
Evan hanya menoleh menatap Vanya dengan dinginya, tanpa ekspresi sekalipun, lalu ia pergi berbalik menuju ke arah ruang kelasnya lagi.
"Van...paling nggak jawab dulu Van...jangn pergi se enaknya aja!" Ucap Vanya dengan sedikit teriakanya, dan seketika itu Evan pun menghentikan langkahnya.
"Jika kau mengajaku mendalami peran artismu, kau salah orang!" Ucap Evan dengan tanpa menoleh, lalu berjalan pergi begitu saja.
"Awas kau Van...di kota ini nggak ada yang berani nolak aku...lihat aja...jangan panggil aku Vanya kalau nggak bisa dapatkan kamu." Ucap Vanya dalam hatinya sembari menatap punggung Evan yang kian menjauh pergi meninggalkanya di koridor sekolah.
"Ada apa Van? kalian bahas apaan?" Tanya Eric yang dilanda kepo.
"Nggak penting!" Ucap Evan dengan nada datarnya.
"Akh lu Van...nggak asyik tahu!" Ucap Eric lagi yang merasa ke kepoanya belum reda.
Hingga tanpa terasa setahun pun sudah berlalu, kini ke empatnya telah naik ke kelas dua, wajah tampan yang punya ciri khas masing masing membuat ke empatnya semakin banyak di idolakan, tak terkecuali si Gandi.
Siang menjelang sore itu, semua siswa berkumpul di lapangan basket, nampak ramai dengan penonton yang antusias melihat penampilan ke empat bintang yang menjadi idolanya, lawanya adalah kelas dari sekolah lain, kedua sekolah tersebut melakukan pertandingan persahabatan dalam rangka penyambutan tahun ajaran baru.
Soal kemampuan ke empat jagoan pun tak perlu di ragukan lagi, sudah menjadi idola sejak kelas satu tahun lalu, bentuk fisik dan stamina yang selalu mendukung keterampilan olah raga basket yang memang ke empatnya gemari.
Hingga cukup lama penonton menunggu, penonton yang terbanyak adalah para siswi yang memenuhi tempat duduk di area penonton.
"Gan...kamu yakin ikutan? kamu sedang nggak fit kan?" Tanya Reza pada anak om nya itu.
"Tenang Za...aku nggak apa apa kok...kalian bakalan kalah kalau aku nggak ikutan." Ucap Gandi dengan tangan yang sudah mulai mengenakan pakaian olah raga khas dari tim basket sekolahanya.
Lalu keseruan mulai pecah saat riyuh para penonton yang memadati tempat itu bersorak bersamaan saat tim Evan keluar menuju ke lapangan, serta memberi hormat dan salam.
Hingga pertandingan pun dimulai, tim Evan sudah memasukan beberapa kali, sedangkan tim lawan belum sama sekali.
Tiba tiba saat itu, Gandi yang berada sedikit ke pinggir lapangan pun merasa kepalanya puyeng dan berkunang kunang, ia merasa sedikit kualahan dan pandanganya menjadi agak kabur.
"Duak...." Tiba tiba bola yang ia lempar mengenai sasaran, bukan sasaran ring, tapi sasaran kepala seseorang yang Gandi tidak tahu, samar samar ia melihat banyak penonton yang berlarian menuji ke arah gadis yang tersungkur tersebut.
"Gan...lu nggak apa apa?" Tanya Evan dan Eric bersamaan yang langsung datang menuju ke arah Gandi, di susul oleh Reza yang datang ke arahnya pula.
"Kepalaku sedikit pusing tadi, sampai pandanganku kabur Van...tapi nggak apa apa sekarang.
Hingga peluit tanda permainan usai dan di menangkan oleh tim Evan.
"Gan...lu nggak mau lihat korban bola lempar lu tadi di UKS?" Tanya Eric pada Gandi.
"Apa separah itu?" Tanya balik Gandi yang merasa sedikit bersalah.
"Walau bagaimanapun lu harus minta maaf Gan...itu kesalahan lu..." Ucap Reza lagi yang mendukung Eric agar Gandi meminta maaf.
