THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Terkejut



"Namaku Keyra bukan si gendut!" Ucap Keyra tiba tiba yang nongol begitu saja dari samping Gandi.


"Astaga! bisa nggak sih nggak bikin aku kaget!" Ucap Gandi dengan gerutu tidak sukanya.


"Ada apa sepertinya kau mencariku?" Tanya Keyra dengan tatapan penuh tanya.


"Emb...itu...maaf ya kalau bolanya tadi kena kepala kamu." Ucap Gandi dengan nada sedikit lirihnya.


"Apa? aku nggak dengar?!" Ucap Keyra yang membuat Gandi bersungut sungut.


"Nggak...! ngapain aku ngomong maaf sampai dua kali." Ucap Gandi yang keceplosan.


"Oh...minta maaf ya...oke nggak apa apa, ya udah aku pulang dulu kalau gitu, kirain mau ngomong penting apa!" Ucap Keyra yang sudah langsung pergi begitu saja meninggalkan Gandi yang masih mematung di tempatnya.


"Apa? dia berani nyuekin aku?" Ucap Gandi dalam hatinya.


"Hoi...kamu nggak tahu apa cowok ganteng ini lagi ngomong sama kamu? main tinggal aja!" Ucap Gandi dengan teriakanya.


"Enak aja! gue juga ganteng kali!" Ucap Eric yang tiba tiba muncul dari arah ruang belakangnya.


"Akh lu Ric, belum pulang?" Tanya Gandi dengan muka masamnya.


"Nih mau pulang...yuk pulang sama sama, mampir rumahku dulu buat main, kebetulan mama sama papa aku pulang sorean ntar..." Ucap Eric yang mengajak Gandi main kerumahnya.


"Ric...maunya gitu...tapi tuh liat...supir papa aku udah nungguin tuh...tadi di kasih kabar mama kalau ntar malam mau di ajak ke acara gitu." Ucap Gandi sembari berjalan beriringan dengan Eric menuju ke luar pintu gerbang sekolah.


"Akh...oke lah kalau begitu, yaudah bye bye..." Ucap Eric yang berlari kecil menuju ke arah mobil yang menjemputnya.


Setengah jam perjalanan pulang, di sepanjang jalan Gandi memikirkan si gendut yang berani mengabaikanya, karena cewek lain pastilah berebut ingin ngobrol denganya, atau bahkan hanya ingin menyapanya saja.


"Akh...dasar si gendut." Ucap Gandi dengan sungutnya.


Hingga mobil sampai di pelataran rumahnya, dan Gandi turun dengan langkah gontainya.


"Mama..." Sapa Gandi pada mama nya.


"Oh ya sayang...nih pakaian kamu yang buat ntar malam." Ucap Nindi sembari memberikan tas yang berisi satu stel pakaian resmi Gandi, sedangkan Nindi masih sibuk membungkus kado yang ukuranya lumayan besar.


"Itu apa mah?" Tanya Gandi yang penasaran.


"Ini jelas kado lah sayang...apa lagi coba, masak iya datang ke acara ulang tahun nggak bawa apa apa kan nggak enak." Ucap Nindi dengan senyum manisnya.


"Emangnya siapa yang ulang tahun sih?" Tanya Gandi yang makin penasaran.


"Katanya sih anak teman lama papamu, itu juga baru ketemu kemarin katanya, emmmb...namaya kalau nggak salah...om Abiyasa atau siapa gitu." Ucap Nindi sembari terlihat sedang mengingat ngingatnya.


"Akh...nanti kamu juga tahu Gan...udah sana cepat makan dulu..." Ucap Nindi lagi.


"Kenapa nama itu familiar banget ya? hemmmz...akh...udah ah..." Ucap Gandi dalam hatinya.


Hingga tibalah sore itu, terlihat Nindi begitu anggun dan menawan dengan gaun merah tua nya, nampak sangat cantik, di tambah Arga yang memakai setelan jas yang senada dengan sang istri.


"Mama sama papa kelihatan serasi banget ya?" Ucap Gandi yang merasa sedikit tak nyaman dengan dasi kupu kupu di bawah dagunya.


"Kamu juga tampan sayang...kenapa lagi?" Tanya Nindi sembari memuji ketampanan puteranya.


Seketika tawa Nindi pecah, Nindi yang sedari tadi berusaha anggun itu pun keluar aslinya.


Dulu sebelum ia menikah dengan Arga, sang suami itu mempunyai beberapa sekretaris yang cantik cantik, namun beberapa bulan setelah menikah, Arga mulai satu persatu mengganti sekretarisnya.


