
Sepuluh menit berlalu, saat ke empatnya sedang menonton, tampak suasana hening kala itu, dimana adegan yang membuat jantung seakan meletup itu belum sampai, namun...
"Huaaaaa....!" Teriakan lantang Keyra dengan kedua tangan yang mengangkat lengan Gandi untuk menutupi wajahnya, tepatnya bagian matanya, namun teriakan itu pula yang membuat Gandi terkaget dan ikut teriak pula, hingga mendapat sorotan tatapan mata yang tajam dari para pengunjung lain.
"Key...setanya belum nongol...lepasin." Ucap Gandi sembari menarik tanganya yang tengah di pegangi Keyra yang tanpa sadar itu, lalu meraih minuman dan meminumanya, minuman cola yang tadi Keyra beli, Gandi meminumnya menggunakan sedotan, lalu meletakanya kembali.
"Maaf Gand...aku takut...ayo keluar..." Ucap Keyra dengan sedikit rengekanya, lalu ia pun mengambil minuman yang sama yang tadi Gandi minum, ia memang hanya membeli satu, dan itu untuk dirinya sendiri.
Keyra meminum minumanya dari sedotan yang sama yang Gandi minum tadi, dan Gandi dengan mata yang menatap tajam ke arah Keyra yang tengah meminum dari bekasnya.
"Key...itu bekas ku loh..." Ucap Gandi seketika, namun Keyra sudah meneguknya beberapa kali tegukan.
"Ini kan minumanku Gand..." Ucap Keyra sembari masih meminumnya.
"Uhuuukh...uhuuuuk!" Tiba tiba Keyra tersedak, saat ia baru menyadari apa yang Gandi ucapkan.
"Key kamu nggak apa apa?" Tanya Gandi lagi sembari menepuk nepuk tengkuk temanya itu.
"Aku nggak apa apa Gand, lagian kenapa minumanku kamu minum sih? akh..." Ucap Keyra, karena setahunya seperti itu merupakan ciuman secara tidak langsung, meski hanya dengan media sedotan, namun Gandi tidak memikirkanya sejauh itu.
"Kamu juga pelit amat Key, napa nggak kamu beliin juga aku tadi?" Ucap Gandi yang nggak mau kalah.
"Dimana mana itu cowok yang beliin kalau jalan..." Ucap Keyra lagi, yang membuat Gandi yang masih polos itu pun mengangguk, ia terlihat baru mengerti.
Sedangkan di sebelah Gandi, nampak Evan yang sesekali menatap ke arah gadis manja di sebelahnya, nampak tatapan antusiasnya dan tak terlihat takut sama sekali.
"Ada apa Van? nggak seru ya? apa seruan liat wajah aku?" Ucap Vanya saat ia menyadari Evan tengah menatapnya, terkesan mengamati.
"Aku harap, ini untuk yang terakhir kali ya Van, aku mohon sama kamu, kamu cantik...pasti banyak yang suka sama kamu." Ucap Evan dengan suara lirihnya.
"Van...kita masih anak anak, dan aku nggak mau dekat dengan anak gadis, mungkin empat sampai enam tahun lagi, baru aku akan memikirkan untuk pacaran." Ucap Evan yang menegaskan.
"Hingga saat itu, aku akan terus mengikutimu, aku nggak akan ngebiarin cewek lain mendekatimu." Ucap kukuh Vanya yang membuat Evan geram dan saat itu ingin beranjak berdiri dan pergi dari sana.
Namun ia urungkan, ia khawatir, Vanya akan nekat dan melakukan hal hal aneh diluar yang Evan pikirkan, dengan nafas yang berat, ia mengatur nafasnya agar perlahan lahan dan normal lagi.
"Tenang Van...kamu harus tenang...semua pasti ada jalan keluarnya." Ucap dalam hati Evan.
Hingga film sudah usai, dan lampu terang dalam ruang bioskop dinyalakan, nampak Vanya yang begitu lega dengan film yang ia tontonya, Evan yang tanpa ekspresi, Keyra yang terlihat masih ketakutan, sedangkan yang kelihatan payah hanya Gandi.
Terlihat ia hanya memijit mijit lengan yang tadi ada di sebelah Keyra, Gandi merasa lenganya benar benar jadi sasaran Keyra melampiaskan ketakutanya.
"Nggak mau nonton lagi! kalau ada yang ngajakin aku lagi...aku balikin lima kali lipat tuh harga karcisnya." Gerutu Gandi sembari berjalan berhambur keluar di antara pengunjung lain.
Hingga sampai di luar ruang bioskop.
"Aku pulang dulu Van, aku harap kamu jadi gadis yang baik, nggak egois, nggak ngelakuin hal bodoh kayak gini lagi untuk buat aku ngikutin kemauan kamu, aku mohon ya." Ucap Evan yang akan pergi meninggalkan ketiganya disana.
"Aku akan ngelakuin hal yang sama Van, aku nggak akan pernah mundur...jika hanya dengan paksaan dan hal konyol gini aku bisa jalan sama kamu, aku akan terus lakuin." Ucap Vanya dengan sedikit teriakanya, karena Evan sudah pergi dari hadapanya.
"Emmb...amazing Van...terus pepet Van, gue suka gaya lo..." Ucap Gandi seketika saat melihat tekad yang kuat dan semangat yang membara dari diri Vanya.
"Ingat loh...jangan naksir sama gue, hati gue udah ditawan sama Evan." Ucap Vanya sembari menunjuk Keyra yang tengah terduduk lesu di salah satu kursi di sudut luar ruangan, lalu Vanya pun pergi meninggalkan keduanya.
"Ya ampun Key!" Tiba tiba teriak Gandi saat melihat Keyra tengah sedikit lesu dengan wajahnya pucat disana.