THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Manis



Disaan Gandi dan Keyra tengah duduk berdua saja, di tempat duduk yang Evan tempati, nampak Vanya mengeratkan rangkulan tanganya pada lengan Evan, ia terlihat tengah terengah engah.


"Van...kamu kenapa? nggak usah bercanda deh...nggak lucu." Ucap Evan, saat ia rasa perilaku Vanya terasa sedikit aneh ia lihat.


"Van...nafas...nafas buatan Van...beri aku...!" Ucap Vanya dengan tangan yang menarik narik kerah Evan, namun sayang, si Eric dan Reza tengah pergi mengembalikan piring yang makananya sudah habis dimakanya ke arah tempat yang di tunjuk khusus untuk menaruh piring kotor.


"Jangan ngarep deh Van, kamu ini kenapa?" Ucap tanya Evan yang makin kebingungan saat Vanya semakin seperti orang tercekik.


Dan tanpa pikir panjang, Evan langsung berteriak memanggil pak guru dan bu guru yang ada disana, dan dengan segera semua guru yang ada berhambur datang mendekat kearah Evan dan Vanya.


Semua begitu panik, apa lagi asisten Vanya yang sampai bisa kecolongan, nona mudanya hingga dilarikan ke rumah sakit terdekat.


"Ada apa sih Van? kenapa dengam Vanya? masak iya kamu tolak bisa langsung masuk rumah sakit?" Tanya Gandi, saat ke empatnya berkumpul dan di tambah Keyra yang ikut pula.


"Aku nggak tahu Gand...aku benar benar nggak tahu...aku juga nggak ngomong apa apa." Ucap Evan menerangkan.


Hingga si asisten datang ke arah kelimanya, dan mencoba satu persatu sisa makanan yang Vanya makan tadi.


Saat itu, entah mengapa Evan ingin bertanya, namun ia urungkan, ia hanya diam dan menunggu untuk asisten Vanya lah yang bertanya padanya, Evan menyadari, saat Vanya butuh tambahan oksigen, ternyata itu bukan bercanda atau main main.


"Sebenarnya Vanya kenapa sih?" Tanya Eric pada asisten Vanya yang ingin tahu, dan pertanyaanya itupun mewakili semua pertanyaan teman teman yang lain.


"Nona saya alergi kacang." Ucap si asisten yang langsung membuat Evan membelalakan matanya, karena Evan lah yang memaksa Vanya untuk memakan kue yang ia suapkan, saat Evan risih mendengar Vanya nerocos cerita di sampingnya, Evan dengan kasar menyumpat mulut Vanya dengan kue kacang di tanganya, dan Evan tidak memastikan apakah kue kacang itu Vanya makan atau Vanya buang.


"Aku ikut ke rumah sakit..." Ucap Evan dengan suara bergetar, tanda ia merasa bersalah, dan si asisten pun mengangguk mengiyakanya.


Seketika ketiga temanya yang lain pun terbengong menyaksikan sikap Evan, ketiganya tidak tahu, bahwa Vanya sekarat karena ulah Evan.


"Terus kita ngapain?" Tanya Reza pada kedua sahabatnya.


"Balik aja ke kamar masing masing." Ucap Keyra yang ikut khawatir, karena beberapa guru mereka ikut mengantar Vanya ke rumah sakit, dan benar saja, usai makan malam itu, semua di infokan untuk masuk ke kamar masing masing.


Di lorong rumah sakit, Nampak Evan dengan langkah yang maju mundur, maju tiga langkah, dan mundur lagi empat langkah, ia sudah melihat sekilas tubuh Vanya tengah terbaring di atas brangkar UGD.


"Van...kamu disini? nggak balik ke hotel sama bu guru dan pak guru tadi?" Tanya pak guru yang akan keluar membeli minuman, karena malam itu di pastikan Vanya menginap di rumah sakit, dan pak guru itu yang akan menjaganya.


"Akh...saya baru datang pak...tadi ikut asisten Vanya." Ucap Evan yang sedikit menahan suaranya.


