
Hingga Gandi dan Keyra kembali pada orang tua masing masing, terlihat disana sudah ada minuman isotonik dan juga cemilan.
"Enaknya sarapan dimana nih? yang deket dan yang rasanya oke punya!" Tanya Abiyasa pada sahabatnya, setelah sang puteri dan Gandi sudah tiba disana.
"Enaknya sih pagi pagi makan apa ya? nasi uduk aja lah enak..." Ucap Arga sembari menatap sang istri, dan Nindi pun langsung mengangguki mengiyakanya.
Alhirnya ke enamnya sepakat untuk menikmati nasi uduk tepi jalan dekat dengan taman, Arga dan Abiyasa sepakat untuk membelinya, sedangkan Nisa istri Abiyasa dan Nindi terlihat ngobrol ngobrol santai, tapi Gandi sibuk menatap layar ponselnya, membaca pesan yang baru saja Evan kirimkan padanya.
"Di pusat perbelanjaan kota, di gedung lantai tiga, di depan ruang bioskop, pukul setengah empat sore nanti." Ucap pesan yang Gandi terima.
"Mah...Gandi mau beli kado buat temen ultah nanti sore, boleh ngajak Key nggak buat pilihin? kan selera Gandi nggak banget mah...boleh ya..." Ucap Gandi dengan rengekanya pada sang mama, dan Keyra hanya terbengong saja menyaksikan kata kata Gandi barusan.
"Kok tanya mama sih? tanya Tante Nisa dong...di izinin nggak tuh Key nya di ajak?" Ucap Nindi pada sang putera, hingga Gandi akhirnya memasang tampang memelasnya lagi menghadap tante Nisa, dag dig dug menunggu jawaban sang tante.
"Gimana tan? boleh nggak?" Tanya Gandi pada mamanya Keyra.
"Kok tanya tante sih sayang? tanya itu yang di ajak jalan mau enggak? gitu baru bener..." Ucap Nisa pada Gandi.
"Oh...kalau si Key itu kan udah Gandi ajak tadi tan, pasti mau lah...baiklah Key, ntar pukul tiga aku jemput ya...ingat...jangan telat." Ucap Gandi yang membuat Keyra melongo tak percaya, pasalnya, ia dan Gandi tadi hanya jalan bersepeda saja, dan tidak ada kata kata apa pun, apa lagi persetujuan Keyra.
"Di tanya Gandi tuh sayang kok diem?" Ucap Nisa pada sang puteri.
"Oooh....akh...iya iya mah...baiklah..." Kata Keyra dengan anggukan anggukanya.
Hingga Arga dan Abiyasa datang membawa sarapan dan juga minuman di tangan masing masing, kompak bersama, dan ke enamnya pun menikmati sarapan ria pagi itu dengan canda tawa, apa lagi Arga dan Abiyasa yang gencar menjodohkan jagoan dan puteri mereka.
Tepat pukul setengah tiga sore, Gandi sudah siap dengan pakaian casual nan santainya untuk siang itu.
"Mah...Gandi naik taksi aja ya...Gandi berangkat dulu..." Ucap Gandi yang berpamitan pada sang mama.
"Ngapain naik taksi sayang...tuh pak supir udah nungguin di luar, jangan malam malam ya pulang nya...awas ingat...ngajak anak orang, ntar lupa loh..." Ucap Nindi sembari memberi uang saku sang putera lima lembar seratus ribuan.
"Kalau kurang...ambil di ATM, ingat jangan pemborosan ya sayang..." Ucap Nindi lagi pada sang putera.
"Siyyyap bos mama..." Ucap Gandi dengan senyum senangnya, Nindi melihat sang putera yang telah tumbuh makin besar, bahkan saat itu, ia terlihat sudah hampir setinggi sang suami, apa lagi dengan kaus biru tua berkerah, dan celana hitam, serta sepatu ber merk hitamnya pula, tak lupa jam kesayangan hadiah dari kakeknya yang selalu ia kenakan.
Lalu Gandi yang di antar pak supir itu pun langsung menuju ke rumah Keyra, dimana setelah ia sampai disana, terlihat Keyra sudah menunggunya di luar rumah.
"Apa itu Keyra? dia...nggak gendut kan pak supir?" Tiba tiba ucap Gandi pada pak supirnya, saat ia lihat Keyra dengan dres sebatas lutut dan lengan tiga perempatnya, warnanya pun senada dengan kaus yang Gandi kenakan, Keyra makin cantik dengan sepatu kets putihnya, dan rambut yang di cepol, membuatnya kelihatan segar.
