
Di sudut sofa yang lain yang berada di dekat yang di tempati Evan dan Gandi, Qirani duduk disana dengan Reza, berjajar berdua, nampak serasi dan adem ayem saja, karena sudah di pastikan Qirani hanya mengisi hatinya dengan Reza, sedangkan Reza yang memang tidak pernah macam macam itu pun hanya memiliki Qirani sebagai kekasihnya, Qirani saat itu selain kuliah pun juga mengurusi perusahaan konveksi miliknya, ia mulai ikut terjun disana dengan bantuan Aditya yang selalu memantau perkembangan pacar puteranya itu, Qirani di terima sangat baik oleh keluarga Reza, dan Qirani pun masih tinggal bersama dengan kedua orang tua Reza, sedangkan Reza yang kuliah di luar Kota bersama dengan Gandi, Evan, dan juga Eric, hanya bisa bertemu dengan kekasihnya itu satu bulan sekali, bisa dipastikan bagaimana rindunya sejoli itu, namun dengan watak Reza, pacaranya baik baik saja, tidak pernah lebih dari sekedar bergandengan tangan atau jalan dan nonton pada umumnya, waktunya habis untuk berkumpul dengan keluarga, Ifa sengaja mengajari anaknya untuk pacaran di rumah saja, lebih aman dan langsung dalam pengawasannya.
Kalau soal kolot, Ifa jagonya, namun Reza dan juga Qirani yang sudah dewasa pun mau mengerti kemauan bunda Ifa, keduanya asyik asyik saja menjalaninya dan mematuhinya.
"Aku merasa jus ini bercampur cuka!" ucap Gandi saat melihat kemesraan Reza dan juga Qirani di sampingnya. Cekikik tawa dan juga sesekali saling menoel pipi satu sama lain.
"Masak sih ada cukanya?" ucap Eric yang baru saja naik ke permukaan dan mengambil minuman dari tangan Gandi dan meminumnya, meminumnya sedikit disana. Dan ia merasa enak enak saja.
"Enak kok jus buatan mama aku Gand...ngasal aja lu kalau ngomong." Ucap Eric dengan sungutannya.
"Akh Ric lu payah...kapan lu ngarti nya sih!" ucap Gandi dengan sungutannya pula lalu membuang muka.
"Akh...asin terlalu banyak garam." Tiba tiba ucap Evan yang membuat Gandi dan Eric menatap ke arahnya seketika. Di tambah pula Reza dan Qiran yang ikut menatapnya pula, karena bagi semuanya jarang jarang Evan mau bersuara.
"Apanya yang ke asinan Van?" tanya Gandi saat ia melihat Evan memegangi buah jeruk di tangannya dan yang ada di dalam mulutnya yang sudah ia kunyah.
"Asam maksud aku...bukan asin." Ucap Evan lagi yang membuat semuanya buru buru mengambil buah yang masih ada di tangannya dan belum Evan makan.
Malam kian larut, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam lebih, dan pembicaran antara mama papa Eric, serta mama papa Gandi, dan Reza.
Di ruang keluarga, terlihat semua berkumpul disana, para orang tua.
"Kamu beneran mau jodohin Eric sama anak pengusaha itu? kamu nggak butuh bantuan suami aku mungkin? atau Aditya? kami pasti bisa bantu loh Ra, kalau hanya mengambil kembali perusahaan kamu itu." Ucap Nindi yang merasa iba pada Yura dan juga Satria, keduanya hanya bisa saling menyatukan tangan di sana, Yura dan Satria mondar mandir ke luar Negeri hanya untuk mengurusi perusahaan yang ada di luar Negeri dengan jerih payahnya sendiri, perusahaan itu hampir di miliki oleh pengusaha saingannya, dan perusahaan itu memberikan jalan damai jika Yura mau menikahkan puteranya dengan puterinya, karena puteri Konglomerat tersebut hanya mau dekat dengan Eric saja.
"Tidak usah Nindi...aku tahu keputusan aku ini, lagian ini juga masalah keluarga aku yang harus aku selesaikan, jika memang begini jalannya, apa boleh buat...aku tidak ingin memanfaatkan hubungan pertemanan kita ini. Akh sudahlah...nggak usah di pikir lagi...i i sudah menjadi kesepakatan aku dan suami aku...toh mereka nanti hanya tunangan saja...menikah pun masih lama...yang terpenting sekarang menyelamatkan perusahaan yang di bangun keluarga aku." Ucap Yura dengan senyumannya, karena Yura tahu itu yang terbaik untuk anaknya kelak, karena calon mertua Eric adalah orang yang berpengaruh seperti halnya Arga dan juga Aditya.
Arga dan Aditya segera melempar pandangan, menatap satu sama lain disana, keduanya sudah bisa mengetahui siapa orang yang Yura maksudkan itu.
"Hei...Aditya juga tahu itu, jangan menatapku aneh seperti itu!" ucap Arga yang merasa risi saat semua mata menatap ke arahnya. Dan beralih menatap pula ke arah Aditya.
"Ya...begitulah..." jawab Aditya dengan ringannya.
"Jika kau menjadi besan orang tersebut, bisa di pastikan kau akan baik baik saja, kami saja tidak bisa menembus pasar yang orang itu pegang." Ucap Aditya pada semuanya.
"Kamu saja kak, aku ma bisa...!" ucap songong Arga dengan bangganya. Dan Aditya hanya nyungir untuk menanggapinya. Aditya tahu betul kekuatan yang Arga miliki, bahkan semua pasar saham di luar Negeri Arga mampu memainkannya dengan mudah.
"Sekarang yang terpenting, bagaimana kalian mengatakannya pada Eric, jelas anak itu, hanya mengerti senang senang dan main saja dengan temannya, ia tidak mengerti kesulitan perusahaan yang kalian miliki." Ucap Ifa yang dengan bijaknya, dan semuanya terlihat manggut manggut saja.
"Kalian tenang saja kalau masalah itu, kami pasti akan memberi tahu Eric dengan perlahan lahan." Ucap Yura pada semuanya. Sampai...tanpa terasa malam pun kian larut.
"Aku panggil anak anak dulu ya kalau begitu." Ucap Nindi yang beranjak dari duduknya dan pergi menuju ke teras samping.
"Anak anak, ayo waktunya pulang...sudah main mainnya..." ucap Nindi dengan nada suara meninggi, dan semua pun patuh pada apa yang Nindi katakan, hingga satu per satu datang berhambur menghampiri Nindi disana. Gandi pun langsung mengekori mamanya dan pergi menuju ke ruang keluarga kembali.
"Besok ada acara nggak? anak anak besok masih libur kuliah...mau jalan jalan bareng?" tanya Nindi pada semuanya, dan Ifa pun hanya bisa mengngguk, karena kesibukan suaminya yang jarang ada waktu untuk jalan jalan, jika ada waktu jalan jalan pun Aditya bisa ikut saat rame rame seperti itu, ia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian jalan dengan Arga dan Nindi.
"Eh...kalian lupa ya, kalau aku sekeluarga besok ada acara? kami nggak bisa ikut." Ucap Yura karena besok ia harus bertemu dengan keluarga calon besannya.
"Yah...mama...kalau mama nggak bisa ikut, biar Eric saja yang ikut..." ucap Eric yang tidak tahu bahwa esok acaranya adalah untuk dirinya.
"Eh...mama bilang kalau kita sekeluarga sayang...sudah jangan bantah lagi...nanti juga kan ada waktunya kita jalan sama sama lagi waktu kamu liburan..." ucap Yura dengan seriusnya.