
"Gandi...ini beneran kamu? aku kira bukan tadi, kamu...makin tinggi!" Ucap Keyra yang masih tidak percaya pada penglihatanya.
"Gandi ya ampun...ini beneran kamu?!" Ucap Keyra lagi yang masih tidak percaya.
"Nggak usah sebut nama aku deh Key!" Ucap Gandi lagi yang masih marah dengan Keyra.
"Loh...kenapa? apa salah aku?" Tanya Keyra lagi yang tidak rahu kesalahanya.
"Pake nanya lagi!" Ucap Gandi lagi dengan nada marahnya, namun Gandi segera ingat apa tujuanya datang menjemput Keyra.
"Ayo pulang Key, aku kesini dapat perintah khusus dari papa kamu." Ucap Gandi dengan seriusnya.
"Oh...oke oke, aku ganti baju dulu ya..." Ucap Keyra kemudian berlari pergi menuju asramanya.
Hingga beberapa saat, Keyra datang dengan celana jeans dan kaus santai berwarna biru muda yang sangat pas dengan kulitnya.
"Tuh anak masak dua tahun lebih bisa hilang banyak berat badanya sih?" Ucap dalam hati Gandi.
"Ayo Gand...aku udah izin tadi sama ibu asrama." Ajak Keyra dengan segera, Keyra tahu, jika papanya sudah menjemputnya pastilah ada hal yang mendesak untuknya.
Gandi segera melajukan mobilnya, menembus jalanan sore yang nampak lengang.
Hening sepanjang perjalanan, hanya sedikit lirikan Gandi yang memastikan Keyra benar benar sudah ia bawa serta.
"Kenapa sih Gand? kamu marah kenapa?"
Tanya Keyra pada Gandi yang masih fokus pada kemudinya.
"Kamu..." Ucap Gandi yang tertahan karena Keyra tiba tiba langsung mengangkat panggilan telephonenya, sepertinya seseorang yang tengah menelephonenya adalah orang yang penting pula.
"Ouh ya Gand...gimana gimana? tadi ngomong apaan?" Tanya Keyra setelah usai dengan panggilan telephone nya.
"Nggak! nggak jadi, ngapain aku susah susah nerocos tapi kamunya nggak dengerin malah sibuk pacaran!" Ucap Gandi dengan dengusan kesalnya, yang entah mengapa saat ia mendengar Keyra memanggil nama cowok lain, ia merasa tak suka.
"Ngomong apaan sih Gand?" Tanya Keyra lagi, namun Gandi fokus pada pandangan di depanya, tiga jam pas nonstop tanpa berhenti, keduanya tempuh menjelang malam itu, akhirnya sanpai juga di tempat yang di tuju.
"Kenapa kita berhenti disini Gandi? kenapa nggak di rumah aku aja? ada apa ini?" Tanya Keyra yang benar benar kaget saat Gandi menghentikan mobilnya di area parkir rumahsakit terbesar di kotanya.
"Udah ayo ikut aja..." Ucap Gandi sembari mengajak Keyra ke ruangan kamar khusus omanya tengah dirawat.
Langkah Keyra terhenti seketika, ketika ia menatap mama papanya tengah terduduk lemas di lantai dengan sesenggukan dan isakan tangis yang menyayat saat Keyra dengarkan, di depan keduanya terlihat tubuh yang sudah berselimut kain kafan dan terlihat sudah kaku tanpa hembusan nafas, nampak pula beberapa suster yang tengah merapikan alat alat medis yang baru saja digunakan disana.
"Apa ini Gand? ada apa? siapa yang pergi?" Ucap Keyra sembari mengguncang tubuh Gandi dengan kedua tanganya, yang sebenarnya ia sudah tahu jawabanya, matanya berkaca kaca ingin menangis namun tidak bisa, tanganya terus menarik sedapatnya jaket yang Gandi gunakan, hingga sampai membuat Gandi menarik tubuh yang dulu gendut itu kedalam pelukanya, mendekap erat tubuh yang gemetaran hebat dengan seketika, kemudian tangis Keyra pecah, ia tahu yang terbujur disana di hadapan mama papanya adalah omanya, oma yang paling ia sayang, dan yang lebih parahnya lagi, di masa terakhirnya ia tidak ada di sisi omanya.
Tepat satu jam yang lalu omanya dinyatakan meninggal oleh para medis yang merawatnya, secepat apapun Keyra dan Gandi menaiki kendaraanya, sudah dipastikan tidak akan bisa mengejar sang oma, tidak keburu.
"Brugh." Tiba tiba Keyra ambruk, yang langsung Gandi topang dan papah menuju ke kursi tunggu di luar ruangan yang mama papa dan almarhum omanya tempati.
"Gandi!" Ucap Arga saat ia dapati sang putera tengah memeluk tubuh seorang gadis, Arga dan Nindi baru tiba disana saat itu, keduanya langsung datang setelah mendapatkan kabar dari Abiyasa.
"Sayang kamu sudah sampai..." Ucap Nindi yang juga datang ke rumah sakit tersebut, Arga dan Nindi sudah tahu bagwa Gandilah yang tengah menjemput Keyra.
"Akh...papa mama, ini Keyra...dia pingsan." Ucap Gandi sebelum kedua orang tuanya berpikir lebih.
"Iya sayang...mama papa tahu nak, ajak Keyra pulang, biar nama dan papa bantuin om Abiyasa dan tante Nisa disini." Ucap Nindi yang kemudian di angguki sang putera.