Kemudian Evan berjalan mendekat kearah tempat Vanya, setelah pak guru pergi, terlihat Vanya berbaring seorang diri disana.


"Duh...jantungku kenapa seperti ini? masak iya aku ketakutan, benar aku yang salah sih, tapi kan aku nggak tahu Vanya alergi kacang, dia juga yang bodoh, tahu kacang masih di makan, di telan pula." Ucap dalam hati Evan, lalu ia duduk di kursi samping tempat tidur Vanya, menungguinya disana.


Evan mengamati wajah cantik putih bersih itu yang damai dan pucat, ia merasa ada yang kurang saat Vanya tidak menempel padanya.


"Akh...apaan sih Van, otak kamu mulai terkontaminasi Gandi!" Ucap dalam hati Evan.


Hingga samar samar Vanya membuka matanya dengan perlahan lahan, orang pertama yang Vanya lihat adalah Evan, dimana hatinya merasa senang saat itu, dari kelas satu dulu, Vanya memang berniat main main mengejar Evan, ia tidak sungguh sungguh ingin mendapatkanya, ia ingin mencampakanya setelah ia bisa mendapatkanya, Vanya tak pernah mendapat penolakan, apa yang ia inginkan selalu terpenuhi, apa yang ia mau selalu bisa ia dapatkan, namum lama kelamaan Vanya jadi benar benar menyukai Evan, sikapnya, sifatnya, semuanya Vanya mengaguminya, dan ia sunghuh sungguh ingin mendapatkanya, baginya...ada seorang cowok yang bersikap konsisten pada pendirianya adalah langka, pasti jika ia menjadi pacarnya, Evan akan sangat setia padanya.


"Van...kamu sudah sadar?" Tanya Evan seketika, sembari sedikit terperanjat dari duduknya.


"Aku nggak pingsan kok Van...aku ketiduran aja." Ucap elakan Vanya agar Evan tidak khawatir, dan saat itu Evan ingin memanggil dokter jaga, agar memeriksa keadaan Vanya.


"Jangan panggil dokter Van, aku ingin berdua saja denganmu, kalau dokter datang, pasti jadi ramai ini tempat." Ucap Vanya sembari meraih sedikit kemeja lengan yang Evan kenakan dan menariknya, hingga Evan kembali terduduk lagi.


"Kau bodoh ya! sudah tahu alergi kacang masih aja kamu makan itu kue." Ucap Evan dengan sungutan marahnya.


"Kamu cakep deh kalau lagi marah Van, terus aja kayak gitu Van, aku lebih suka, daripada kamu yang cuek dingin sama aku." Ucap Vanya dengan senyumanya.


"Aku tanya beneran Van...kamu tahu kalau alergi kacang?" Tanya Evan lagi pada Vanya, dan Vanya hanya membalasnya dengan satu kali anggukan.


"Kamu tahu kamu akan mati jika makan kacang?" Tanya Evan lagi yang memastikan, dan Vanya pun mengangguk sekali lagi.


"Terus kenapa tahu semua itu masih kamu makan itu kue?" Tanya Evan dengan nada meningginya.


"Karena itu suapan pertama dari kamu setelah aku tunggu selama dua tahun Van." Ucap lirih Vanya yang masih lemah.


"Hah...bener bener gila kamu Van, mana ada orang yang percaya kalau kamu sekarang baru anak kelas dua SMP, aku kasih dua jempol untuk peran kamu ini, kebanyakan nonton drama kamu Van." Ucap Evan dengan nerocosnya yang tanpa sadar, namun Vanya malah tersenyum dan menikmati pemandangan yang langka di depanya itu, jarang jarang cowok yang dua tahun ia kejar kejar itu bersikap manis seperti itu.


"Manis." Bisik Vanya tiba tiba.


"Manis apanya, aku lagi marah Van...karena aku yang buat kamu kayak gini, bodoh kamu...dasar bodoh!" Ucap Evan lagi dengan umpatanya.


"Iya Van aku bodoh...jangan cuekin si bodoh ini lagi ya..." Ucap Vanya yang hanya di tanggapi Evan dengan lirikan dan setengah bibirnya yang ia naikan.