THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Rasa itu



Terpaksa Evan merelakan kepergian Vanya hari itu, iapun segera bergegas menuju ke rumah Gandi. Hingga beberapa saat...


"Kakak...kakak ipar..." sapa Evan pada Nindi dan juga Arga, lalu memeluk kakak iparnya, kebetulan keduanya tengah duduk dimeja makan, sedang melangsungkan sarapannya yang belum usai.


"Tumben Van, biasanya sibuk?" ucap Arga pada adik iparnya.


"Sini Van, sarapan sama sama." Ucap Nindi pada sang adik.


"Iya kak makasi...sudah sarapan tadi, ini...Gandi minta aku datang kak...aku ke kamar dulu ya..." ucap Evan yang membuat Nindi serta Arga saling menatap satu sama lain.


"Kapan Gandi pulangnya sayang?" tanya Arga pada sang istri.


"Tidak tahu...apa kita mendekat saja kesana?" tanya Nindi pada suaminya, namun Arga melarangnya, membiarkan Evan dan Gandi berdua.


Dikamar Gandi.


"Astaga Gand! tangan kamu kenapa?" tanya Evan yang begitu keheranan saat melihat lengan tangan Gandi yang tengah diperban.


"Luka kecil Van, nggak apa apa." Ucap Gandi yang mengisyaratkan Evan harus duduk disampingnya. Itupun Gandi bisa menahan jarum karena yang menyentuhnya adalah Keyra.


Evan pun turut duduk di samping Gandi, di tepian ranjang tempat tidur Gandi.


"Van...bagaimana menurutmu, saat setelah sekian tahun lamanya kamu tidak bertemu dengan orang yang sangat kamu cintai dan rindukan? lalu tiba tiba orang itu ada di depanmu, apakah sekedar ciuman itu adalah hal yang memalukan?" ucap Gandi yang membuat Evan tersentak kaget, dimana saat itu Evan langsung membayangkan pertemuannya tadi dengan Vanya yang bukan hanya sekedar ciuman biasa yang keduanya lakukan.


"Van! kok malah bengong! ngelamunin apaan sih? aku tanya sungguh sungguh." Ucap Gandi dengan nada sedikit meninggi, membuat Evan tersentak kaget di buatnya.


"Akh...sepertinya tidak apa apa, kalau aku jadi kamu, pasti aku kejar!" ucap Evan dengan mantapnya, mengingat keduanya saat itu termasuk usahawan muda yang sukses, yang memiliki segalanya, kecuali kekasih.


"Betul kan Van...dikejar...oke pasti aku akan kejar, tapi...saat kamu tahu dia punya mantan Van! bagaimana? atau mantannya banyak?" ucap Gandi yang merasa hatinya cukup berat saat mengingat ucapan Key kemarin.


"Jangankan hanya mantan Gand, itu pun belum ada janur kuning yang melengkung, meskipun sudah bersuami pun aku akan ambil lagi sekarang!" ucap Evan dengan serius dan terlihat mantap. Membuat Gandi menyipitkan kedua matanya melirik kearah Evan, yang disambut lelaki disampingnya itu dengan sunggingan senyum yang ia paksakan.


"Kamu gila ya? jauh amat mikirnya! Key yang aku maksud! bukan gadis lain! yang bener saja Key sudah bersuami." Ucap Gandi yang lalu merebahkan tubuhnya lagi secara perlahan. Dan Evan asal bicara, karena yang ia gambarkan saat itu hanya Vanya.


Di hotel tempat Eric, ia membuka kedua matanya pagi itu, kepalanya berat dan masih pening ia rasakan, tatapannya tertuju pada gadis yang masih terlelap dipelukannya, pakaiannya masih utuh disana, tidurnya terlihat sangat nyenyak, sedangkan dirinya hanya mengenajan celananya saja, tanpa kemeja. Ia bertelanjang dada setelah semalam melepas pakaiannya.


Eric menatap lekat wajah calon istrinya, ia baru menyadari wajah itu begitu rupawan saat itu. Wajah wanita yang menjadi jodohnya.


"Cup." Eric mengecup pipi gadis itu, sembari menarik perlahan lengan tangannya yang ia rasa begitu kebas dan kesemutan.


"Morning..." sapa Nora yang lalu menarik lengan Eric agar tidak bangkit dari tidurnya.


