
Malam itu pun berakhir begitu saja untuk semuanya, Eric yang tanpa bisa memilih, Evan yang merana, Gandi yang galau, dan Reza yang selalu tidak pernah kekurangan apapun. Di antara ke empatnya, hanya Reza yang selalu untung, namun begitu, semuanya selalu menjadi teman baik.
Gandi yang setiap malam akan tidur pun selalu menyempatkan diri melihat akun sosial media milik Keyra, tanpa sepengetahuan gadis itu, sedangkan Evan pun sama sekali sudah tidak ingin lagi mengenal yang namanya Vanya.
"Rani...temani aku sebentar..." Ucap Reza saat ke empatnya sudah sampai di rumah malam itu. Aditya dan juga Ifa pun sudah masuk kedalam kamarnya, namun Reza masih menahan Qirani untuk masuk kedalam kamarnya, karena esok keduanya sudah harus berpisah lagi, meski hanya satu bulan lamanya.
Gadis itu pun hanya mengangguk sembari tersenyum, Reza pun hanya mengajak Qirani untuk duduk di depan teras rumahnya, keduanya mengobrol santai mengenai teman dan tempat kuliahnya masing masing. Hingga Reza melihat gadis di sampingnya tengah menguap, tanda ia sudah menahan kantuknya.
Dengan tersenyum dan tangan yang sesekali mengelus puncak kepala gadis itu, Reza pun mengajak Qirani untuk segera masuk dan beristirahat.
"Selamat malam..." sapa Reza sebelum keduanya berpisah di bawah anak tangga, Reza menuju ke kamarnya yang berada di lantai bawah, sedangkan Qirani di lantai atas.
Hingga pagipun tiba. Hari itu, adalah hari dimana Reza harus kembali ke Universitasnya yang ada di luar Kota, ia pun harus berpisah kembali dengan kekasihnya. Saat sarapan pagi itu, Reza bersama keluarga sarapan bersama, tidak lupa Qirani pun disana. Sesekali Reza dan Qirani saling menatap satu sama lain, dan membuat Ifa pun ikut menatap keduanya.
"Aduh anak anak...mama cepet pengen nikahin kalian, makanya kalian yang rajin kuliahnya agar secepatnya bisa lulus dengan nilai bagus." Ucap Ifa dengan gerutunya, namun malah di sambut senyum cekikik dari Reza dan juga Qirani.
Di tempat Evan, ia tersentak saat ia dapati Gandi yang masih tertidur pulas di sampingnya.
"Hah...ni anak sejak kapan disini? bikin pagi ku nggak mood aja." Gerutu Evan sembari beranjak dari tempatnya dan memberikan semua selimutnya pada Gandi. Usai dengan aktivitas paginya, Evan pun segera turun ke bawah, disana sudah ada mama dan papanya yang tengah menungguinya untuk sarapan.
"Loh...Gandinya mana?" tanya mama pada Evan, saat melihat puteranya itu hanya turun sendirian.
"Masih tidur mah, kapan anak itu masuknya? kok aku nggak tahu?" ucap Evan dengan gerutunya.
"Semalam sayang...dia sendirian di teras luar, nggak masuk kalau nggak papamu suruh masuk." ucap mama yang membuat Evan mengerti. Karena rindu itu sakit.
"Oh ya Van, nanti sebelum balik Kampus, papa ajak ke kantor dulu sebentar, ada yang mau papa bahas denganmu." Ucap Rendi pada puteranya, Evan dan Gandi sudah terbiasa untuk membahas masalah pekerjaan pada papa papanya, Rendi sudah terbiasa mengenalkan pekerjaanya pada puteranya, karena Rendi rasa dengan begiti Evan akan terbiasa kelak dengan pekerjaan yang akan ia warisi.
Sedangkan Arga pun niatnya juga sama, agar menumbuhkan minat Gandi sejak dini pada pekerjaan yang kelak akan Gandi warisi.
"Pagi semua..." sapa Gandi yang baru turun dan ikut nimbrung dengan semuanya.
"Gand...kamu kenapa semalam kayak orang linglung?" tanya omanya saat Gandi sudah turun dan duduk di samping Evan.
