THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Diam diam menghanyutkan



Jantung Evan seakan berhenti berdetak saat itu saking kagetnya, ia hanya terdiam mematung dengan mata melotot dan bibir terbuka, pelukan Vanya tidak disambutnya apa lagi dibalasnya, ia masih syock saat itu.


"Dug dag dig dug dag dig dug." Suara irama detak jantung Evan yang Vanya dengarkan, saat itu telinga Vanya benar benar menempel tanpa jarak sedikitpun.


"Van...kamu nggak apa apa?" Tanya Vanya sembari melepas pelukanya perlahan dengan mendongak menatap keatas, kearah wajah Evan.


"Se...sepertinya aku terkena serangan jantung!" Ucap Evan dengan terbata batanya, namun malah membuat Vanya memeluk untuk kedua kalinya.


"Van...aku seneng banget...aku kangen..." Ucap Vanya lagi, sembari menenggelamkan wajah cantiknya kedada Evan.


"Tunggu! kenapa kamu kesini? siapa teman kamu? gimana kalau paparazi lihat? atau...pacar kamu yang datang kemari?!" Ucap Evan sembari mendorong pelan tubuh Vanya dari pelukanya, lalu melihat celingukan kesana kemari memastikan tak ada siapapun yang tengah menguntit.


"Sayang...kamu nggak percaya sama aku ya? aku selalu menempatkanmu pada satu tempat di hati aku, disana sudah penuh dengan kesempurnaanmu, bisakah cowok lain menandingimu?" Ucap Vanya yang tanpa sengaja membuat Evan merona, dan segera saja Vanya masuk menerobos kedalam.


"Loh...kok malah masuk?" Tanya Evan sembari menarik pergelangan Vanya, ia berharap Vanya tidak menginap disana malam itu.


"Aku nggak mau pulang malam ini, aku masih rindu kamu." Ucap Vanya sembari menepis tangan Evan dan berlalu merebahkan tubuhnya diatas pembaringan.


"Terus, kamu mau tidur dimana? aku nggak mau tidur di sofa!" Tanya Evan lagi, namun Vanya malah menariknya hingga Evan tersungkur di sampingnya.


"Yang suruh kamu tidur di sofa ya siapa sih...aku nyuruhnya tuh kamu tidur di samping aku lah..." Ucap enteng Vanya yang membuat Evan terperanjat dan langsung duduk di tepian ranjang, matanya menatap heran sesaat keaeah gadis yang tengah rebahan di sampingnya, seolah banyak pertanyaan yang Evan sedang simpan dan ingin menanyakanya.


"Apa disini, di Negara ini, semua pasanganya bebas seperti ini? dan kamu pun ikut seperti ini juga? tanpa menjaga dirimu dari cowok lain!?" Ucap Evan yang entah mengapa sedikit keberatan tiba tiba dengan pekerjaan Vanya, menurut Evan, pekerjaan seperti itu tak jarang harus beradu akting dengan lawan jenisnya.


Annya hanya terdiam saat ia mendengar apa yang Evan baru bilang, karena kenyataanya memang bersinggungan dengan lawan jenis jadi makanan sehari harinya.


"Lalu...aku harus bagaimana? aku sudah terbiasa menghidupi orang tua sedari dini." Ucap Vanya dengan tatapan yang menatap kedua mata Evan.


"Vanya...maaf...apa nggak sebaiknya kamu beralih kerja di kantoran saja? aku akan bilang ke papaku untuk..." Ucap Evan yang terhenti, karena Vanya langsung beranjak berdiri dari ranjang.


"Aku belum tamat sekolah, dan lagi...jika itu perusahaanmu sendiri, mungkin aku bisa pertimbangkan untuk benar benar vakum dari industri hiburan ini, sayangnya itu perusahaan papa kamu." Ucap Vanya yang menyadarkan Evan, bahwa ia salah sudah membanggakan perusahaan ayahnya, Evan sadar, dibanding Vanya, ia tidak ada apa apanya, namun Evan tidak tahu, bahwa mama Vanya tengah dirawat di rumah sakit.


"Aku terlalu lelah, bisakah kita jangan bahas hal yang menjengkelkan ini?" Ucap Vanya yang kembali membanting tubuhnya dengan keras keatas pembaringan, serta menarik tubuh Evan agar ikut tertidur disampingnya.


Saat itu, Evan tidak melawan sama sekali, ia hanya membiarkanya saja, saat Vanya dengan kuat memeluk lengan tanganya.


"Tok tok tok." Tiba tiba terdengar pintu luar kamarnya di ketok, segera saja Evan beranjak bangun, meski dengan perlahan lahan, berjalan menuju kedepan pintu lalu membukanya.


"Gandi...ada apa?" Ucap Evan saat ia dapati Gandi berada di luar kamarnya.


"Lu, gue panggil dari tadi nggak jawab jawab, kemana sih ponsel lu?" Tanya Gandi dengan nada suara yang khas seperti biasanya, sampai...Evan berusaha membekap mulut Gandi agar tidak membangunkan Vanya.


"Gelagat lu kenapa aneh banget, emang ada dimana orang yang kakek suruh? atau...takut karena ada CCTV ya Van?" Tanya Gandi sembari celingukan nenatap keluar kamar hotel, Gandi yakin, Evan nggak mungkin macem macem dengan cewek, apa lagi cewek luar Negeri, jangankan luar Negara, dalam Negeripun Evan pilih pilih.


"Vanya baru tudur...jangan keras keras." Ucap Evan sembari akan menutup pintu kamarnya.


"Halah...biarin aja, Hah...apaa!?" Ucap Gandi dengan terkejutnya, namun pintu sudah benar benar Evan tutup.


"Kenapa? kenapa cowok pendiam selalu menang banyak!? nggak Evan, nggak Reza, mereka benar benar diluar nalar, nah aku dan Eric, boro boro dapat durian runtuh, mau nyium kalau nggak nyosor dulu juga sampai lebaran monyet juga nggak bakalah di cium duluan!" Ucap gerutu Gandi sembari berjalan menuju ke kamarnya kembali.


"Akh...benar benar...diam diam menghanyutkan!" Ucapnya lagi.