
Namun Eric tidak menghiraukan kata kata Gandi, ia terus saja memeluk tubuh sahabatnya itu dengan sendu.
"Ada apa?" ucap Gandi saat ia merasa pelukan Eric kuat memeluknya. Gandi hanya membirkannya saja, pelukan erat Eric yang memeluknya. Hingga lelaki itu mengendurkn pelukannya dan melepaskannya.
"Gue di jodohin Gand sama papa mama gue." Ucap Eric dengan lesunya. Namun Gandi malah tertawa terbahak, Gandi merasa Eric tengah melucu disana, dan membuatnya geli ingin tertawa.
"Gand, gue nggak lagi bercanda ya...gue serius." Ucap Eric yang seketika membuat Gandi menghentikan tawanya dan terdiam mematung sesaat menatap kearah Eric.
"Lu yang bener Ric, nggak lucu tahu bercandanya!" ucap Gandi dengan kedua tangan yang mengguncang guncang kedua pundak teman di depannya.
"Gue serius Gand...kalau gue nggak galau, nggak mungkin gue kemari..." ucap Eric dengan sendunya, sampai akhirnya Gandi mengajak Eric masuk ke kamarnya, tidak lupa sebelum naik ke lantai atas, Eric menyapa Arga dan Nindi terlebih dahulu, baru mengikuti Gandi ke kamarnya.
Sedangkan di dalam kamar Nindi, ia tengah mengangkat panggilan dari Yura.
"Iya Ra, ada apa?" tanya Nindi saat ia sudah naik ke atas ranjangnya, saat itu pula Arga yang masih menatap layar laptop di sampingnya pun ikut menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah sang istri, tatapannya seolah bertanya pada Nindi, dan Nindi dengan kedua pundak yang terangkat sesaat sebagai balasannya.
"Apa Eric kesana?" tanya Yura pada sahabatnya itu.
"Iya Ra, dia baru saja masuk ke kamar Gandi." Ucap Nindi yang menerangkan, dan Yura hanya berpesan pada sahabatnya itu, jika Eric menginp disana pun biarkan saja, saat itu Yura paling mengerti apa yang Eric rasakan. Lalu menyudahi panggilannya.
Dikamar Gandi, Eric menceritakan semuanya, tanpa terkecuali.
"Ric, mana ada orang tua di dunia ini yang ingin anaknya menderita? jika ada jalan lain, atau jika bisa mama atau papa kamu yang maju, pasti sudah mereka lakukan, namun sepertinya tidak ada jalan lain, dan kita masih belum cukup dewasa untuk mengetahui alasan mereka." Ucap Gandi yang menenangkan, dan perlahan lahan hati Eric yang mulanya remuk itu pun kian lama kian menghangat. Dan tanpa terasa ia pun tertidur.
Hari itu Gandi dan Eric pun pergi bersama sama pula menuju ke kampusnya, pikiran Eric sudah mulai bisa menerima semuanya, terlebih lagi ia tidak percaya takdir, karena ia sudah beberapa kali putus hubungan dengan lawan jenisnya, terlebih ia tidak percaya dengan yang namanya cinta pertama, ia adalah kebalikannya dari Gandi, sedangkan Gandi yang mempercayai cinta pertamanya pasti akan abadi, meski saat itu ia dan Keyra tengah berpisah.
Tanpa terasa sembilan tahun pun berlalu, ke empatnya melewati hari hari yang bahagia, dan penuh dengan warna, Evan yang masih setia menjomblo, karena ia merasa hatinya telah lama mati untuk yang namanya cinta, selama itu pula ia belum pernah sekalipun untuk bertemu dengan Vanya, bahkan lelaki itu sudah tidak mau melihat atau mendengar berita tentang Vanya, meski ia jelas tahu, bahwa Vanya sudah menikah beberapa tahun yang lalu. Evan menjadi pengusaha muda yang sukses, ia tengah mewarisi perusahaan papanya, bahkan ia merambah dunia property sebagai usaha baru yang membuatnya tertantang.
