THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Luka tak berdarah



Hingga keduanya menyudahi ciumanya dan canggung seketika, Vanya berlari masuk kedalam kamar mandi, lalu menutup pintu itu rapat rapat.


"Vanya kamu gila!" Ucap Vanya sembari menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup di belakangnya, sembari menekan bibirnya dengan ujung ujung jarinya.


"Akh...sudahlah...aku rela ciuman pertamaku untuk Evan, hmmmz..." Ucap Vanya lagi sembari menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


Sedangkan di tempat Evan, ia masih berdiri mematung di tempatnya, hingga tubuhnya terhuyung dan akan terjatuh, sampai akhirnya ia benar benar jatuh terduduk keatas sofa yang berada di sampingnya.


"Astaga! apa itu tadi? aku dan Vanya?!" Ucap Evan dalam hatinya, sembari tak percaya atas apa yang dilakukanya.


Meski ia sangat merindukan Vanya, namun soal sentuhan ia hanya bisa sebatas pelukan saja, tidak lebih.


"Van...anggap itu tadi kecelakaan, oke!" Ucap dalam hati Evan lagi yang mencoba menenangkan hatinya sendiri, sampai...Vanya keluar dari dalam kamar mandi, dan menghampiri Evan yang masih terbengong duduk menatap setiap gerak Vanya, hingga membuatnya sedikit risi.


"Sayang...yuk keluar, pasti temen temen semua udah pada nungguin." Ucap Vanya yang hanya dibalas anggukan saja oleh Evan, hening...sepi...setelah keduanya keluar dari dalam kamar hotel, sepanjang perjalanan menuju ke arah lantai bawah, Evan hanya sesekali melirik kearah Vanya, dan Vanya pun sama.


"Van...kenapa kamu diam aja? kamu nggak suka ciuman sama aku?" Tanya Vanya dengan suara lirihnya, memecah kesunyian yang membelenggu keduanya.


"Apa? itu hanya kecupan, bukan ciuman!" Ucap Evan yang seakan membuat enteng apa yang sudah terjadi tadi.


"Van...itu ciuman pertama aku...teganya kamu nganggep remeh kayak gitu, mau tunjukin mungkin yang bukan hanya sekedar kecupan!?" Ucap Vanya dengan beraninya, perkataan Evan seakan tantangan yang ingin ia gempur dan dapatkan.


"Hah...nggak Vanya...nggak sekarang." Ucap Evan dengan nada lembutnya, lalu mengambil jemari Vanya dan menggenggamnya.


Keduanya pun akhirnya sampai kelantai bawah, disana, di sudut pojok ruangan sudah terdapat empat orang yang Evan dan Vanya kenal, namun...seketika Vanya merasa mati kutu, ia menghentikan langkahnya, sembari menatap lekat seorang paruh baya yang baru masuk kadalam ruangan tersebut, seketika pegangan tanganya ia lepaskan, membuat Evan tersentak dan menatap kearahnya, tiba tiba wajah Vanya pucat pasi, dan matanya mendelik, seakan tak percaya atas apa yang di lihatinya, Evan pun kembali mengambil jemari Vanya, namun seketika itu pula Vanya menepisnya, bahkan sangat keras Evan rasakan.


"Van...ada apa? kamu kenapa?" Tanya Evan yang penasaran serta bercampur khawatir dibuatnya, namun Vanya hanya diam saja, sampai seorang paruh baya itu pun datang menghampiri kearahnya.


"Oh...iya om...ini lagi nemuin teman yang datang jauh jauh dari luar Negara untuk liburan om." Ucap Vanya dengan senyuman yang ia paksakan.


"Kok panggilnya om sih...panggil papa dong..." Ucap lelaki paruh baya tersebut.


"Mana temenya? kenalin sama papa, dan itu...Dion masih ada di belakang." Ucap lelaki paruh baya tersebut, dan saat itu Evan benar benar tidak tahu harus bicara apa, ia masih sangat tidak bisa terima dengan keadaan yang mendadak membuat Vanya gagu seperti itu, sedangkan ke empat teman lainya yang hanya bisa menonton dari kejauhan.


"Emb...ini Evan pah...temen aku...yang di pojok sana juga." Ucap Vanya sembari menyunggingkan senyumanya, senyum yang ia paksakan.


"Oh...jadi menurutmu aku jauh jauh kesini hanya untuk liburan? baiklah...Van...kamu menang..." Ucap Evan dengan hati yang seakan tersayat sayat.


"Sayang...loh kok bisa disini sih?" Ucap seorang lelaki yang lebih tua dari Evan, muncul dari belakang lelaki paruh baya tersebut, baru masuk kedalam ruangan dan langsung menghampiri Vanya dan memeluk pinggangnya serta mengecup keningnya.


"Oh...jadi seperti itu, aku sudah sangat ke GR an ternyata." Ucap dalam hati Evan lagi, hingga ia putuskan untuk berpamitan pergi saja, tidak ada gunanya ia mematung menunggui Vanya disana.


"Sepertinya...saya masih ada urusan...saya pamit dulu ya...permisi..." Ucap Evan seketika saat ia tersisih dari samping Vanya karena tergeser oleh Dion yang menempati tempatnya.


"Van, maaf...Van..." Ucap Vanya yang langsung di tarik pergi oleh Dion mengikuti papanya, yang berlalu pergi begitu saja, namun saat ia menoleh menatap Evan, Evan tidak membalas menatapnya.


"Hah...apa tekatku dia anggap lelucon? konyol...sungguh konyol!" Ucap Evan sembari datang kearah teman temanya.


"Van...sebenarnya ada apa? mereka siapa?" Tanya Gandi yang ingin tahu, pertanyaan Gandi mewakili semuanya.


"Nggak penting lagi Gand...yasudah teman teman, ayo balik sekarang, aku nggak ada waktu untuk bersantai santai." Ucap Evan seketika, lalu berbalik dan pergi menuju kamar hotelnya, saat itu pula Evan menghapus dan memblokir nomor Vanya, ia tidak ingin penjelasan apapun dari gadis yang tadi menciumnya, bahkan saat itu Gandi ingin menyergah perkataan Evan, namun Keyra menahanya, Keyra paham benar perasaan Evan saat itu.


"Pasti hati Evan sangat sakit, semalam mereka sempat bermalam bersama, dan perasaan Evan tidak mungkin se sederhana kelihatanya." Ucap Qiran sembari menatap iba pada teman kekasihnya itu.