THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Hari inilah hari yang paling membahagiakan



Vanya hanya menoleh menatap lelaki di sampingnya, setelah menyudahi panggilannya dengan Dion, dan lelaki itu pun hanya menatapnya lekat dengan kedua tangan yang ia sedekapkan di dada, Evan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, Canggung bagi keduanya, hening...hanya diam yang keduanya lakukan, dimana Vanya tidak tahu harus berbicara apa, dan Evan yang tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, disatu sisi ia tahu ia salah, dan di sisi lain, ia pun tidak bisa meminta penjelasan pada wanita itu, dimana saat Vanya memilih pasangan, memang dia tidak berstatus apa apa dengan Evan. Bagi Evan, Vanya tidak perlu menjelaskan apapun padanya. Dan Evan pun juga tidak ingin mendengar penjelasannya.


Sedangkan Vanya, ia tidak ingin mengatakan aib rumah tangganya pada lelaki di sampingnya. Bahwa ia dan suaminya sekalipun tidak pernah bersentuhan apa lagi sampai melakukan hubungan intim layaknya pasangan menikah.


"Van aku pergi dulu ya, tidak enak jika ada yang melihat..." ucap Vanya sembari beranjak berdiri dari duduknya, namun Evan sudah mencekal tangannya, menghalangi langkah gadis itu semakin jauh. Evan masih sangat merindukannya.


"Tunggu!" ucap Evan dengan suara datar dan tertahan.


"Duduklah...temani aku mengobrol sebentar lagi, bukankah kau pun sedang sendirian? suamimu tidak ada di rumah bukan? dan aku pun membutuhkan teman saat ini." Ucap Evan yang mencoba mengejar Vanya, dahulu ia diam saat gadis itu akan menjadi milik orang lain, Evan tidak bisa merebutnya karena ia tidak memiliki kekuasaan apa apa, namun saat itu, ia mempunyai semuanya. Hingga berani menahan istri orang untuk menemaninya. Bahkan untuk menghancurkan perusahaan Dion pun begitu mudah baginya.


"Baiklah...aku temani sebentar lagi." Ucap Vanya sembari duduk kembali di sofa samping Evan. Evan pun lalu mengambil kotak kue yang jatuh di samping pintu.


"Ini apa kamu sendiri yang membuatnya?" tanya Evan yang membawa kembali kotak kue yang Vanya jatuhkan tadi, dan Vanya hanya mengangguk mengiyakannya saja.


"Sejak kapan anak manja seperti Vanya bisa membuat kue?" tanya Evan pada gadis itu, karena setahu Evan, Vanya adalah artis yang sukses beberapa tahun yang lalu.


"Hemmmz...daripada aku menganggur, iseng iseng buat kue Van, aku sudah berhenti dari dunia hiburan beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang hanya bergantung pada suami saja." Ucap Vanya dengan jujurnya, dan Vanya menyukai hidupnya sekarang, Dionpun memberi lebih padanya, meskipun tanpa kehangatan atau kasih sayang selayaknya pasangan. Tapi Vanya sudah bersyukur, setelah mamanya meninggal, Vanya memilih berhenti dari dunia hiburan, karena memang tidak ada alasan lagi ia bersusah payah mencari uang dan mengumbar senyuman yang sebenarnya ia tidak inginkan. Bukan Vanya tidak ingin mengembalikan semua uang yang telah Dion keluarkan, melainkan Vanya tidak bisa membalas kebaikan lelaki itu dengan uang.


"Apa kamu bahagia?" ucap Evan yang mencoba menarik perhatian gadis itu.


"Evan...kamu benar benar sudah gila! kamu gila! kenapa kamu bertanya hal yang sudah bisa dilihat Evan, Vanya jelas begitu bahagia..." ucap dalam hati Evan yang berkali kali menyalahkan dirinya sendiri.


"Iya Van, aku bahagia." Ucap Vanya lirih, karena ia sudah semaksimal mungkin berusaha menyelamatkan mamanya, meski hasilnya mamanya pun harus pergi untuk selamanya, Vanya tidak menyesal sama sekali, karena ia sudah berusaha.


"Diantara hari hariku yang sudah aku lewati, hari inilah yang paling membahagiakan dalam hidupku." Ucap Vanya dalam hatinya, sembari menyunggingkan senyuman dibibirnya.