Sedangkan Reza, kini ia sudah menjadi pebisnis sukses seperti Aditya, meski ia baru akan menikah dengan Qirani lima bulan yang akan datang, karena ia harus bolak balik menyelesaikan tugasnya di dalam Negeri dan luar Negeri, sebelum akhirnya menetap.
Dan Eric, ia masih menunggu waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan, karena ia pikir Nora tidak menyukainya dan mau menikah dengannya hanya karena tuntutan papanya, dan bahkan wanita itu sempat berpikir bahwa setelah ia mendapatkan anak dari pernikahannya, ia akan berpisah dengan Eric, disanalah Eric masih mengulur waktu agar wanita itu menyadari betapa ia sudah mulai benar benar menyukainya, jika hanya untuk memutus hubungan dan mengambil perusahaan kedua orang tuanya saja, Eric sudah mampu saat itu, ia pun sudah sukses dengan usahanya sendiri yang membangun perusahaan Game dan sudah merambah luar Negeri, ia kian tertantang untuk menahklukan hati wanita yang sudah sembilan tahun menjadi tunangannya itu.
Dan yang paling menggemparkan adalah Gandi, ia menjelma menjadi usahawan muda yang paling populer dikalangan gadis gadis, usahanya melejit melebihi yang papanya miliki, anak buahnya melebihi pimpinan suatu Negara, bahkan hanya tersenyum atau mengedipkan mata saja lawanya sudah ketakutan luar biasa. Dari sana membuat semua teman teman Gandi sangat beruntung berteman dengan nya. Termasuk Evan, Reza, dan Eric. Ke empatnya menjadi usahawan muda yang sukses. Tampangnya pun tidak luput dari perhatian para pencari berita, melebihi artis idola, usaha dan ketenaran ke empatnya serta foto foto terbaru yang sering nampang dan terpajang di berbagai sosial media, bahkan sering muncul di berbagai sampul majalah dan tawaran mengisi sebuah acara terus membuat ke empatnya terkenal di beberapa Negara. Menjadi orang paling populer dan sukses di masanya.
"Mama...papa..." sapa Key pada kedua orang tuanya, sembari menyeret koper besar miliknya yang baru pak supir turunkan dari mobil taksi yang di tumpanginya. Ternyata Key pulang ke Negara asalnya tanpa memberi tahu kedua orang tuanya.
"Halo sayang...astaga, kamu pulang kok nggak ngabarin kami? kan papa bisa jemput..." ucap mama Key pada anak gadisnya setelah berpelukan disana, dan bergantian memeluk papanya.
"Hei...pacarnya mana? kok nggak di bawa?" tanya Abiyasa yang menggoda, ia ingin memastikan sesuatu saja disana.
"Papa apaan sih? pacar, pacar! Key sibuk ngurus kepindahan Key dari Rumah sakit sana papa...nggak ada waktu untuk pacaran." Ucap jujur Key yang selama sembilan tahun itu ia lewatkan untuk menuntut ilmu dan melakukan penelitian saja, sengaja ia menyibukan dirinya sendiri, bahkan untuk pacaran pun ia tidak sempat.
Esok adalah penghujung tahun, Key menyempatkan pulang setelah tiga tahun ia tidak pulang sama sekali karena kesibukannya, ia ingin malam tahun baru esok melewatinya bersama dengan keluarga, atau sekedar makan malam biasa. Key sangat merindukan saat saat seperti itu yang sudah ia lewati begitu saja.
Abiyasa pun begitu lega saat mendengar puterinya berkata demikian, Abiyasa sangat menginginkan Gandi menjadi suami Key, menjadi menantunya, mungkin dulu karena pertemanannya yang kuat dengan Arga, bahkan hingga saat itu, meski tidak se akrab yang dulu, bahkan siapa yang tidak akan melirik pemuda sukses itu dan mengimpikannya menjadi bagian keluarganya. Pasti semua menginginkannya, termasuk papa Key. Papa Key sangat mengharapkannya. Seribu lelaki tampan hanya ada satu yang seperti Gandi. Itu bagi papa Keyra.