
Vanya berlari menuju kerumah Evan, disana di depan rumah terdapat pak satpam yang tengah berjaga.
"Pak...izinkan saya masuk bertemu pak Evan, cepat bilang padanya bahwa Vanya ada di luar!" ucap Vanya dengan suara tersengal sengal dan nafas ngos ngosan.
"Baik non, tunggu sebentar..." ucap pak satpam yang lalu pergi masuk menuju ke rumah, pak satpam masuk kedalam rumah, karena memang saat itu keadaan pintu tengah terbuka dan tidak di tutup. Sedangkan si bibi sudah pulang ke rumahnya sore tadi, hanya tinggal bibi asisten rumah tangganya yang sudah tua, pastilah sudah tidur.
Pak satpam segera bergegas menuju ke ruang kerja tuan mudanya, namun beberapa kali ketokan tidak ada jawabannya, hingga beralih ke ruang kamar tuan mudanya.
"Tuan...tuan di dalam? ada non Vanya yang mencari!" ucap pak satpam yang awalnya hanya di acuhkan oleh Evan, namun seketika membuat ia terperanjat dan berusaha berdiri, Evan mabuk saat itu.
Dengan tubuh sempoyongan lelaki itu menuju ke pintu kamarnya, lalu membukanya dengan segera.
"Dimana dia sekarang? suruh masuk!" ucap Evan saat itu, namun ternyata gadis yang ia maksud itu sudah berdiri di belakang pak satpam, Vanya mengikuti pak satpam diam diam.
"Van!" teriaknya. Lalu berhambur menuju ke arah Evan, pak satpam pun segera pergi meninggalkan keduanya.
"Van ini kamu? sungguh kamu Van?" ucap Evan saat menatap wajah gadis yang baru saja memeluknya. Dan Vanya pun memeluknya kembali.
"Ini aku Van...aku akan khawatir padamu, kenapa kamu pergi begitu saja dari pesta? ada apa? apa kamu takut suami aku marah karena bekas ciumanmu yang tertinggal? tidak sayang...Dion tidak marah...Dion..." ucap Vanya yang mencoba menerangkan namun suaranya terhenti karena Evan sudah menghujaninya dengan ciumannya, Evan menarik tubuh gadis itu masuk kedalam kamarnya, mengapit pinggangnya erat dengan ciuman hangat menekan.
Hingga keduanya terjerembab keatas pembaringan, lelaki itu menekan tubuh Vanya dengan lembutnya.
"Van kamu mabuk?" ucap Vanya sembari menatap kedua mata Evan disana, meraih wajah lelaki itu dengan kedua telapak tangannya, mengusap lembut wajah sendu dihadapannya, yang hanya berjarak selebar dua kepalan tangan.
"Aku tidak mabuk Van, hanya sedikit...harusnya ini tidak bisa mempengaruhi otakku untuk tidak melanjutkannya." Ucap Evan yang mencoba menahan gejolak didadanya.
Vanya hanya tersenyum untuk menanggapinya, namun senyum itu membuat Evan ingin menikmatinya lebih jauh lagi.
Seketika lelaki itu mengendalikan keadaan, menghujani bibir hingga semua milik gadis itu dengan ciuman lembutnya, tidak ada yang Evan lewatkan satu incipun disana, hingga Evan tidak mampu mengendalikan gejolak di dadanya, dan Vanya yang sudah ikut hanyut dalam suasana pun hanya mampu menerima saat semua pakaiannya terlepas begitu saja. Malam itupun menjadi malam panjang yang tidak terlupakan bagi keduanya. Hingga senyum bahagia yang bercampur lelehan air mata Vanya tumpah di pelukan Evan, lelaki itu memeluknya tanpa berkesudahan.
Pagi pun menjelang, tepat pukul delapan pagi, saat seseorang tengah mengetuk pintu kamar Evan beberapa kali dari luar. Evan pun hanya menyahutnya seperti biasa.
"Iya bi...aku bangun..." ucap lirih Evan disana, lalu membuka kedua matanya, samar samar Evan menatap wajah seseorang yang ia impikan semalam.
"Hah...apa aku masih bermimpi? tapi kenapa rasanya seperti nyata saat ini?" ucap Evan dalam hatinya, sampai ia merasakan kulit tubuh lembut Vanya menyentuh kulitnya, sontak membuat Evan membelalakan kedua matanya, ia tersentak kaget buakan main.
