THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Benar benar akan berpisah



Abiyasa mengajak sang puteri untuk pulang ke rumah, di sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, hening...Abiyasa tidak bisa bertanya apa yang terjadi lebih jauh lagi, karena memang ia tahu...mungkin yang terbaik untuk keduanya hanya jalan itu, tidak ada jalan lain lagi.


Satu bulan berlalu, saat itu Key sudah bisa sedikit melupakan kesedihannya, ia pun tidak ingin bertanya atau pergi ke rumah Gandi, karena informasi dari sang papa bahwa Gandi sudah mempunyai kekasih baru, ditambah lagi nomor Key telah di blokir oleh Gandi, hingga gadis itu tidak bisa menghubunginya, dan pukulan itu yang membuat Key membenci mantan pacarnya, padahal sebenarnya tidak, dengan bodohnya Gandi meminta pada papanya untuk mengatakan demikian pada Abiyasa, dan disana Abiyasa tahu segalanya, bahwa cinta anak muda itu pada puterinya benar benar luar biasa. Gandi rela menyerah untuk cita cita Keyra.


"Pah...mah..." Sapa Key saat sarapan pagi.


"Sayang...semua sudah beres? jadi berangkatnya ke luar Negeri nanti? kamu lama lo sayang disananya, yakin tidak minggu depan saja?" Ucap mama Key pada anak gadisnya. Dimana Key bertekat untuk memilih segera berangkat saja ke asrama Fakultas kedokteran di Luar Negeri, karena Key akan melangsungkan kuliah kedokterannya disana.


"Tidak mah...Key mau beradaptasi terlebih dahulu mah...pah...tidak apa apa kan?" Ucap Key pada kedua orang tuanya, dan Abiyasa hanya bisa menatap sang istri sembari mengangguk.


***


Di rumah keluarga Sanjaya.


"Gandi, Gan...Gandi..." Suara Nindi yang tengah membangunkan anak lelakinya, disertai suara ketokan dari luar pintu kamar Gandi. Namun tidak ada sahutan sekalipun dari dalam kamar puteranya. Akhirnya Nindi pun memutuskan untuk masuk kedalam, dimana ia begitu terkejut saat puteranya sudah tidak ada di dalam kamarnya, benar benar tidak ada, padahal waktu masih menunjukan pukul delapan pagi.


Segera saja Nindi keluar dari kamar dan bergegas turun dari lantai atas, menuju kearah meja makan, dimana Arga sudah siap siap akan berangkat ke kantor.


Saat itu Arga hanya diam saja, namun Nindi benar benar panik, sangat panik.


"Sayang...kamu ini anak hilang kenapa malah tidak khawatir? kamu ini punya banyak orang...panggil lah mereka...suruh mereka mencari Gandi, kamu ini..." Ucap Nindi yang nerocos tidak karuan karena sang suami masih terdiam mematung di tempatnya.


"Cup." Arga hanya membalas ocehan istrinya dengan kecupan ringanya saja.


"Kamu ini! anak hilang masih bisa bisanya!" Ucap Nindi dengan dengusan kesalnya.


"Gimana aku mau ngomong? mau menjawab? kalau kamu saja nerocos dari tadi tidak ada spasinya, tidak ada jedanya." Ucap Arga yang sudah menepuk kedua pundak Nindi agar istrinya itu lebih tenang.


"Tenang sayang...aku yang memberi tahu Gandi, kalau hari ini jam setengah sembilan nanti...Keyra akan berangkat ke luar Negeri, anak itu pasti ingin melihat Key untuk yang terakhir kali, sebelum ia benar benar tidak bisa bertemu dengan Keyra, mengerti?!" Ucap Arga dengan wajah yang tepat di depan wajah sang istri.


"Nah...kenapa aku harus menyuruh orang? Gandi sudah besar...dia bisa mengambil sikap bijak, kenapa kita harus khawatir? aku paham...kamu mamanya...kamu cemas...tapi aku yang lebih takut, aku takut cinta Gandi sama seperti ku, seperti cintaku padamu, tidak bisa pindah ke lain hati, jika benar demikian...Gandi akan sangat tersiksa sayang...mengerti? kita tidak tahu bagimana perasaan Keyra bukan? siapa tahu disana dia mendapatkan pengganti Gandi, tapi putera kita? kau tahu sendiri watak anak itu, aku pun takut, sama sepertimu...kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik saja untuk anak kita bukan? sudah ya...jangan khawatir...apa aku libur kerja saja untuk menemanimu?" Ucap Arga yang menenangkan bagi Nindi, ia sudah tidak tahu lagi jika tidak ada suaminya disaat sifatnya yang begitu meledak ledak seperti itu tidak akan berhenti jika tidak ada yang menenangkan.