
Hingga pukul sembin pagi, saat mama Anin sampai rumah Nindi, dimana disana sudah ada bibi pula yang mulai sibuk dengan aktivitasnya di dapur, setelah bersih bersih, bibi tengah akan menyiapkan masakan untuk makan siang tuan dan nyonya nya.
"Bi...nggak usah masak...ini aku bawain masakan udah jadi dari rumah...!" Ucap Anin saat setelah sampai dan menghampiri bibi yang ada di dapur rumah Nindi.
"Oh...baik nyonya...kalau nyonya muda ada masakan yang ingin di buatkan...bilang saja ya nyonya..." Ucap bibi dengan senangnya, ia bisa beristirahat di kamarnya untuk beberapa saat setelah lelah.
Lalu Anin pun menuju ke kamar puterinya, dimana ia tanpa mengetuk dan langsung saja masuk ke dalam.
"Astaga ini anak!" Ucap Anin dengan sedikit nada meningginya, saat ia dapati Nindi yang belum mengenakan pakaianya dan tertidur pulas di bawah selimutnya.
"Akh...biarlah dia lanjutkan tidurnya, Arga bilang ia muntah terus dan lemas tadi." Ucap Anin yang memilih pergi meninggalkan kamar sang puteri.
Hingga waktu begitu cepat, tanpa terasa hari sudah siang juga. Terlihat Arga pun baru sampai dan turun dari dalam mobilnya.
"Mama...kok sendirian? Nindi mana mah?" Sapa Arga pada ibu mertuanya, sembari mengecup punggung tanganya.
"Istrikamu...yang kamu khawatirkan tadi...masih tidur dari mama datang sampai sekarang ga...dia belum tahu kalau mama disini, untung ada bibi, mama di temeni bibi tadi, sekarang mama suruh istirahat dia...habis repot nyiapin makanan." Ucap mama menerangkan.
Karena tadi sang menantu terlihat khawatir, namun yang sedang di khawatirkan malah seperti bayi yang baru keluar dan tertidur pulas.
"Yaudah mah...udah siang...waktunya makan siang...Arga bangunin Nindi dulu ya mah...Arga tinggal ke atas dulu." Ucap Arga yang langsung di angguki mama mertuanya, kini ia pun berjalan menaiki anak tangga sampai ke depan pintu kamarnya, lalu perlahan membukanya.
"Astaga sayang...kamu belum beranjak dari tempat tidur dari aku pergi tadi? belum pakai baju lagi, akh...malu nya pasti mama lihat, dasar Nindi!" Dengus Arga di dalam hatinya, dengan langkah perlahan mendekat ke arah sang istri berbaring, dan duduk di tepian ranjangnya, hinga beberapa saat mengamati wajah cantik yang terlelap di sana.
"Sayang...maaf...kelihatanya kau kelelahan? hingga tidurmu sangat pulas sayang..." Bisik Arga yang perlahan lahan.
Dan sayup sayup mata Nindi terbuka saat mendengar suara yang sangat ia kenal, apa lagi parfum kesukaanya yang memang sengaja ia pilihkan untuk sang suami, parfum sama dengan miliknya yang ia gunakan.
"Sayang...kamu sudah pulang? maaf...aku nggak nyambut kamu...nggak tahu kenapa ini mata berasa ada lem nya, lengket banget deh..." Ucap Nindi sembari meraih tangan sang suami yang menyibakan sedikit rambutnya, lalu menggenggamnya.
"Berarti mama datang kamu juga nggak tahu ya sayang?" Tanya Arga pada sang istri.
"Astaga sayang mama beneran jadi datang? kapan? dimana? kok aku nggak tahu? hah....jangan jangan mama sudah masuk ke kamar kita? akh...aku belum bajuan sayang...gimana dong?" Ucap Nindi yang merasa sedikit malu jika sampai mamanya tahu keadaanya.
"Akh...pasti lah mama sudah masuk sayang...tapi ya nggak apa apa lah...biarin aja...toh mama juga sudah pengalaman...pasti tahu gimana suasana pengantin baru!" Ucap Arga yang mencoba menenangkan perasaan sang istri.
"Ayo bangun sayang...!" Ucap Arga sembari mengecup kening sang istri.
