
Aditya keluar dari dalam kamar mandi di susul Arga yang berjalan dengan langkah gontai di belakangnya.
"Baiklah...kami pulang dulu ya...kasihan Reza kalau kelamaan disini Ga...ndi...kami pulang dulu ya...!" Ucap Aditya yang membuat keduanya membelalakan mata sembari mengingat ingat lagi kata kata yang aditya ucapkan barusan.
Sesaat seakan akan Arga dan Nindi seperti saling berkata dalam pandanganya, seiya sekata dalam pikiranya.
"Gandi!" Ucap Arga sembari menatap mata sang istri, dan Nindi hanya mengangguk perlahan mengiyakan perkataan suaminya barusan.
"Iya Arga...Nindi...!" Ucap Aditya sembari menoleh ke arah keduanya dan belum sadar atas perkataan adiknya barusan.
"Gandi!?" Ucap Aditya lagi yang di ulanginya.
"Iya kakak...kami sepakat memberi nama putera kami ini Gandi, baguskan? makasih ya kak...atas inspirasinya...
karena panggilan kakak barusan...terciptalah nama putera kami." Ucap Arga dengan bagagianya, dan seketika itu pula pelukan hangatnya meraup tubuh sang kakak.
"Iya iya udah...sekarang kita pulang dulu..." Ucap Aditya sembari menggenggam jemari sang istri dan mengajaknya untuk keluar dari dalam ruang bersalin.
"Oh ya...bi...bibi pulang aja...bentar lagi mama papa juga datang...pasti bibi juga capek." Ucap Arga yang kemudian di laksanakan oleh bibi asisten rumah tangganya.
Lalu Arga segera menarik kursi dan terkesan mengangkatnya dengan perlahan lahan, menempatkanya pada sisi tempat baring Nindi, lalu ia pun duduk disana sembari menatap sang istri dan buah hatinya.
Sesekali terlihat Nindi menatapnya, lalu membuang tatapanya, seakan akan menatap ke arah lain, dan saat tatapanya bertemu dengan sang suami, Nindi hanya menyunggingkan senyum kecut di bibirnya.
"Aku perhatikan sepertinya kau kurang puas menjambaku?"
Ucap Arga sembari berbisik dan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri, agar suaranya tidak membangunkan putera kecilnya.
"Hemmmz...sepertinya kau dendam padaku?" Ucap Nindi masih dengan senyum kecutnya.
"Enggak! aku enggak pernah dendam padamu, meski kau jambak sampai botak pun aku akan tetap tersenyum jika itu bisa membuatmu lega." Ucap Arga dengan seriusnya.
"Apa banyak yang rontok?" Tanya Nindi dengan wajah memelasnya, dan Arga hanya mengangguk perlahan.
"Apa masih sakit?" Tanyanya lagi pada sang suami, barulah Arga mengangguk sembari mendekatkan kepalanya dan seketika itu pula tangan Nindi terlihat menyentuh rambut sang suami yang terkesan masih berantakan, nampak saat ia menarik jemarinya satu dua helai rambut menempel disana.
"Akh...pasti sakit ya? maaf...habisnya...nggak ngerasa kalau yang aku tarik tadi rambut kamu sayang...!" Ucap Nindi yang membuat Arga meraih jemarinya dan menggenggamnya.
"Nggak apa apa sayang...selama kalian baik baik saja..." Ucap Arga dengan senyum tulusnya.
Hingga suster datang dan berkata akan memindahkan Nindi ke ruang rawat inap khusus untuk ibu setelah bersalin atau dalam masa nifas, hingga beberapa saat Nindi di pindahkan ke dalam ruangan yang hanya di isi dirinya saja dan terdapat satu box bayi di sana, terlihat mama dan papa serta Evan yang datang menjenguknya.
"Sayang selamat ya...kenapa baru ngasih tahu mama sekarang sih? kenapa pas mulas mulas nggak kasih tahu mama?" Ucap protes Anin pada puterinya, walau bagaimanapun Anin tetaplah khawatir, karena itu adalah pengalaman pertama puterinya, Anin tahu benar bagaimana panikna saat itu.
"Mah...mama kan jauh...Nindi hanya nggak mau buat mama panik...sekarang kan sudah nggak apa apa mah...kita sudah baik baik saja!" Ucap Nindi dengan senangnya.
