
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu saja, hari itu sudah hampir pukul lima sore, Terlihat Vanya tengah menempel pada Evan, meski Evan merasa risi, ia hanya diam dan membiarkanya saja, Evan berharap, semakin waktu berlalu tanpa tanggapanya sekalipun, Vanya mengerti akan sikapnya, dan pergi dengan sendirinya tanpa usiran kasar darinya, sudah dua tahun Vanya terus mengejarnya, namun ia tetap gigih sampai detik itu.
Ramai situasi sore itu, terlihat Evan, Reza, serta Gandi yang hanya duduk duduk saja di tepian pantai, tak lupa si Vanya yang ikut duduk pula di samping Evan.
Berbeda dengan Eric, ia tampak riang ikut bermain bola voli, namun Gandi bukanya menikmati udara sore yang meriah di depan matanya, ia malah mencari keberadaan cewek yang pernah ia juluki si gendut, entah kenapa dalam hatinya seakan ingin mengetahui apa yang tengah si gendut lakukan.
"Kau kenapa Gan?" Tanya Reza yang ada di sampingnya.
"Emb...nggak apa apa Za, lagi nyari burung camar, kali aja ada yang nyangkut." Ucap Gandi dengan asal asalanya.
"Hingga ia lihat samar samar di kejauhan, nampak sosok yang ia cari itu tengah berjalan jalan sendirian dengan membawa satu ranting kayu yang ada di salah satu tanganya.
"Za...Van...aku tinggal sebentar ya..." Ucap Gandi yang sudah berdiri dari duduknya dan berdiri.
"Gan...kunci kamar mu sudah belum? nggak lupa kan?" Tanya Evan yang mengingatkan. Karena di antara para siswa siswi diperbolehkan memesan kamar sesuai keinginanya sendiri jika kurang puas dengan kamar yang di pesankan pak guru pembimbing nya, dimana kamarnya biasanya di isi tiga sampai empat orang, kebetulan Evan, Reza, Gandi dan Eric ikut memesan kamarnya sendiri sendiri saat itu.
"Nih..." Ucap Gandi sembari mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya dan memasukanya lagi, lalu ia berjalan cepat meninggalkan sekelompok sahabatnya tersebut.
"Key...ngapain kamu sendirian disini?" Tanya Gandi saat ia sudah berada di dekat Keyra.
"Oh...kamu lagi Gand...nih lagi main pasir, nggak tahu kenapa aku malah lebih suka sendiri saja Gand..." Ucap Keyra dengan senyum yang terlihat lesung pipi samar di pipi chubby Key.
"Key...apaan sih ini?" Ucap penasaran Gandi sembari tanpa sadar menyomot pipi Key seketika dengan kedua tanganya.
"Aduh Gan...apaan sih? sakit tahu...pipi aku udah gembul makin melar ntar!" Ucap Key yang seketika menyadarkan Gandi dari sikapnya barusan.
"Akh...maaf maaf Key...habisnya tadi samar samar aku lihatnya tahu!" Ucap Gandi dengan senyum yang ia paksakan, hingga ia tertawa saat key menekan nekan kedua pipinya dengan telapak tanganya.
"Akh...Key udah lah sakit perut aku lihat kamu kocak gitu." Ucap Gandi tiba tiba dengan tangan yang mengelus perutnya.
Hingga terlihat sekumpulan gadis gadis yang cantik rupawan datang ke arah Gandi, ada sekitar empat orang.
"Hai Gan...kok kamu malah sendirian disini sih?" Ucap salah satu gadis yang berjajar di depan Gandi, dan saat itu tak terlihat lagi Keyra di depanya.
"Akh sakit..." Desis Keyra yang tengah jongkok di belakang para gadis gadis di belakangnya, ternyata kakinya tengah berdarah, ia merasa salah satu dari ke empat teman sekolahnya itu telah menginjaknya tadi, namun ia hanya diam sambil memijit mijitnya saja.
"Astaga!" Teriak Gandi saat seketika ia terjekal tubuh Key yang ada di bawahnya dan membuat Gandi terjatuh seketika, ia tersungkur ke pasir pantai sembari tengkurap.