"Want to continue last night? ( mau melanjutkan yang semalam?)" tanya Eric dengan bisikannya, Eric mengalah dan turut tiduran kembali ketempatnya semula. Namun gadis itu malah tersenyum kearahnya.


Seolah memiliki tenaga, Eric mencumbu Nora disana, meluapkan kebahagiaan yang sudah sekian tahun Eric inginkan.


"This time for real? (kali ini sungguhan?)" ucap Eric di sela ciumannya, dan Nora hanya mengangguk mantap sebagai jawabannya. Keduanya melanjutkan aksi intensnya pagi itu, namun tidak sampai kebablasan, Eric bisa menahannya, menjaganya sampai tunangannya itu sah menjadi istrinya, meski sejak saat itu Nora lebih agresip padanya. Keduanya memutuskan untuk menikah minggu itu juga.


Pernikahan Eric dan Nora lebih cepat jika dibanding dengan pernikahan Reza dan Qiran.


Ditempat Gandi, Reza keluar kamar dengan Gandi, menuruni anak tangga menuju ke ruang keluarga, dimana Nindi dan Arga saat itu tengah disana.


"Astaga sayang lengan tangan kamu kenapa?" ucap Nindi yang begitu khawatir bercampur kaget dan segera berhambur kearah Gandi.


"Tidak apa apa mah..." ucap Gandi pada mamanya, saat ia melihat mamanya begitu khawatir. Lalu ikut duduk di samping Evan.


"Kalian ini aneh, tahun baru nggak keluar kencan?" ucap Nindi pada puteranya, dan kamu Gand...malah luka seperti ini!" dengus Nimdi kesal.


"Luka ini pembawa kebahagiaan tahu mah...akh...tahu nggak? ini Key yang jahit..." ucap Gandi yang membuat papa dan mamanya bengong.


"Sayang kamu sudah bertemu Key?" ucap mama Gandi dengan antusiasnya.


"Sudah mah...di UGD rumah sakit Kota." Ucap Gandi dengan senyuman yang mengembang, meski akhirnya ia kena tamparan Key saat itu, namun ia bahagia.


"Oh ya kak...lusa ada pembukaan diperusahaan anak cabang, kakak bisa hadir juga tidak?" ucap Evan pada kedua kakaknya.


"Hemmmz Van...bukannya kakak tidak mau datang...tapi besok kakak sudah terbang ke luar Negeri, biar Gandi yang mewakili ya?" ucap Arga yang mendapat anggukan dari Evan.


"Oh ya Gand...kan papa juga keluar Negerinya sama om Abiyasa, kita kan jadi partner...nanti papa akan bilang ke om Abiyasa biar Key yang mewakilinya, kan Key juga belum masuk kerja kan?" ucap Arga yang membuat Gandi berbinar senang.


"Papa...aku sangat sayang papa." Ucap Gandi dengan mantapnya. Hari itu pun berakhir, hari hari seperti biasa Evan dan Gandi lewati, dimana karena sakit ditangannya, Gandi tidak diperbolehkan keluar kemana mana, dan Evan yang sengaja setiap hari berlalu lalang di depan rumah Vanya pun tidak mendapati gadis itu disana.


Hingga malam itu, tepat acara di perusahaan Evan, disana terlihat Evan, Gandi, Reza, dan Eric tengah berkumpul, Reza ditemani tunangannya, Eric pun ditemani Nora.


Terlihat dari kejauhan Key pun datang sendirian, dimana saat itu, Gandi terperangah menatap gadis cantik yang tengah ia rindukan, namun saat Gandi akan mendekat ke arahnya, terlihat seorang lelaki yang menyusul dari belakang Key, membuat Gandi menghentikan langkahnya.


Tidak jauh beda dari Gandi, Evan pun terperanjat saat melihat Vanya datang dengan menggandeng tangan Dion, sengaja Evan mengundang Dion disana, karena ia merindukan Vanya.


"Oh...pak Evan...selamat atas pembukaan perusahaan barunya..." ucap Dion sembari mendekat kearah Evan dan menyalaminya.


"Ini..." ucap Evan yang menunjuk kearah Vanya dengan matanya.


"Oh perkenalkan...ini istri saya, Vanya!" ucap Dion yang memperkenalkan.


"Sangat cantik." Ucap Evan sembari tersenyum menatap kearah Vanya.