Kini total terganti dengan beberapa sekretaris lelaki yang makin cermat dalam mengurus pekerjaan, intinya Arga tak ingin membuat Nindi cemburu.


"Akh...iya iya...yaudah lepas aja sayang..." Ucap Nindi sembari mengajak sang putera menuju kedalam mobilnya.


Hingga mobil yang di supiri pak supir itu pun melaju menuju ke sebuah rumah yang tak kalah mewah dengan rumah Arga, dan berhenti tepat di area pelataran rumah tersebut dan di tempat yang sudah di khususkan untuk parkir, di samping samping mobilnya sudah berjajar beberapa mobil mewah lainya.


"Siapa sih pah?" Tanya Nindi pada sang suami.


"Sssst...papanya teman sekolah Gandi sayang...kami juga baru ketemu lagi kemarin, setelah puluhan tahun, teman kuliah ku dulu sayang..." Ucap Arga sembari membuka sela siku sampai lenganya, dan memberi isyarat Nindi untuk mengalungkan tanganya disana.


Keduanya pun masuk kedalam, di susul Gandi di depan keduanya dengan membawa kado besar yang menutupi wajahnya.


"Ayo Gandi sayang...kadonya berikan puteri om Abiyasa itu..." Ucap Nindi yang mendorong sang putera dengan perkataanya.


Namun Arga dan Nindi yang langsung disambut Abiyasa beserta sang istri pun langsung ikut berbaur di antara semua kolega yang keduanya kenal.


Berbeda dengan Gandi, ia tak menggubris apa yang mamanya katakan, ia hanya menaruh begitu saja kado yang ia bawa, tanpa tahu puteri temam lama papanya itu yang mana, ia tidak penasaran sama sekali.


Gandi melihat mama papanya tengah sibuk berbincang bincang, akhirnya ia pun meminta izin papa mamanya untuk ke tepian teras balkon, Gandi berdiri di samping


teralis yang terbuat dari besi setinggi dadanya, menatap kebawah, dibawah pandanganya terdapat kolam renang lebar yang didalam airnya terdapat banyak lampu yang menyala hingga membuatnya tampak bening terang.


Tiba tiba saat ia menoleh, tanpa terasa tatapanya menangkap sosok tak asing yang ia kenal.


"Itu kan si gendut?" Ucap Gandi tiba tiba saat melihat gadis yang ia juluki si gendut itu tengah berdiri tepat di ujung samping teralis.


"Hei gendut...kau datang kesini juga rupanya, akh...memang ya acaranya orang kaya itu membosankan, tenang...aku temani malam ini." Ucap Gandi dengan langkah mendekat ke arah Keyra.


"Akh...kamu datang juga." Ucap Keyra seketika.


"Pasti anak pemilik rumah ini dimanja banget, masak iya ulang tahun saja sampai ngadain pesta besar besaran, membosankan." Ucap Gandi lagi yang membuat Keyra berhenti bicara dan mengatupkan mulutnya.


"Mungkin kau tidak tahu apa yang dipikirkan orang dewasa, jadi berkatalah yang baik sebagai tamu." Ucap Keyra sembari akan meninggalkan tempatnya.


"Temani aku, aku bosan sendiri." Ucap Gandi seketika.


Dan saat itu pula Keyra pun menghentikan langkahnya, dan berbalik menuju ke arah tempatnya tadi lagi.


"Kenapa kalau kau bosan tidak berbaur saja dengan yang lain didalam? bukankah mereka sebaya dengan kita? meski beda sekolah!" Ucap Kerya yang membuat Gandi menatap ke arahnya.


"Kau tidak lihat atau pura pura tidak tahu? aku datang aja mereka yang kebanyakan para gadis mengerubutiku, padahal aku bukan yang ulang tahun, kau sendiri kenapa ikutan disini?" Tanya balik Arga.


"Aku...malu dan minder makanya kesini, pasti mereka akan mengatai ku, sama sepertimu saat melihatku." Ucap Keyra dengan senyum yang tertahan.


"Akh...iya iya maaf...maaf...habisnya kamu muncul terus dimana mana, aslinya baik kok." Ucap Gandi yang sedikit canggung, dan Keyra hanya mengangguk sembari tersenyum dengan imutnya, dan Gandi baru menyadarinya.


"Sebenarnya kau tidak se gendut yang mereka kira kok...hanya lebih sedikit dibanding cewek kebanyakan." Ucap Gandi dalam hatinya.


"Keyra Abiyasa!" Ucap pemilik acara yang tengah memanggil Kerya, dan seketika itu pula Gandi membelalakan matanya saking terkejutnya.