"Hei...lu nggak lihat lihat apa! pangeran gue lu buat jatoh...dadar gendut!" Ucap salah seorang dan di ikuti ke tiganya, lalu dengan segera ke empatnya mencoba membantu Gandi untuk berdiri.
"Akh...maaf Gand...aku nggak sengaja...aku nggak tahu..." Ucap Keyra yang lalu pergi begitu saja meninggalkan Gandi dan ke empat gadis yang sedang mengerubutinya, dengan langkah terpincang pincang yang terlihat ia paksakan.
"Akh lu pada ngapain sih...udah udah aku nggak apa apa tahu..." Ucap Gandi yang bergegas pergi dari tempatnya, ia berusaha mengejar Keyra yang sudah berjalan beberapa meter dari depanya.
"Key...tunggu!" Teriak Gandi namun tidak di gubris Keyra, ia memang sengaja tidak menanggapinya, ia berharap bisa jauh dari Gandi, Keyra tidak ingin membuat masalah di waktu yang kurang dari setahun di sekolahnya itu, terlebih lagi Keyra tak ingin membuat masalah papa dan mamanya karena ulahnya lagi, Key begitu takut nama baik kedua orang tuanya tercoreng karenanya jika ia sampai menyinggung siswi lain, karena Key tahu, semua siswa siswi yang bersekolah di sekolahanya, kebanyakan anak orang ternama, dan terpandang.
Meski Keyra termasuk salah satunya, namun wataknya tidak pernah menyombongkan kedudukan papanya, ia malah sering di manfaatkan jika ada yang mengetahuinya, ia lebih suka di perlakukan biasa saja, tanpa embel embel Abiyasa di belakangnya, karena Keyra sangat menghormati nama tersebut.
"Heh lu nggak dengar? apa pura pura nggak dengar aku panggil teriak teriak dari tadi?" Tanya Gandi saat sudah mendahului Keyra di depanya, ia melihat dari tadi Keyra tengah berjalan sembari terpincang pincang.
"Nggak Gand...lebih baik cowok populer kayak kamu nggak dekat sama aku Gand..." Ucap Keyra lagi.
"Ngomong apaan sih Key! lah...itu kaki kamu kenapa Key?" Ucap Gandi yang tidak menggubris apa yang temanya itu katakan, hingga seketika Gandi berjongkok dan memegangi kaki Keyra yang sedang sakit.
"Key...ini berdarah...ntar bengkak loh kalau kamu paksain berjalan terus, sok sok an lari larian lagi!" Ucap Gandi yang langsung menarik tangan Keyra agar duduk di sampingnya, Gandi tahu apa sebab kaki Key berdarah, namun ia memilih diam seolah ia tidak tahu apa apa, mungkin dengan demikian, Keyra akan merasa lebih baik baik saja.
Lalu Keyra pun terpaksa ikut duduk di samping Gandi, menatap ke tengah lautan yang makin sore makin tinggi ombaknya.
Hingga beberapa saat, hening...sepi...hanya suara air laut dan desiran angin yang berhembus, keduanya memilih untuk diam dan tidak tahu harus memulai perbincangan yang seperti apa.
"Key...kamu harus bisa lewati hari hari yang tinggal satu tahun lagi, satu tahun lagi kita di sekolah yang penuh dengan anak anak yang masih labil, termasuk aku juga sih...!" Ucap Gandi sembari melirik kearah Keyra.
Namun Keyra hanya diam saja, seolah tidak mendengarkan apa yang Gandi ucapkan barusan, Keyra menatap lurus kedepan tanpa menoleh ke arahnya.
"Key...bisa nggak sih lu hargain orang yang sedang ngomong!?" Dengus Gandi dengan kesalnya.
Namun Keyra lagi lagi tidak menggubrisnya, Gandi baru sadar saat satu tangan Keyra tengah memaksa dagunya untuk menoleh kearah depanya, dimana saat itu seketika matanya terbelalak lebar, di lihatinya lukisan alam yang nyata terhampar di depanya. Matahari terbenam di ujung lautan.