Dan terlihat Gandi kecil pun mulai merengek nangis karena lapar, segera mama Anin menggendongnya dan Arga pun segera menyerahkan Evan pada papa Rendi, agar ia bisa membantu sang istri untuk menyusui puteranya.
Nindi mulai menyusui bayi kecil dalam dekapnya, nampak Arga pun sangat bahagia karenanya.
Keluarga kecilnya yang sudah lengkap itu kian bertambah bahagia dengan hadirnya Gandi di kehidupan rumah tangganya.
Hingga tiga hari berlalu, saat semua sudah normal normal saja, dan Nindi akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Sakit ga...!" Ucap rengekan Nindi karena luka jahitanya masih belum kering.
"Akh...sayang...kamu yang rasain kenapa aku yang ngilu..." Ucap Arga seketika membopong tubuh Nindi dari kursi roda dan mengarahkanya menuju ke jok mobil bagian depan, disampung kemudinya.
Sedangkan bayi kecilnya di gendong mama Anin, mama yang tadi pagi sempat datang membantu persiapan pulang dan meninggalkan Evan dalam pengawasan pengasuhnya di rumah.
Arga melajukan mobilnya, setelah semua masuk, perlahan lahan Arga mengemudi agar Nindi merasa nyaman dengan duduknya, dimana saat itu adalah pertama kalinya Nindi duduk tegak setelah persalinan, pastilah Nindi masih harus beradaptasi dengan kondisi jahitanya.
Sesekali Arga melirik ke arah sang istri, nampak Nindi sesekali meringis menahan luka jahitanya, jahitan yang lumayan banyak untuk pertama kalinya persalinan normal, dua belas jahitan di bagian luar, dan entahlah berapa jahitan lagi di bagian dalamnya, namun Nindi bersyukur puteranya keluar dengan selamat.
Hingga mobil yang di kendarainya beserta keluarga kecilnya itu pun sampai ke halaman rumahnya.
Dengan segera Arga pun kembali membopong tubuh sang istri hingga masuk kedalam rumahnya, dan saat sudah sampai di depan pintu masuk rumah, Nindi memohon pada sang suami agar menurunkanya, ia ingin berlatih berjalan.
"Sayang...belum waktunya...!" Ucap Arga lagi, namun Nindi yang ngeyel itu pun akhirnya mampu meluluhkan hati kokoh sang suami, ia pun segera menurunkan Nindi di sana, namun ia masih setia membantu sang istri berjalan.
Terlihat mobil papa Rendi yang baru tiba, dengan Evan dan pengasuhnya, nampak pula seorang wanita paruh baya yang akan membantu Nindi mengurus puteranya, mama Anin sendiri yang sudah menyeleksinya, dan sudah percaya dengan kinerjanya, karena Anin tahu, tanpa bantuanya pastilah Nindi dan Arga tidak bisa mencari pengasuh yang bisa di percaya.
"Akh...sakit ga...!" Dengus Nindi lagi, dan tanpa pikir panjang, tanpa pemberitahuan, tanpa aba aba pula, Arga segera saja membopong tubuh sang istri menuju ke kamarnya.
"Aku tahu sayang...tanpa percobaan obat ngeyel itu nggak ada...sebelum kamu coba...kamu nggak akan percaya!" Ucap Arga dengan kesalnya, sembari membopong tubuh Nindi membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Hingga semua sudah usai, dan semua sudah pulang, tinggalah pengasuh Gandi yang sedang memasukan barang barangnya ke dalam kamar yang akan di tempati, dan Arga pun yang terlihat paling kelelahan, karena Arga yang kemana mana membopong sang istri, saat Nindi mau ke toilet, selalu dengan sigap Arga antarkan dengan boponganya.
"Akkh...capek....! capeknya melebihi pengantin baru." Ucap Arga sembari meringkuk di samping sang istri, dan dengan lembut belaian tangan Nindi di rambutnya membuatnya sayup sayup tertidur, hingga...suara Gandi menangis memekakan telinga, di box bayi nya, segera Arga terbangun dan terjaga, mengambil sang putera dan menggendongnya menuju ke arah sang istri di atas ranjangnya, agar Nindi menyusuinya.
Setelah menyerahkan puteranya pada sang istri, Arga kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping Nindi, Arga tengkurap disana sampai tertidur lagi.