"Sayang...jam berapa sih sekarang? akh sudah jam dua belas lewat ya...kalau gitu...kamu tungguin di bawah ya sama mama...aku mandi dulu baru turun." Ucap Nindi sembari menyibakan selimutnya dan meraih pakaian yang ada di sampingnya, namun saat ia sudah berhasil berdiri, perasaan berat dan seperti menimpa kepalanya tak bisa ia tahan, ia terhuyung dan terpaksa mengambil pegangan di sudut meja kecil samping tempat tidurnya.
"Sayang...kamu nggak apa apa kan? ayo aku bopong sampai kamar mandi, sini mandi sama sama, aku nggak akan biarin kamu sendirian!" Ucap Arga dengan seriusnya.
"Tapi....mama ga...!" Ucap Nindi yang terputus karena Arga dengan segera membopong tubuhnya menuju ke kamar mandi, ia pun terpaksa hanya bisa mengeratkan pelukan tanganya ke leher sang suami.
"Kamu kenapa baik banget sih? aku kan makin sayang sama kamu jadinya kalau kayak gini sayang..." Ucap haru Nindi yang membuat Arga dengan segera mengecup bibirnya, hingga tanpa terasa ciumanya sudah beberapa kali, mungkin keduanya lupa jika sang mama tengah menungguinya di bawah, keduanya asyik dalam aktivitas mandinya, dan bahkan lebih dari sekedar mandi.
Nindi pun begitu heran, entah kenapa saat ia dekat dengan sang suami, atau sang suami sengaja di dekatnya, ia merasa seperti punya banyak stamina dan merasa sangat lincah luar biasa, tapi saat ia jauh dari Arga, tubuhnya serasa kehilangan nyawanya, bahkan terkesan lemah dan lemas tak ada tenaga.
"Mungkinkah itu kemauan anaknya?" Ucap Nindi dalam hatinya, dan Nindi akhir akhir ini sangat menyukai jika sang suami ada di dekatnya, semangatnya yang seakan redup kembali menjadi berkobar kembali, bahkan untuk berhubungan intim pun, Nindi seakan tidak pernah bisa menolaknya, pesona sang suami begitu terpancar luar biasa terangnya bahkan bisa menyilaukan matanya saat ia menatapnya.
"Tok tok tok!" Suara pintu luar kamar yang tengah di ketok.
Seketika keduanya menatap satu sama lain, dan menghentikan aktivitasnya, meskipun air dari shower masih mengucur disana.
"Mamah sayang....gawat...ayo cepat mandinya...aku keluar duluan ya sayang!" Ucap Arga sembari bergegas menyahut pakaian handuk dari tempatnya, lalu memakainya dan bergegas keluar dari kamar mandi.
"akh...bibi...ada apa?" Ucap Arga saat ia dapati ternyata bibi yang tengah mengetok pintu kamarnya dan mematung di depan pintu, karena pemilik kamar belum membukakanya.
"Itu tuan...nyonya besar sudah nungguin di meja makan tuan..." Ucap bibi dengan kepala menunduknya.
"Oh...iya iya bi...makasih ya...sebentar lagi kami turun..." Ucap Arga dengan senyumanya, kemudian bibi pun kembali turun, setelah ia mendapat jawaban dari tuan besarnya.
"Akh...selamat...Arga...kenapa nggak bisa ngerem sih? nunggu mertua kamu pulang dulu kek...main tancap aja, untungnya mama mertua pengertian!" Ucap gerutu Arga dalam hatinya, lalu bergegas mengambil pakaian ganti dari lemari pakaianya, berganti sekalian.
Tak lupa ia pun mengambilkan pakaian ganti untuk sang istri, dan beberapa saat terlihat Nindi yang baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh terhuyung dan tangan yang menopang tubuhnya dengan cara meraba tembok, bahkan terkesan menyandar pada tembok sampingnya.
"ga...sayang...tolong..." Ucap Nindi dengan suara lemasnya, yang membuat Arga seketika berlari secepatnya ke arah sang istri.
"Sayang....ada apa lagi? kamu tadi semangat sekali, kenapa sekarang lemas gini? apa yang salah?" Ucap Arga sembari menopang tubuh sang istri, dan menggiringnya sampai pembaringan, mendudukanya disana.
"Sayang...kalau aku bilang, aku tak bisa jauh darimu sedetikpun! apakah kau akan percaya?" Ucap Nindi dengan mata menatap lekat wajah sang suami di deoanya, dan kedua tangan yang masih merangkul di leher Arga.
"Sudah ayo...bukan waktunya saling menggoda sekarang!" Ucap Arga yang belum percaya sepenuhnya.
Hingga siang itu ketiga orang itu pun menikmati makan siangnya bersama.