
"Kak...pastikan saat kita datang nanti...jangan merasa kita salah pada wanita wanita itu...oke? kau harus mendukungku kak...agar semua berjalan lancar...kakak juga yang ingin iga bakar kan?" Ucap Arga yang menerangkan pada kakaknya sebelum turun dari dalam mobilnya.
"Aku kan aslinya nggak begitu ingin iga bakar ga...kamu aja yang lagi pingin kikil kan katanya tadi, makanya aku ngikut aja deh...akh udah ayo turun...kelamaan di dalam mobil malah curiga ntar mereka." Ucap Aditya yang langsung membuka pintu mobilnya dan turun darisana.
Mobil yang sengaja Arga parkir di pelataran rumahnya sendiri dan sengaja menuju ke rumah kakaknya hanya dengan berjalan kaki.
"hai sayang..." Ucap Aditya sembari menghampiri sang istri yang terlihat masih menikmati iga bakar di tanganya.
Namun Ifa terlihat cuek dan tetap melanjutkan makanya, sedangkan Nindi pun masih terlihar menikmati kikil kambing yang sudah mengelupas daging dan kulitnya hampir copot dari tulangnya saking empuknya.
"Hai sayangku...!" Sapa Arga yang kemudian ikut menghampiri sang istri dan langsung mengecup puncak kepalanya.
"Sudah dapat yang di cari? sudah makan?" Tanya Nindi pada sang suami, lalu Arga pun langsung menunduk dan ikut menggigit kulit daging yang ada di tangan sang istri.
"Mau?" Tanya Nindi lagi, dan kini menyodorkan miliknya untuk Arga, dan Arga pun segera menerimanya dan menikmatinya.
"Mau juga bby?" Tanya Ifa pada sang suami pula, dan Aditya pun terlihat manggut manggut mengiyakanya, segera saja Aditya pun ikut menikmati pula makanan milik sang istri, iga bakar yang masih hangat hangat kuku.
"Kalian keluar sejam lebih dapat apa aja sih? sok sok an nggak mau ngajak kita, pakai alasan ntar kita kecapaian pula...nggak tahu apa kita kita ini sekuat apa!" Ucap Nindi yang tengah menyindir kedua lelaki yang tengah menikmati makanan yang mereka inginkan.
"Iya iya...sayang...maaf...maaf...kami salah...!" Ucap Arga menerangkan.
"Kok kami sih ga? kamu aja kali...aku enggak! aku kan cuma ngikut aja...kamu yang ajak!" Ucap Aditya yang tidak mendukung ucapan adiknya.
"Aiiiz....awas kau kak...lihat saja ntar...tunggu saja...disuruh belain malah ngancurin!" Ucap Arga dalam hatinya, dengan lirikan mata yang menatap tajam ke arah Aditya, namun dengan seketika Aditya menoleh ke arah lain dan terkesan tidak melihat lirikan tajam dari mata adiknya.
Hingga hari itu berlalu dengan sangat cepatnya, nampak ke empatnya sudah merasa kekenyangan, dan makanan pun masih sisa banyak, jadi Ifa dan Nindi sepakat untuk memberikanya pada bibi bibi mereka untuk di bungkus dan di bawa pulang hari itu.
Dan akhirnya Nindi dan Arga pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Sayang...kok diem aja sih? kenapa? masih marah? akh...ayok deh...nanti kita jalan jalan sendiri yuk...!" Ucap Arga sembari menggenggam jemari sang istri dan sedikit menariknya agar jalanya sepadan denganya beriringan di sampingnya, karena sang istri sudah berjalan lebih cepat beberapa langkah di depanya.
"Emb...oke baiklah...aku akan siap siap..." Ucap Nindi dengan tangan yang memegang perutnya, ia merasa sedikit keram di sana, sontak membuat Arga ikut meringis dan menopang tubuh sang istri.
"Sayang kamu kenapa? kamu tak apa apa kan?" Tanya Arga dengan sangat khawatirnya.
"Huooook....huuuooook....!" Tiba tiba Nindi mual mual dan memuntahkan semua isi perutnya di area pekarangan rumahnya, lalu tubuhnya lemas seketika, lunglai di pelukan sang suami.
Dengan segera Arga pun membopong tubuh sang istri, membawanya masuk kedalam rumah.
"Ga....aku merasa nggak nyaman...aku mau muntah lagi ga..." Ucap Nindi dengan rasa mual yang berlebihan, kini ia pun mual dan muntah di wastafel dekat dapurnya, ia sudah tidak bisa menahanya lagi.