"Ya ya...habis ini deh...aku lihat kesana." Ucap Gandi yang langsung mengganti pakaian dan segera pergi, karena jam pelajaran hari itu pun sudah usai.
"Gan...kami mau lanjut main game, lu ikut nggak?" Teriak Eric sebelum Gandi pergi jauh.
"Kami? lu aja aku ogah." Ucap Evan seketika, lalu ikut pergi meninggalkan ruang ganti.
"Za...lu juga mau pulang?" Tanya Eric yang merasa tinggal dirinya dan Reza saja.
"Iya aku juga pulang ric, aku nggak ikut, mau diajak bunda sama papa ku ric, sorry..." Ucap Reza yang berlalu pergi juga meninggalkan Eric sendirian.
"Akh...kalian...!" Ucap Eric dengan dengusan kesalnya.
Di tengah jalan di dekat lapangan basket, seorang gadis cantik tengah berlari menghampiri Evan dengan sekantong kresek cemilan ringan yang di bawanya, tak lupa sebotol minuman isotonic yang Evan suka.
"Van...tunggu!" Ucap si gadis dengan lari cepatnya.
"Huh...akhirnya ke kejar juga!" Ucap Vanya dengan ngos ngosan dan terlihat mengatur nafasnya.
"Nih untukmu." Ucap Vanya sembari memberikan semua yang ia bawa.
"Makasih...tapi aku nggak biasa ngemil." Ucap Evan dan hampir meninggalkan Vanya sendirian, namun dengan cepat Vanya menarik tanganya.
"Meski usahaku setahun lebih sudah nggak pernah kamu hargai, tapi paling nggak terima pemberianku Van..." Ucap Vanya dengan memelasnya.
"Itu urusanmu, bukan urusanku." Ucap Evan sembari mengibaskan pegangan tangan Vanya.
"Akh...dasar brengsek...susah banget sih ngedapetinya, pokoknya sebelum penasaranku terselesaikan...aku nggak bakalan mundur, akan aku kejar terus, Vanya gitu!" Ucap
Vanya dengan angkuhnya, dimana banyak cowok keren yang sudah mengantri hanya untuk bisa mendapatkan cintanya, namun ia hanya penasaran dengan Evan, ia ingin tahu, gimana rasanya menjadi pacar cowok sedingin dan se kasar Evan itu.
Dan tibalah Gandi di depan pintu UKS, dimana saat itu sepi, seperti tak ada orang di dalamnya.
"Tok tok tok!" Suara ketukan Gandi yang memastikan apakah ada orang di dalam atau tidak.
Hingga Gandi akan pergi saat sudah lama mematung di depan pintu yang terbuka itu namun tanpa sahutan sama sekali.
"Masuk..." Ucap suara lihir yang empuk dari dalam, lalu seketika Gandi pun berhenti, ia berbalik lagi sembari melangkah perlahan masuk kedalam ruang UKS.
"Hah...kamu lagi?!" Ucap Gandi dengan nada kagetnya, ia pun merasa kebetulan yang terlalu sering, karena dimana mana ia selalu bertemu dengan si gendut yang membuatnya merasa sial terus saat melihatnya.
"Akh iya maaf ya ketemu lagi." Ucap si gendut yang lalu duduk di atas ranjang UKS.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Gandi lagi, karena harusnya yang ada disana adalah siswi yang tadi kena lemparan bola basketnya.
"Aku kira kau akan minta maaf karena sudah mengenai kepalaku dengan bola basketmu tadi, ternyata aku salah." Ucap si cewek gendut yang lalu pergi meninggalkan Gandi yang masih mematung sendirian.
"Kok bisa dia lagi coba, sial terus bawaanya kalau ketemu dia, eh...niatnya kan minta maaf tadi." Ucap Gandi kemudian segera menyusul si gendut keluar ruang UKS, namum saat Gandi menengok kekanan dan kekiri, memastikan keberadaan si gendut, ia tidak menemukanya.
"Sigendut lincah juga ya jalanya, masak iya bisa ngilang secepat itu sih?" Ucap Gandi dengan gerutunya, karena sosok yang ia cari sudah tidak ia temukan lagi.