
"Minggir kalian semua!" ucap Gandi yang membuat semua anak buahnya pergi menghindar beberapa langkah darinya.
"Bisakah kalian keluar semua? biarkan salah seorang saja yang menemaninya. Aku pastikan tidak akan membunuhnya." Ucap Key dengan jarum suntik yang sudah di isi lalu ia hadapkan ke atas dan sudah sedikit di tekan dari pangkalnya, hingga keluar sedikit isi dari ujungnya. Namun tidak ada yang mendengar ucapan Keyra.
"Kalian akan menakuti semua pengunjung UGD, bahkan menghalangi jalan." Ucap Key lagi dengan tegasnya. Ia tidak takut sama sekali dengan orang-orang yang berwajah sangar disana.
"Kau!" ucap geram salah seorang yang tidak terima oleh perkataan Keyra. Dan sontak membuat Gandi menoleh marah menatap kearah anak buahnya tersebut, kedua matanya melotot tajam dan geram, membuat anak buahnya tersebut menunduk dan mundur satu langkah ke belakang.
"Aku sudah teramat lama menantikan ocehan dan omelan gadis ini. Kau malah membantahnya! mau mati hah!?" ucap Gandi dalam hatinya. Lalu Gandi pun mengisyaratkan semuanya agar keluar segera. Dan hanya tinggal Max saja yang setia berada di sisi bosnya.
"Kau juga tidak keluar?" tanya Key pada Max yang masih berdiri mematung disana, di samping Gandi.
"Dia orang kepercayaan aku! kan aku tidak tahu, apakah kau benar menyuntiku dengan obat bius atau dengan racun." Ucap Gandi yang membuat Key geram namun tidak bisa membentak, karena disana terdapat banyak orang.
"Ouh...jadi kau merasa jika kau patut di racun ya? tenang...tanganku terlalu cantik jika untuk meracunmu." Ucap Key yang menarik kasar lengan Gandi di sebelah bagian yang sobek. Membuat lelaki itu meringis menahan sakit.
"Tunggu! kenapa perlakuanmu kasar sekali pada bosku?" tanya Max yang merasa khawatir pada bosnya.
"Tenang...dia tidak akan mati kok! atau...kau bisa tunggu di luar saja jika tidak tega, nanti malah akan lebih mengasyikan lagi." Ucap Key dengan seringainya, dan senyum menakutkan yang baru Gandi lihat saat itu.
"Max, kamu harus disini saja."Ucap Gandi yang langsung di angguki lelaki di sampingnya.
"Ini cukup menyakitkan, tapi kamu kan lelaki! jadi harus kuat." Ucap Key yang sudah mengambil kasa alkohol untuk luka Gandi dan menekannya perlahan-lahan. Nampak Gandi saat itu begitu kesakitan, lelaki itu dengan kuat menarik tangan Max. Sampai tibalah Key menyuntikan obat bius di bagian luar luka.
"Akh!" teriak Gandi dengan gigi yang gemeretak kesakitan. Sesaat Key hanya bisa menatap ke arahnya, ia sebenarnya tidak tega, namun memang demikian prosedurnya. Hingga suntikan itu usai. Sambil menunggu obat biusnya bekerja, Key beranjak akan pergi dari sana.
"Tunggu! kau mau kemana?" ucap Gandi dengan suara berat namun pelan, kepalanya tertunduk dengan lemahnya, suaranya sedikit tersengal-sengal seakan tenaganya sudah habis terkuras baru saja. Bagi Gandi, aktivitas sebentar tadi lebih melelahkan dari menghajar sepuluh orang yang tangguh.
"Menyiapkan ruang kamar untukmu, aku lihat di belakan lehermu memar." Ucap Key yang langsung di angguki Gandi.
"Oh ya, apa kau masih bertingkah sok jagoan? seperti waktu masih SMP dulu? kau kan suka berkelahi, hemmmz...bisa di bilang hobi kamu kan memang? tidak ada yang salah sih jika sampai kamu menjadi seperti ini." Ucap ejekan Key sembari membalikan tubuhnya menatap kearah Gandi. Dan saat itu pula, Max yang mendengarnya ingin ikut bersuara, namun tangan Gangdi segera menarik jas yang di kenakan Max, isyarat lelaki itu harus diam.
