
Sontak Gandi pun menoleh menatap gadis yang tengah menciumnya.
"Clarisa!" ucap Gandi yang lalu mengambil paksa tisu tersebut dari tangan gadis itu lalu mengusap usap pipinya yang tadi dicium gadis itu.
Tanpa marah Gandi hanya melirik kearah Key yang membuang muka dengan sinisnya. Disana Gandi langsung tahu bahwa gadis itu masih menyukainya.
Gandi pun langsung menarik lengan gadis yang tadi menciumnya menuju ke tempat lain, ke sebuah ruangan.
"Hei...kau sengaja kan? kau mau membuat skandal denganku? jangan mimpi!" ucap Gandi yang lalu akan beranjak pergi dari tempatnya, namun Gadis itu langsung bersuara, membuat langkah kaki Gandi terhenti disana.
"Kau terlambat kali ini sayang...ada wartawan yang tadi sudah mengambil foto kita, dan lagi...aku pikir itu baik...saat aku melihatmu menatap lekat seorang gadis namun kamu di acuhkan, aku ingin tertawa bahagia saat ini, ternyata ada juga yang menolak seorang Gandi, itu karma untukmu sayang...karena kamu telah menolak banyak hati hanya untuk satu orang mantan saja." Ucap Clarisa dengan tawa terkikiknya, ia merasa puas disana.
Gandipun berbalik dan mendekat menghampiri Clarisa di tempatnya.
Satu tangannya terangkat dan memegangi dagu artis cantik itu, namun terkesan menekan dan memaksakan jari jarinya disana.
"Hei...sepertinya kamu tidak tahu siapa Gandi! kita lihat saja besok, jika sampai skandal yang kau ciptakan ini muncul...!" ucap Gandi disana. Lalu bergegas pergi dan meninggalkan tempat.
"Cepat cari wartawan yang ada di acara ini, urus mereka." Ucap Gandi pada pesan yang ia kirim pada Max. Lalu Gandi menuju kembali ke arah teman temannya.
"Haiz...tidak Amanda! tidak Clarisa! kenapa semuanya mengincarku! Evan kan juga jomblo!" dengus Gandi sembari berjalan.
"Gand...sepertinya kamu masih terlalu populer dikalangan para gadis ya...!" ucap Eric saat lelaki tampan itu baru sampai di dekatnya.
"Ya...aku nggak merasa gitu, aku ma setia kok orangnya!" ucap Gandi sembari melirik kearah Key yang acuh tak acuh padanya.
"Sayang...lehermu kenapa?" tiba tiba bisik Dion saat menyadari jenjang istrinya yang terlihat tidak asing dengan bekas tanda itu, disana Vanya tidak kaget atau apapun, namun Evan yang begitu tersentak saat itu. Gandipun sama, ia segera menoleh kearah Vanya, ikut menatap lekat disana, seketika Gandi tahu bahwa itu adalah bekas ciuman yang Evan tinggalkan.
"Gila si Evan!" lagi lagi ucap dalam hati Gandi.
Sampai Gandi mengajak Evan meninggalkan tempatnya. Sedikit menjauh dari para teman temannya.
"Van kamu gila ya!? kenapa kamu menyukai istri orang?" ucap Gandi yang langsung pada intinya.
"Kamu tahu semuanya?" tanya balik Evan disana.
"Tentu lah...tuh suaminya saja nggak ngerasa ninggalin bekas ciuman, siapa lagi kalau bukan kamu? dia kan tadi denganmu di atap." Ucap Gandi dengan jujurnya.
"Kamu benar Gand, aku menyukai Vanya, masih menyukai Vanya, dan gadis itu pun sama, ia pun menyukaiku, untuk masalah suaminya, aku pastikan ia akan menyesal jika tidak mau melepas Vanya." Ucap Evan yang sudah buta karena cinta, ia akan menggunakan semua cara untuk bisa mendapatkan gadis yang ia suka kembali.
"Van! kamu jangan gila!" terian Gandi dengan suara yang sedikit meninggi, mengalahkan alunan musik disana, membuat beberapa orang yang dekat dengan mereka menoleh menatap ke arah keduanya.
"Kau tidak tahu! bagaimana gilanya aku tanpa dia! hah...bagaimana setiap hari aku memikirkannya, apa yang sedang ia lakukan? apa yang ia perbuat! aku seakan mati tanpanya, apa kau tahu?" ucap Evan yang membuat Gandi terdiam.
"Van! harusnya kau tahu, bagaimana aku di tahun tahun pertama kepergian Key, saat aku harus memaksanya untuk membenciku, saat aku harus menekan perasaan sukaku dan menguatkan hatiku, apa kamu tahu? saat satu bulan bahkan satu minggu sekali aku ke Negara Key hanya untuk ingin melihatnya dari kejauhan? mengendap endap seperti maling yang takut ketahuan? hancur Van saat itu, hancur...namun aku masih punya kesempatan meskipun hanya satu persen untuk bersama kembali dengan Key, tapi sekarang cerita kamu ini beda Van! dia sudah menikah dengan orang lain! kamu ingin Vanya di cap sebagai perempuan nggak bener karena telah menggoda laki laki lain? kamu ingin keturunan Wijaya di cap sebagai perusak rumah tangga orang? apa kata mereka? apa kata kakek nenek kalau mereka tahu? apa kata mama papa aku kalau sampai mereka pun tahu? akhiri Van sekarang, sebelum semua ini bertambah parah!" ucap Gandi dengan bijaknya, dan saat itu kedua mata Evan mulai berkaca kaca, ia tahu apa yang Gandi ucapkan bukan untuk melukai hati dan perasaannya, melainkan untuk kebaikannya, namun tanpa sadar hati dan perasaan Evan tersakiti saat itu juga. Evan sadar, ia telah bermain api, dan ia pun tahu, jika terbakar! bukan hanya dirinya yang terluka, melainkan Vanya tentunya yang akan lebih tersakiti.
"Aku pergi dulu Gand, tolong wakili aku jika acara ini sudah usai." Ucap Evan yang lalu pergi begitu saja dari sana, saat itu Vanya pun hanya bisa menatap kepergian orang yang ia cintai itu, Dion pun menyadari akan hal itu.
"Kamu menyukai pak Evan?!" ucap bisik Dion di telinga istrinya, dan Vanya hanya menyunggingkan senyumannya saja disana.
"Ada apa Van? kamu kenapa? ada apa denganmu?" ucap tanya yang ada di otak Vanya, memenuhi pikirannya dan membuatnya sesak saat tadi sempat sesaat tatapan mata keduanya bertemu sebelum Evan memutuskan untuk pergi.
Terlihat kedua mata itu berkaca kaca, namun tidak ada lelehan air mata yang menetes disana, sesak dan seolah tercekik Vanya rasakan saat itu, sampai Evan benar benar pergi.
Saat itu Vanya akan beranjak dari tempatnya, ia ingin mengejar Evan, namun saat itu pula Gandi mencekal tangannya, dengan senyum tipis dan sedikit gelengan pada gadis itu, isyarat Vanya harus tetap tinggal disana dan membiarkan Evan sendirian. Terlihat pula Keyra yang sesekali menatap ke arah Gandi, seperti tengah berbincang dengan isyarat saat Key melihat Gandi dengan Vanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Key dalam hatinya.