
Arga mengatur nafasnya saat ia tengah sampai di depan kamar sang istri, dan juga kamarnya tentunya, satu tanganya terulur dan hampir mengetuk daun pintu yang ada di depanya, namun di urungkanya, hingga beberapa kali, namun ia urungkan lagi, sampai...saat ia benar benar serius akan mengetuknya, tiba tiba pintu di depanya itu terbuka dari dalam.
"Astaga!" Ucap Arga seketika saking kagetnya.
"Sayang...maaf ya...aku baru datang...!" Ucap Arga sembari kedua tanganya sudah meraup tubuh Nindi yang berdiri di depanya kedalam pelukanya, Arga merasa bersalah atas apa yang tadi ia lakukan tanpa sadar, dan Arga tahu pastilah ucapanya telah menyakiti hati sang istri pula.
"Gimana kabar kakak ipar?" Tanya Nindi tiba tiba, ia terlihat sangat tenang, bahkan lebih tenang dari biasanya.
"Selamat sayang...puteranya pun sudah keluar dengan selamat.
Mengingat kakak iparnya sudah bukaan ke lima namun tidak bisa nambah lagi, dan kondisi air ketuban sudah merembes, akhirnya Aditya dengan berani memberi persetujuan untuk melakukan operasi saja, itu yang Arga tahu, hingga kepanikan terjadi dan Arga pun tidak bisa hindari, ia pun ikut panik pula, hingga tanpa sadar sudah berlaku kasar pada sang istri dan calon buah hati yang Nindi kandung.
"Syukurlah kalau semua selamat dan sehat...kamu lapar? sudah makan? mau aku siapin makanan?" Tanya Nindi sembari melepas pelukan tangan Arga dan membawakan jas yang baru Arga lepas, mengajaknya masuk kedalam kamar, dan ikut membantu melepaskan dasi sang suami.
"Apa yang salah? aku yang salah kenapa makin merasa bersalah saat Nindi bersikap seperti ini!" Ucap dalam hati Arga, dimana sang istri terkesan menjaga jarak darinya, dan bersikap lebih dingin dari biasanya, meski lebih perhatian, namun Arga malah merasa kehilangan, Nindi yang biasanya selalu terkesan cuek dan blak blakan, kini datar padanya.
"Tunggu sayang...!" Ucap Arga sembari mencekal pergelangan tangan Nindi dan menggenggamnya, menempelkanya ke dadanya.
"Maaf...maafkan aku...aku sungguh gila tadi...aku ikut ketakutan, aku membayangkan kamu dan calon anak kita yang tidak tidak, saat mengetahui betapa frustasinya kakak dengan kondisi kakak ipar, hingga tanpa sadar aku jadi posesif berlebih padamu...maaf..." Ucap Arga dengan mata yang menatap tajam pada wajah sang istri di depanya, sedangkan matanya terlihat berkaca kaca, tanda apa yang ia ungkapkan pada Nindi tulus, namun Nindi hanya menundukan kepalanya dan menatap kedua kaki sang suami.
Tanpa sadar...air matanya menetes perlahan lahan dan makin deras, hingga membuat Arga meraih wajahnya dengan kedua tanganya dan mengangkatnya, mengusap lelehan air mata itu dengan kedua ibu jarinya bergantian.
"Maaf...jika aku melukaimu...menyakiti perasaanmu...aku yakin...baru kali ini kau merasakan perlakuan kasar...aku janji tidak akan melakukanya lagi...jangan nangis lagi ya sayang..." Ucap Arga dengan sendunya, dan barulah Nindi menatap mata sang suami di depanya, wajahnya sedikit lebih tinggi darinya.
"Kenapa...di derama Korea, saat sang istri mempersilakan sang suami masuk, menawarinya makan dan melepas dasi sang suami dengan wajah sendu...selalu saja mendapat perlakuan manis persis seperti yang kamu lakukan ini ga, dan harusnya kamu menjadi Aktor...di banding Aktor Aktor derama yang baru aku lihat...wajah kamu lebih sempurna sayang...dan lagi...manisnya sikapmu nggak di buat buat, tidak seperti derama derama itu yang banyak di Cut...Cut...Cut...oleh Sutradaranya." Ucap Nindi yang menyunggingkan senyuman leganya.