"Harusnya kau paling tahu, aku berkelahi untuk siapa?" ucap Gandi kemudian. Tanpa jawaban, Key pun kemudian pergi begitu saja menuju tempat pendaftaran kamar. Key memilihkan kamar terbaik pada mantan pacarnya itu.
"Aku benar-benar bahagia diberi luka ini. Sangat bersyukur jika ujungnya aku bertemu dengannya disini." Ucap Gandi lagi dengan suara pelan dan rasa sakit yang ia rasa berkurang. Hingga beberapa saat Key pun datang.
"Baiklah tuan perfact...mari kita jahit lukanya." Ucap Key yang sudah tiba disamping Gandi dan menekan-nekan luka di tangan lelaki itu yang kelihatannya sudah tidak sakit lagi.
"Siapa yang kau panggil tuan perfact?" ucap Gandi dengan suara yang begitu nyaring, membuat Key sedikit meringis dan menyipitkan satu matanya.
"TU AN PER FACT." Ucap Key lagi yang ia eja satu persatu sembari kedua matanya menatap lekat kedua mata Gandi. Namun Key seketika langsung memalingkan pandangannya saat kedua mata mereka bertemu. Key merasa ada rindu yang tersimpan di mata lelaki itu, namun Key tidak ingin jatuh yang ke dua kali pada lelaki yang sama. Menginginkan semuanya perfact.
Hingga jahitan demi jahitan Key lakukan, sampai terdapat tiga belas jahitan disana, Gandi pun hanya menatap ke arah Key yang dengan teliti dan rapi menjahit lukanya, ia tidak melihat sama sekali kearah jarum-jarum itu menusuk kulitnya satu persatu. Seolah ia terhipnotis oleh wajah cantik yang terhalang masker yang menutupi hidung sampai dagu gadis itu. Gandi terus menatapnya.
"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Gandi seketika yang tanpa ia sadari, ucapan itu keluar begitu saja dari bibirnya. Seketika Key menghentikan aktivitasnya, dan seolah mendengarkan apa yang Gandi tanyakan.
"Oh...pacar ya? kamu mau tahu pacar aku yang mana? mantan aku ada banyak!" ucap Key dengan sadisnya, membuat Gandi melongo dan seakan tidak percaya atas apa yang mantannya itu ucapkan.
"Hya nona sadis!" ucap Gandi dengan teriakannya hingga seisi UGD menatap sejurus ke arahnya.
"Sabar bos...sabar..." ucap Max yang mencoba menenangkan bosnya.
"Hei...kau panggil aku apa? nona sadis? hya! kalau aku tidak tega karena jahitan sedikit seperti ini! lukamu tidak akan cepat sembuh, tuan perfact...!" ucap Key dengan geramnya. Namun Key tidak tahu, yang Gandi mksud "sadis" disana adalah "sadis" mengobrak abrik hati dan perasaan Gandi. Hingga terlihat Gandi menaiki kursi dorong menuju ke ruang yang sudah di siapkan. Gandi tidak perlu infus disana, ia hanya harus beristirahat dan menyembuhkan beberapa memar di tubuhnya.
"Wanita sadis! aku disini setia menunggunya, hati dan perasaan aku seutuhnya untuknya. Tapi dia malah mempunyai banyak mantar pacar! dia pikir dalam masa percobaan apa bagiamana sih!?" ucap gerutu Gandi yang samar-samar Max dengar.
"Apa ada yang bos perintahkan?" tanya Max pada bosnya itu.
"Tidak usah!" sahut Gandi, seketika tubuhnya lemas seakan tidak bertenaga saat mengingat ucapan mantan kekasihnya. Bukan karena sakit memar dan luka jahitannya, melainkan hatinya yang begitu sakit dan terluka.
"Hmmmz...luka luar bisa diobati, tapi hatiku? gadis sadis itu telah mencabik-cabiknya tanpa ampun." Ucap Gandi lagi dengan gerutunya.
"Ada apa lagi bos?" tanya Max yang lagi-lagi mendengarnya. Max pikir, Gandi tengah bicara padanya.
"Dari tadi kamu tanya terus ya Max? diam! kamu dilarang bicara kalau tidak aku suruh." Ucap Gandi dengan amarah yang meledak-ledak.