Evan pun membuka kotak kue tersebut, lalu melihat isinya, disana kuenya sudah terlihat penyok tidak berbentuk, namun Evan ingin mencobanya.


"Jangan dimakan Van, nanti aku buatkan yang baru lagi untukmu." Ucap Vanya sembari mengambil kotak kue dari tangan Evan dan mengambil kue dari dalam kotak, membolak balikannya dengan satu jari telunjuknya, disana terlihat kue itu hancur tidak bisa dimakan lagi.


Namun seketika Evan segera mengambil jemari Vanya, menariknya perlahan dan memasukan jari itu ke mulutnya, Evan memakan sisa coklat yang menempel pada jari Vanya. Vanya pun hanya bisa memalingkan pandangannya.


"Kau tidak tahu Van apa yang aku alami." Ucap Vanya dalam hatinya.


"Tidak apa apa Van, dan saat itu aku memiliki situasiku sendiri yang tidak bisa aku katakan pada siapapun." Ucap Vanya yang menerangkan. Hingga terdengar suara ponsel Vanya berbunyi kembali, lalu ia pun mengangkat panggilan itu.


"Halo Dion...ada apa?" tanya Vanya pada panggilan tersebut.


"Sayang...aku tidak bisa pulang malam ini, mungkin sampai besok, kamu tidak apa apa kan sendirian?" ucap Dion dalam panggilannya, dan Vanya pun tidak bisa mengiyakannya saja tanpa bisa menolaknya. Dan saat itu Evan hanya bisa menarik tangan Vanya mendekat kearahnya, memeluknya dengan erat. Sedangkan Vanya hanya bisa mengikuti tanpa memberontak sembari masih menerima panggilannya.


"Bisakah malam ini kita bersama?" ucap Evan yang jelas Vanya dengarkan, ia mengabaikan suara Dion didalam panggilannya.


"Andai kau tahu, aku pun menginginkan yang sama." Ucap dalam hati Vanya, namun ia pura pura tidak mendengarnya, sampai Dion menutup panggilannya.


"Evan...jangan begini, kau akan membuat hatiku lemah jika seperti ini." Ucap Vanya dengan jujurnya.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Evan yang ingin tahu. Dan seketika membuat Vanya terjaga dari pelukan Evan, menatap lekat kedua mata lelaki yang makin tampan itu menurutnya.


"Evan...dihati ini, tidak ada nama siapapun disana kecuali namanu, dan hingga detik ini, aku masih mencintaimu, dari awal aku menyukaimu, sampai saat ini pun tidak ada yang berubah." Ucap Vanya sembari menarik wajah tampan itu mendekat kearahnya dan mengecup bibirnya pelan sesaat. Saat itu ada kelegaan dihati keduanya, namun bagi Vanya itu sudah masalalu, yang tidak mungkin terulang kembali, tapi bagi Evan, itu adalah suatu awal untuknya merebut kembali Vanya dari tangan Dion, meski bukan saingan bisnisnya.


"Van, aku tahu kamu bisa menghancurkan Dion, tapi asal kamu tahu, dialah yang membantuku dan keluargaku, dialah yang selalu ada saat aku sedang terpuruk, aku mohon jangan buat bisnis Dion hancur, aku mohon..." Ucap Vanya setelah mencium Evan, Vanya tahu apa yang tengah dipikirkan lelaki itu dan kekuatan apa yang dimiliki Evan.


"Aku menginginkanmu Vanya! aku...".Ucap Evan tertahan karena Vanya sudah buru buru pergi tanpa permisi, membuat Evan tidak sempat untuk menghentikannya meski hanya sesaat.


"Vanya! tunggu! Vanya!" teriak Evan yang mencoba menghentikan Vanya, namun sudah tidak di hiraukan oleh Vanya, ia tidak ingin Evan sampai lebih dalam jatuh hanya untuk dirinya, Vanya tidak ingin Evan di cap sebagai perebut istri orang. Hingga ponselnya berbunyi, tanda ada panggilan masuk disana, itu adalah Gandi, Gandi mencoba menghubungi Evan.


"Halo Gand...ada apa?" tanya Evan setelah mengangkat panggilan lelaki tersebut.


"Van..datanglah kemari, aku membutuhkanmu." Ucap Gandi lemas dan seakan tidak bertenaga. Lalu mematikan panggilannya.