"Sayang...sepertinya kau tidak tahu...atau bahkan kau belum mengenal lebih jauh siapa suamimu ini! kau bandingkan aku dengam Aktor? tentu aku lebih sempurna sayang...!" Ucap Arga dengan geramnya, dan berubah menjadi dengusan kesalnya.
"Habisnya aku frustasi saat kau bersikap kasar tadi...bukan gerakanmu yang kasar, tapi ucapanmu...rasanya hatiku sudah tersayat sayang...sekalian lah aku lihat derama korea saja, nangis baper deh jadinya!" Ucap Nindi dengan jujurnya, ia menonton derama korea dari episode satu sampai enam belas, hingga tamat.
"Jadi...kata mama kamu ngurung diri di kamar, dan nggak keluar, itu karena nonton derama? bukan karena lagi ngambek, sedih, nangis?" Ucap tanya Arga yang penasaran, dan Nindi hanya mengangguk perlahan lahan.
"Oke...baiklah sayang...tadi aku sudah kasar kan? baik aku akui itu, dan aku sudah minta maaf dengan setulus hati, dan berjanji nggak akan demikian lagi, apa kau sudah maafkan sayang?" Ucap tanya Arga pada sang istri, dan Nindi hanya mengangguk dengan senyumanya.
"Baiklah...berarti kita sudah impas kan sayang?" Ucap tanya Arga lagi pada sang istri, ia ingin memastikanya saja.
"Iya...sudah impas sekarang..." Ucap Nindi yang menyatakan Arga sudah tidak ada salah apapun padanya.
"Tapi sekarang masalahnya...aku sudah hampir gila! aku sudah hampir hilang kewarasan karena kamu sayang...aku khawatir sepanjang jalan...pikiranku semua di penuhi tentangmu dan hal konyol yang mungkin akan kamu lakukan, mengerti...jadi...aku mau pertanggungjawabanmu sayang...dan ini sudah tidak bisa di tahan lagi, aku benar benar sudah tidak sanggup!" Ucap Arga dengan kedua tangan melepas beberapa kancing bajunya dari aras, hingga dengan sekali sentakan Arga mampu menarik lepas kemeja yang di kenakanya, melemparkanya asal asalan, karena dasinya sudah Nindi lepaskan tadi.
"Apa...apa? apa yang harus aku tanggung?" Ucap tanya Nindi dengan hati yang sudah hampir meledak, ia perlahan lahan mundur, karena Arga makin mendesak maju ke arahnya, hingga tanpa terasa Nindi terjerembab ke atas pembaringan di belakangnya, namun tangan kekar Arga dengan cepat dan sigap mampu menangkapnya, dan menyangganya, hingga perlahan lahan Arga meletakan tubuh sang istri ke atas pembaringan.
"Kau tahu kesalahanmu?" Bisik lirih Arga tepat di depan wajah sang istri, dan Nindi hanya mengangguk perlahan lahan, membuat Arga tanpa sadar mengecup puncak hidung Nindi beberapa kali.
"Apa?" Ucap tanya Arga lagi yang masih bisa menguasai keinginanya, Arga berusaha sedikit menekanya.
"Karena aku menggodamu, dan aku tahu...kau tak pernah mampu menolak pesonaku." Ucap jujur Nindi, dan saat itu pula, suara empuk Nindi membuatnya tak bisa mengendalikan lebih lama lagi apa yang ia inginkan.
Dengan telapak tangan yang tepat berada di bawah kepala sang istri, Arga dengan leluasa menaikan, mengarahkan kepala Nindi agar tidak bergerak dari depanya, Arga dengan rakus mencium menikmati setiap inci disana, tanpa terkecuali, namun Arga tahu batasan yang harus ia perhatikan karena Nindi tengah mengandung anaknya, dan yang pasti Arga tidak memintanya lebih, hanya cukup untuknya dan sang istri puas saja.