aku sudah tahu semuanya, papa Arga yang memberi tahu, dan sengaja setiap kamu datang ingin melihatku, aku selalu berada di tempat terbuka bukan? karena aku punya mata mata...yang selalu melaporkan keadaanmu...bahkan saat kamu berguling guling di ranjang karena merindukanku." Ucap Key dengan cekikik tawanya, namun Gandi malah menatapnya dengan keheranan.


"Papa!" ucap Gandi dalam hatinya.


"Nikah yuk..." kata Gandi seketika.


"kapan?" kata Key yang menyahutnya dengan enteng pula.


"Sekarang!?" ucap Gandi lagi. Dan Key pun hanya mengangguk sembari melebarkan kedua tangannya, ia merentangkannya, dan Gandipun langsung masuk kedalam pelukannya, pelukan panjang yang melegakan keduanya.


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, aku janji kali ini, apapun yang terjadi." Ucap bisik Gandi yang mendapat anggukan ringan dari gadis itu.


"Terimakasih papa sudah membuat semuanya mudah...terimakasih tuhan...kau biarkan cinta ini bertahan." Ucap Gandi yang bersyukur atas perasaannya.


"Lalu sejak kapan kamu punya apartemen?" tanya Key lagi yang membuat keduanya menyudahi pelukannya.


"Kau mau tahu kegunaan aparten ini? aku sudah menyiapkannya lama, dan baru kamu gadis pertama yang aku ajak kemari, sengaja memang hanya untuk kita berdua." Ucap Gandi dengan senyuman nakal disana.


"Gand...jangan macam macam...aku masih belum memaafkanmu sepenuhnya!" ucap Key saat Gandi sudah perlahan mendekat ke arahnya.


"Kau sudah sepakat kita menikah, jadi aku mau mengawalinya sekarang." Ucap Gandi yang sudah mendaratkan ciumannya, ciuman panjang yang tidak bisa Key tolak setelah sekian lamanya.