THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Sedikit syock



"Ke...kenapa baru bilang? kenapa nggak dari dulu dulu?" Ucap Gandi dengan sedikit terbata bata.


"Kan kamu baru nanya..." Ucap jawaban Keyra pada Gandi.


"Ya harusnya kamu bilang dong kalau si Alex sepupu gitu biar aku nggak salah paham.


"Kenapa harus aku ceritain semua ke kamu, kan saat itu kita belum pacaran." Ucap elakan Keyra.


"Ya walau begitu....akh sudah lah aku nggak mungkin bisa menang sekarang debat sama kamu." Ucap Gandi sembari berani menatap wajah Keyra.


"Kenapa bisa nggak mungkin bisa menang?" Tanya Keyra dengan bodohnya.


"Karena kamu pacar aku lah...kamu orang yang aku sukai...nggak bakalan kan hal sepele gitu dijadiin bahan debatan, kalau masih PDKT sih iya...malah cari bahan buat dekat sama kamu, sampai semut aja kita bahas kan? ingat nggak?" Ucap Gandi yang membuat Keyra tersenyum degan pipi merah meronnya, lalu Keyra mengingat ingat kembali, saat itu adalah saat ia masih kelah dua SMP, dimana Gandi tengah mengajarinya di rumahnya, dan ada beberapa semut yang ikut menjadi bahan pembicaraan keduanya, hingga tawa Keyra pecah dibuatnya.


"Ouh...jadi saat itu sengaja?" Tanya Keyra sambil menatap kearah Gandi.


"Emb...ini pipi kenapa merah sekali? apa kamu pakai perona pipinya kebanyakan?" Ucap Gandi yang mengalihkan perhatian Keyra, sembari kedua tanganya sengaja mengelus pipi mulus gadis cantik itu.


"Aku nggak pakai blush on sayang...ya ampun..." Ucap Kerya yang membuat jemari Gandi berhenti memgelus disana, tatapanya menatap lekat kedua mata Keyra.


"Apa? kamu panggil aku apa tadi? ayo ulangi...aku mau dengar..." Ucap Gandi dengan senyum tipisnya.


"Sa...yang..." Ucap Keyra sembari mengambil kedua tangan Gandi dan menggenggamnya.


"Astaga manisnya..." Ucap Gandi dengan senyum mesam mesemnya, ia terlalu senang dipanggil demikian.


"Akh...aku antar pulang..." Tiba tiba ucap Gandi yang tanpa ia sadari.


"Pulang? nggak kemana gitu?" Ucap Keyra yang merasa pergi baru berjarak beberapa meter dari rumahnya, jika ia jalan pun sampai rumah kembali.


"Akh...iya aku lupa...ayo kita lanjut jalan, kamu mau kemana juga aku turutin." Ucap Gandi dengan senangnya.


Di tempat Reza dan Qiran berada, Reza membawa Qiran menuju ke villanya dengan menaiki mobilnya.


Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya sampai juga di villa Qiran, nampak mungil dan sangat indah.


"Ini villa kamu?" Tanya Reza pada kekasihnya.


"Iya, tepatnya...villa warisan sayang, aku nggak punya apa apa, aku hanya bisa jagain saja." Ucap Qiran dengan senyum manisnya, namun seketika tanganya yang akan membuka pintu mobil itu pun terhenti saat ia melihat Reza tersenyum sembari menutupinya dengan punggung tanganya.


"Sangat tampan." Ucap Qiran dalam hatinya.


"Ada apa sayang? kenapa tersenyum? kamu menggodaku?" Tanya Qiran yang penasaran.


"Enggak...cuma lucu aja, aku denger kamu panggil aku sayang kayak gitu, bener bener baru banget gitu di telinga aku, dan berawal dari hal yang nggak disangka sangka gitu lo, akh pokoknya beneran aku masih nggak nyangka." Ucap Reza yang membuat Qiran menatap kearahnya.


"Harusnya, perasaan seperti itu pun kamu berikan padaku, aku juga ingin merasakanya, bukan hanya kamu saja, ini juga kali pertamanya aku pacaran, aku manggil sayang pada seseorang." Ucap Qiran dengan sungguh sungguh, dengan wajah yang sengaja di tekuk.