"Hah...Vanya! dia asli? kapan? kapan dia ada disini? sejak kapan?" ucap Evan yang begitu senang namun bercampur kaget. Lalu iapun mengingat ingat kembali kejadian semalam, saat ia kehilangan kesadarannya karena wine.
"Seperti yang kamu bayangkan." Ucap Vanya dengan senyumannya.
"Sekarang aku bangun dulu, tolong...usahakan semua orang dirumah ini jangan ada yang tahu kalau aku bermalam disini, bisa?" ucap Vanya yang langsung di angguki oleh Evan.
Saat itu Evan langsung beranjak dari tempat tidurnya, mengenakan pakaiannya lalu bergegas keluar dari kamarnya, meninggalkan Vanya diatas ranjangnya.
Evan segera turun dan menuju ke dapaur, disana ada dua bibi yang tengah berkutat di dapur, dan bibi yang lain tengah bersih bersih.
"Bi...sudahi saja ya bersih bersihnya, aku liburkan hari ini, aku lupa mengatakannya kemarin, dan ini...bibi selamat jalan jalan..." ucap Evan sembari memberikan beberapa lembar uang untuk bibi asisten rumah tangganya yang tengah bersih bersih. Lalu semuanya pun langsung taat dan berpamitan, tidak lupa mengembalikan semua peralatan ketempatnya semula.
"Dan...bi...bisakah bibi ke pasar? aku ingin makan lopster sekarang...tolong ya..." ucap Evan yang lagi lagi hanya asal bicara sembari memberikan beberapa lembar uang untuk kedua bibi asiten rumah tangganya, lalu bergegas melaksanakan apa yang Evan katakan.
"Sekalian panggilkan pak satpam ya untuk kesini." Ucap Evan yang meminta tolong pada bibi. Hingga beberapa saat pak satpampun datang menghadap Evan.
"Pak...pak satpam tahu kan siapa wanita semalam yang kesini? tolong jangan bilang siapa siapa ya pak? Evan minta...dan hapuskan semua CCTV yang semalam ada rekaman dia ya pak..." ucap Evan, lalu segera dilaksanakan saat itu juga oleh pak satpamnya. Mungkin saat itu didalam hati semuanya begitu banyak pertanyaan, namun semuanya merasa bahagia.
Didalam kamar Evan, Vanya menekan perutnya, hal itu baru pertama ia lakukan dengan Evan, lumrah jika ia merasakan sedikit nyeri yang mengganjal disana. Dengan kedua tangan yang menekan perut bawahnya, Vanya tertatih menuju ke kamar mandi.
Saat itu Evan baru masuk kembali ke kamarnya, ia menuju ke ranjang, bermaksud merapikan ranjangnya, namun tatapan matanya seketika menyipit, menatap sesuatu yang asing disana, kedua tangannya segera menghentikan aktivitasnya, sesaat ia menatap di bawah selimut, seprei dengan titikan titikan darah mengering ada disana.
"Apa aku kelewatan? apa dia terluka? apa aku menggigitnya?" ucap Evan dalam gerutunya saat ia melihat sedikit darah itu diatas sepreinya.
Hingga Vanya keluar dari dalam kamar mandi, nampak sedikit sayu dan lemas.
"Kamu baik baik saja? apa ada yang terluka?" tanya Evan pada gadis itu sembari menghampirinya. Memegang kedua pundaknya dan menatap matanya.
"Aku baik baik saja Van, aku tidak apa apa kok...yasudah aku pulang dulu..." ucap Vanya yang akan beranjak pergi.
"Bagaimana kamu menjelaskanya dengan dia?" tanya Evan pada gadis itu, ia khawatir Vanya akan berantem karena tidak pulang semalaman.
"Kamu tenang saja Van, dia aman terkendali." Ucap Vanya dengan senyumannya. Dan pelukan itu tanda perpisahannya untuk hari itu.
Namun seketika Evan menyadari sesuatu.
"Tidak mungkin kan? itu pasti tidak mungkin!" ucap Evan setelah ia menyadari akan tanda itu, segera Evan bergegas mengejar Vanya yang masih di ambang anak tangga.