"Aduh sayang...aku harus bagaimana ini? aku harus apa sayang?" Ucap Arga dengan tangan yang tengah menopang tubuh sang istri.
Dengan segera Arga mengantar sang istri sampai kamarnya, membuka pintu kamar dan mengajaknya masuk kedalam, kemudian menidurkanya ke atas pembaringan.
"Sayang...dengerin papa ya...kamu jangan buat sakit mama, kalau mama kamu sakit...nanti kamu bisa lapar sayang...karena mama kamu muntah muntah terus..." Ucap Arga yang mengelus perut sang istri lalu menundukan wajahnya tepat di perut sang istri dan berbisik lirih disana, tak lupa ia pun mengecupnya beberapa kali.
Hingga hari berganti dan esok menjelang, hari itu Arga tidak bisa meninggalkan sang istri sendirian, namun ia ada pertemuan penting dengan klien nya, sudah beberapa kali kepending karena Arga tepar, dan tidak bisa di wakilkan pada asistenya lagi.
"Sayang...bangun..." Ucap Arga yang terlihat sudah rapi dengan pakaian kantornya lengkap, tinggal jas saja yang belum ia kenakan, semua sudah siap dan tinggal kekantor saja.
"Sayang...bangun...hari ini aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian...kamu aku antar ke rumah mama ya...ayo sayang...bangun...!" Ucap lembut Arga sembari mengelus pipi sang istri di atas ranjangnya, dan Nindi dengan mata sayup sayup terbukanya malah merangkul leher sang suami dengan manjanya.
"Sayang...bukan waktunya manja...! aku bisa telat sayang kalau kamu kayak gini...kau tahu kan aku tak bisa menolak nya untuk sebentar saja!" Ucap Arga yang tengah berusaha melepas pelukan sang istri dari lehernya, namun Nindi makin mengeratkan pelukanya dan malah mengendus endus leher sang suami, yang makin membuat Arga bergidik merinding dibuatnya.
"Sayang...aku suka wangi ini...aku menyukai bau wangimu sayang...!" Ucap Nindi sambil mengendus endusnya dan menyesapnya, membuat Arga hilang kendali akan dirinya dan ikut menyambut sang istri dalam pelukanya, melanjutkan sesuatu yang sudah beberapa hari tertunda,
hingga keduanya bergumul dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya.
Keduanya larut dalam hubungan intens yang syahdu, hingga tanpa terasa satu jam sudah waktu berlalu, dan Arga tidak menyadarinya bahwa ia sudah terlambat.
"Akh sayang...aku terlambat kan beneran...!" Ucap Arga yang tengah melihat jam yang sudah melingkar di pergelangan tanganya, dengan segera ia pun menyambar pakaianya dan memakainya lagi, tergesa gesa dengan dasi yang masih mengalung di lehernya.
"Sayang...hati hati...aku dirumah saja...sama bibi...!" Ucap Nindi dengan sedikit teriakanya, saat sang suami bergegas keluar dari dalam kamarnya.
"Akh...kenapa aku bisa sesuka itu sih denganya? akh makin suka saat melihatnya memakai pakaian kerja...!" Ucap Nindi dengan wajah bersemu merah dan sangat mengagumi sang suami.
Hingga beberapa saat, terdengar ponselnya tengah berbunyi, segera saja Nindi mengambilnya dan menatap pada layar ponselnya. "Mama," Ucap Nindi seketika.
"Halo mah...ada apa mama?" Tanya Nindi saat baru saja mengangkat panggilan telephone mamanya.
"Sayang...sebentar lagi mama perjalanan kesana, kamu mau di bawain apa sih?" Tanya Anin pada puterinya,
"Loh...kok mama mau kesini mendadak?" Tanya Nindi pada mamanya.
"Tadi suamimu telephone mama...katanya kamu mual mual muntah gitu...dia nggak tega ninggalin kamu sama bibi...
jadi Arga minta tolong mama untuk nemeni kamu, jagain kamu sampai siang aja...gitu sih katanya tadi..." Ucap mama yang menerangkan.
"Suamiku...kamu manis banget sih...akh...aku kangen..." Ucap lebay Nindi dengan senyum bahagia di bibirnya.
Meski sang suami tengah repot karena pekerjaanya, tapi ia tetap mengutamakanya dan calon buah hatinya.