Keduanya pun masuk bersama, dimana sepi...dan tidak ada siapa siapa, sedangkan di tempat Reza, ada bibi yang memang di pekerjakan untuk bersih bersih disana, dan suami si bibi yang menjaganya, keduanya menempati tempat tersebut untuk merawatnya.


"Kamu sendirian?" Tanya Reza lagi, dan Qiran hanya mengangguk.


"Disini ada bibi yang seminggu dua kali bersih bersih, tapi lumayan bersih kan? meski hanya seminggu dua kali." Ucap Qiran dengan jawabanya.


"Kenapa kamu nggak bilang? haruskah kita balik lagi ke tempatku?" Ucap Reza sembari memegang tangan Qiran dan akan mengajaknya balik.


"Hei...aku udah dua hari disini, sendirian pula...nggak apa apa sayang...beneran...kalau kamu mau balik, balik aja..." Ucap Qiran dengan sungguh sungguhnya, karena memang benar dua hari Qiran menempati villa tersebut sendirian, dan baik baik saja, ia sudah terbiasa sendirian.


"Kamu yakin?" Tanya Reza lagi, dan Qiran hanya mengngguk mengiyakanya.


Saat itu Reza sudah melngkah pergi, hingga beberapa langkahnya, Qiran masih menatap punggungnya, hingga Qiran berbalik karena sudah dipastika Reza bakalan meninggalkanya malam itu, dan selama itu pun ia baik baik saja meski belum ada Reza disisinya.


"Mana mungkin aku tega ninggalin kamu sendirian." Ucap Reza yang tiba tiba berbicara disamping telinganya, dengan kedua tangan yang sudah memeluknya dari belakang.


"Akh...maaf...refleks." Ucap Reza sembari melepas pelukanya dengan segera, dan saat itu Qiran hanya bisa berbalik dan menatap wajah tampan kekasihnya itu.


"Aku nggak apa apa, aku udah terbiasa sayang...kamu jangan mengasihaniku seperti ini." Ucap Qiran dengan mata yang berkaca kaca.


"Sudah sewajarnya kan aku menemani kekasihku?! janji kok nggak akan ngapa ngapain, aku tidur di sofa, kamu tidur di ranjang, oke?" Ucap Reza yang mendapat anggukan dari Qiran.


Entah mengapa, perasaan Reza menjadi tak karuan saat melihat mata Qiran yang berkaca kaca, hatinya seperti tertusuk duri, sakit tak bisa di ungkapkan.


"Mungkinkah itu yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?" Ucap dalam hati Reza.


Dan saat itu pula, Ifa tengah menghubungi rumah yang harusnya di tempati Reza.


"Halo bibi, apa putraku sudah sampai disana?" Tanya Ifa pada bibi penjaga rumahnya.


"Itu nyonya...anu...itu..." Ucap bibi yang terbata bata, karena bibi takut akan bilang, tapi lebih takut lagi jika tidak bilang.


"Semoga tuan muda nggak marah." Ucap bibi dalam hati.


"Ada apa bi? Reza kemana?" Tanya Ifa lagi pada bibi penjaga rumahnya.


"Tuan muda...sedang mengantar pacarnya nyonya, tadi sempat singgah disini sebentar, karena pacar tuan muda kakinya luka lecet, tuan muda yang ngobatin." Ucap bibi dengan nada sedikit gemetar.


"Bibi yakin?" Tanya Ifa lagi, Ifa sengaja tidak mengekang sang putera, memang Reza sudah sewajarnya diusianya yang saat itu menyukai lawan jenisnya.


"Sungguh nyonya..." Ucap si bibi lagi.


"Yaudah bi...biarin aja, nggak apa apa." Ucap Ifa yang lalu mematikan panggilanya, paling tidak ia sudah lega karena sang putera sudah tiba disana, dan Ifa percaya pada puteranya.


"Ada apa sayang? kok manyun gitu? masak iya di tinggal Reza baru sehari udah kangen? buatin adek aja yuk..." Ucap Aditya yang tengah menggoda sang istri, ia berusaha membuatnya tersenyum lagi, namu Aditya tidak tahu, Ifa demikian karena sedikit syock mendengar sang putera ternyata tengah memiliki pacar.