"Nggak apa apa kok, akh...biasa anak muda, galau..." ucap Gandi yang se enaknya. Gandi pun jug tidak tahu, sudah satu tahun lebih, namun bayang bayang Keyra masih memgobrak abrik pikirannya.
Hingga acara sarapan itu pun usai, dan Gandi berpamitan untuk pulang ke rumah.
Di rumah ia sudah di sambut Nindi, ia terlalu memanjakan anaknya, namun Gandi bukan tipe lelaki yang manja, ia lelaki yang kuat dan cekatan.
"Mah, papa dimana sih?" ucap Gandi saat baru pulang dan menanyakan papanya.
"Sayang sudah sarapan?" tanya Nindi dengan sedikit teriakannya, namun Gndi hanya membalas dengan lambaian tangannya saja.
"Tok, tok, pah...Gandi masuk..." ucap Gandi pada papanya.
"Ada apa Gand?" tanya Arga pada sang putera.
"Pah...bisakah Gandi ngerjain satu proyek papa? kalau hanya mikirin tugas kuliah, Gandi masih bisa mikirin Key." Ucap jujur Gandi.
"Sudah semester 4 tapi belum bisa ngelupain Key?" tanya Arga pada puteranya, dan Gandi hanya mengangguk.
"Kenapa nggak kamu samperin saja Gand?" tanya Arga lagi.
"Kalau sampai Gandi lihat Key, Gandi akan makin menginginkannya, dan jika Key lihat Gandi, mungkin kuliahnya pun akan terganggu." Ucap Gandi dengan dewasanya.
"Yasudah...papa akan memberikan gost proyek padamu, tidak ada yang tahu kalau kamu yang mengerjakan, dan jika sukses...papa akan jadikan kamu Direktur sebagai gantinya, kamu bisa memimpin anak buahmu sendiri." ucap Arga pada puteranya.
"Nggak usah pah...Gandi hanya ingin otak Gandi nggak kosong, Gandi nggak ingin mikirin Key terus, Gandi bisa bisa gila." Ucap Gandi yang membuat papanya malah tersenyum, Arga mengerti bagaimana perasaan anaknya.
"Yas...lihatlah puteraku sudah tergila gila pada putrimu, kau mau bilang apa sekarang?" ucap Arga tiba tiba, yang membuat Gandi tidak percaya atas apa yang papanya katakan.
"Hya...papah! papa sedang dalam panggilan Video ya?" ucap Gandi yang lalu berhambur ke arah papanya dan menatap layar laptop yang ada di meja depan papanya, disana terlihat Abiyasa yang tengah melambaikan tangannya dan senyumannya.
"Tenang Gand...Key masih jomblo kok..." ucap Abiyasa seketika dan membuat Gandi harus memaksakan senyumannya.
"Astaga papa! kenapa tidak bilang dari tadi." Ucap Gandi dalam hatinya.
"Jangan salahin papa Gand, kamu nggak tanya dan datang datang langsung nerocos loh..." ucap Arga yang seolah ia bisa tahu apa yang Gandi pikirkan.
Hingga malam itu pun tiba, Eric yang sudah terlihat sedang menunggu mama papanya memarkirkan mobil, ia duduk di lobi hotel mewah tersebut, Eric sudah ada janji makan malam keluarga di sana.
Sesaat ia menatap gadis yang tengah memakai gaun tanpa lengan dengan panjang sampai atas lutut, dan sepatu heels tinggi, Eric rasa ia mengenalnya, namun ia ingat ingat lagi, tapi tidak ketemu juga, ia masih lupa.
"Haaaa...iya, dia kan cewek tomboy..." ucap Eric seketika sembari berlari mengejar gadis yang ia yakini adalah si cewek tomboy.
"Hei...tunggu!" ucap Eric pada gadis itu, dan seketika gadis manis itu pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Eric dengan senyumannya yang ramah.
"Masak iya si gadis tomboy yang kemarin? bukanya dia jutek, judes, nyeremin, ini kok malah tersenyum manis gini ya?" ucap dalam hati Eric yang merasa ada yang aneh.
"Nora, panggil aku Nora." Ucap gadis tersebut yang lalu pergi begitu saja.