"Pak...kok diam pak?" Tanya Gandi lagi yang masih mematung di dalam mobil, sampai Keyra datang menghampirinya.
"Iya tuan...non Keyra nggak gendut kok..." Ucap pak supir lagi, dan Keyra pun akan masuk ke depan di samping pak supir.
"Heeeeh...Key yang bener aja, gue lu kacangin!" Ucap Gandi yang agak sewot, hingga akhirnya Keyra pun melangkah mundur dan membuka pintu mobil bagian belakang, lalu ia pun masuk dan duduk di samping Gandi.
"Jalan pak...!" Ucap Gandi lagi, lalu pak dupirpun segera menjalankan mobil yang di supirinya menuju ke tempat yang di tuju.
"Kok pakaian kita kayak couple gini ya Key? lu tau gue mau pakai warna ini?" Tanya Gandi pada gadis yang duduk di sampingnya, dan Keyra hanya menggeleng, tanda ia memang tidak tahu, hingga hening sepanjang perjalanan.
"Lu bawa apaan Key itu di dalam tas?" Tanya Gandi yang mengagetkan Keyra dari bengongnya.
"Akh...ini hoody punya kamu Gand kemarin itu lo...nih aku balikin, makasih ya..." Ucap Keyra sembari memberikan tas yang berisi hoody Gandi di dalamnya.
"Akh...ngapa juga lu balikin Key, ambil aja, aku ma punya banyak di rumah." Kata Gandi yang menyodorkan lagi tas dari tangan Keyra.
"Aku kan cewek Gand...nggak suka pakai hoody, lagian itu aku cuci dua kali tetap aja nggak ilang ilang itu bau parfumnya." Ucap Keyra yang menolak.
"Ya ya ya...jelas lah...parfum mahal gitu." Kata Gandi sembari menerima kembali tas tersebut, hingga sampailah keduanya pada tempat yang di tuju, Gandi langsung mengajak Keyra menuju ke lantai tiga, dimana tempat janjianya dengan Evan berada.
"Ini bukanya lantai bioskop ya Gand? kok kemari? katanya mau beli kado?" Tanya Keyra yang penasaran.
"Sssst...ntar juga lo paham..." Ucap Gandi yang terlihat celingukan menatap kesana kemari.
"Kamu nggak lagi ngajak aku kencan kan?" Tanya Keyra yang tidak di dengar oleh Gandi.
"Hoi..." Teriak Gandi sembari tanganya melambai memanggil seseorang, dan datanglah Evan ke arah keduanya.
"Aku sudah hampir gila Gand...kenapa kamu baru dateng..." Ucap Evan dengan wajah capeknya, Evan mengeluh saat Vanya menarik kesana kemari tubuhnya untuk mengikuti kemauanya, Evan yang terbilang pendiam dan lebih tidak se aktif Vanya pun merasa kelelahan, jika harus mengimbangi Vanya yang super ceria itu.
"Aku minta bantuanmu, kenapa malah kamu bawa pacar kamu kemari sih Gand!" Ucap Evan lagi dengan nada lelahnya.
"Tenang aja lu Van, la terus nenek sihir kemana?" Tanya Gandi pada saudara sekaligus sahabatnya itu.
"Lagi ke toilet Gand...nggak tau lama amat disana, semoga aja ketiduran." Ucap Evan masih dengan nada yang sama.
"Nih..." Ucap Evan sembari memberika dua tiket nonton untuk Gandi dan Keyra.
"Kamu?" Tanya Gandi sembari mengambil tiketnya.
"Udah dibawa Vanya Gand, sengaja aku beliin buat kalian tanpa sepengetahuan dia, aku pilih film horor, biar kapok tu anak!" Ucap Evan dengan nada semangatnya, ia berharap bisa membuat jera Vanya, namun Evan tidak tahu, bahwa Vanya sangat menyukai film horor, dan yang takut horor malah Keyra.
"Gand...aku beliin tiket film yang lain aja ya...itu buang aja." Ucap Keyra seketika saat melihat tiket yang Gandi pegangi.
"Nggak bisa Key, misi kali ini untuk membuat jera si Vanya, eh kamu ini malah ngajak nonton yang lain." Ucap Gandi dengan dengusan sedikit kesalnya.
"Kalau gitu aku tungguin kamu diluar aja ya?" Ucap Keyra lagi.
"Eh...nggak bisa! kamu kan kesini nemenin aku." Ucap Gandi lagi yang kukuh, membuat Keyra tak bisa menolaknya, namun Keyra juga tak berani bilang bahwa ia takut horor.