
Sore itu, setelah pulang sekolah, terlihat semua siswa siswi sudah pada pulang dan sepi, sengaja Evan mengajak ke tiga sahabatnya untuk berolahraga sore itu.
Meski semua merasa heran, namun karena setia kawan, akhirnya, Gandi, Reza dan Eric mengikuti kemauan Evan.
Dan semua pun sudah berpesan pada para pak supir masing masing yang sudah beberapa menit yang lalu tiba, untuk menungguinya di luar pintu gerbang sekolah.
"Tumben Van, lu ngajak kita olahraga, nggak biasanya." Ucap Reza pada sahabatnya.
"Lagi pengen gerakin badan Za..." Ucap Evan yang masih tanpa ekspresi, namun sudah mengganti pakaian olahraga yang ada di lokernya, disusul Eric yang datang, lalu ketiganya menuju ke lapangan basket, dan mulai pemanasan.
"Gandi mana?" Tanya Evan pada teman temanya.
"Masih di toilet kali." Ucap Eric yang melihat Gandi tadi masuk kedalam toilet.
Hingga permainan di mulai tanpa menunggu Gandi datang, Evan mengajak Reza dan Eric menjadi lawanya, namun keduanya tak bisa menang melawan Evan.
"Loh...apa apaan ini Van? lu buat KO Reza sama Eric?" Tanya Gandi saat ia melihat kedua temanya itu tengah ngos ngosan karena di serang bertubi tubi oleh Evan.
"Sini kamu juga maju!" Ucap Evan yang menantang Gandi untuk main denganya, dan tantangan Evan pun di terima dengan senang hati oleh Gandi, secara di satu sekolah, tak ada yang menandingi kelincahan Gandi menggiring bola dan memasukan bola ke ring.
Gandi dan Evan adalah anak emas di klub basket sekolah, aset berharga sekolah tempat keduanya menuntut ilmu.
"Ayo...siapa takut!" Ucap Gandi sembari memberi isyarat pada Eric dan Reza agar minggir dari tengah lapangan dan tidak mengganggu keduanya.
"Gand...kenapa sih sebenarnya om lo itu?" Tanya Eric saat keduanya berpapasan dan saling dekat.
"Kayak nggak tahu aja sih lo, patah hati dia...biar aku ajarin gimana namanya sakit tuh!" Ucap bisikan Gandi pada Eric, namun Eric tidak mengerti apa yang Gandi omongkan, terlebih lagi Reza yang tidak tahu apa apa.
"Akh...puasnya..." Ucap gandi saat melihat Evan tengah ngos ngosan sambil rebahan terlentang di tengah lapangan basket, di susul Gandi yang duduk di sampingnya.
"Maaf bro...lu nggak akan ngerasaain sakit kok...masih sakit hati lu yang patah daripada sakit yang gue ciptain barusan,
lagian lu sih...sok sok an...nggak..." Ucap Gandi yang tertahan karena tepukan tangan Evan yang sudah bangkit dan berlalu pergi dari sisi Gandi.
Evan berjalan menuju ke arah Reza dan Eric yang sedari tadi tengah memperhatikan permainan Gandi denganya.
"Maaf Za...Ric nggak ada maksud buat nonjolin diri dari kalian." Ucapnya sembari bersalaman pada keduanya, lalu pergi terlebih dahulu meninggalkan Gandi, Eric dan Reza yang masih disana.
Ketiganya pun hanya bisa melihat punggung Evan yang lama makin jauh jauh dan menjauh dan hilang tidak terlihat lagi.
"Lu apa nggak kelewatan tadi Gand? bola basketnya itu kan keras Gand...tega amat lu ama om lu." Ucap Eric saat Gandi berjalan mendekat ke arahnya.
"Tenang aja lu pada, gue ma ngerjainya pake perasaan, noh liat, nggak kelihatan dia ngeluh sakit kan?" Ucap Gandi pada kedua temanya itu, lalu ketiganya pun pergi meninggalkan lapangan basket tersebut, setelah menyimpan kembali bola basketnya ke tempat penyimpanan bola.
"Lu ada janji sama Keyra ya Gand?" Tanya Eric saat tanpa sengaja tadi melihat Keyra memanggil Gandi dan memberikan telephone padanya, dan Gandi pun terlihat tengah berbicara pada seseorang dindalam telephone.
"Enggak tuh." Ucap Gandi seketika, saat ketiganya sudah hampir di pintu gerbang sekolah, sedangkan Reza hanya mendengarkan saja.
"La terus apa tadi?" Tanya Eric lagi yang masih kepo.
"Gue ada janji ama bapaknya!" Ucap tegas dan jujur Gandi sembari masuk kedalam mobil, saat pak supir sudah membukakan pintu mobil untuknya, hingga tanpa sadar Reza dan Eric hanya terpaku di tempatnya dan tidak mengerti, saling menatap satu sama lain setelah mobil Gandi pergi meninggalkan tempatnya.
"Ngapain kita bengong? ayo pulang!" Ajak Eric pada Reza, dan akhirnya keduanya pun masuk kedalam mobil masing masing dan pulang kerumah masing masing pula.