THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Pertama kali adu jotos



"Apa kalian lihat artis?" Tanya Evan seketika saat ia menatap ketiga sahabatnya melongo saking terpesonanya.


"Gila Van...lu nggak tahu ya? dia emang artis van..." Ucap Eric seketika, dan di tambah anggukan kedua sahabatnya yang lain.


"Oh..." Ucap Evan namun hanya sesekali melirik gadis yang baru memperkenalkan namanya itu.


"Baiklah Vanya...kamu bisa duduk di sebelah Evan." Ucap pak guru yang mempersilakan, karena memang bangku di sebelah Evan tengah kosong, sedangkan Evan satu bangku dengan Gandi.


Lalu Vanya pun segera berlalu menuju ke tempat duduknya.


"Van...gantian dong tempat duduknya..." Ucap Gandi seketika.


"Nggak usah macem macem deh gan..." Ucap Evan dengan sadisnya.


Sedangkan di belakang tempat duduk Evan dan Gandi, di tempati oleh Eric dan juga Reza.


"Hai..." Sapa Vanya pada Evan, namun Evan tak menanggapinya.


"Dasar sok kegantengan banget sih." Ucap lirih Vanya sembari tersenyum palsu pada Evan, dan Evan samar samar mendengarnya, namun hanya diam saja.


Hingga jam pelajaran pun tengah usai, dan semua anak terlihat keluar ruangan dengan berdesakan.


"Akh...kenapa juga harus pengen ke toilet sih!" Ucap Gandi, saat ketiga temanya sudah hampir keluar dari pintu gerbang sekolah, ketiganya sudah di jemput masing masing.


"Kalian duluan aja deh...aku kebelet ke toiler nih." Ucap Gandi yang langsung berlari meninggalkan ketiga sahabatnya, dan menuju ke toilet.


Saat itu sekolah sudah sepi, dan yang masih ada hanya beberapa siswa siswi yang tengah menunggu jemputan sepertinya, samar samar Gandi mendengar suara isakan seorang gadis, namun ia tidak mempedulikanya, dan langkahnya terhenti saat ia mendengar sebuah gebukan yang begitu lumayan kencang ia dengar, di tambah tamparan yang membuat Gandi tidak bisa hanya diam saja, ia segera mencari sumber suara.


"Maaf kak...saya hanya punya uang segitu saja...nggak lebih..." Ucap gadis yang tengah teraniaya dan di sela isakanya.


Tampak pipi merah yang habis di tampar, dan tersungkur dilantai, di pojok bangunan ruang seni tari, dimana ruangan itu selalu sepi, terapit beberapa ruangan lagi, namun dekat dengan toilet laki laki.


"Hai...kalian nggak tahu malu apa emang pura pura nggak malu? dia cewek bro...lawan kalian berempat, jelas kalah lah...!" Ucap Gandi seketika dengan teriakanya, dan seketika ke empat kakak kelas Gandi itu pun menatap ke arahnya, termasuk si gadis yang telah di bully.


"Gadis gendut bodoh...bisa bisanya kau kalah dengan ke empat kerempeng cemen kayak gitu, sekali tubruk aja mereka mental dasar, sana pergi!" Ucap Gandi sembari memberi isyarat si gendut untuk pergi meninggalkan tempatnya.


"Gimana dengan kamu?" Tanya si gendut pada Gandi.


"Tenang saja...tiap akhir pekan, aku selalu tak ketinggalan ekstra bela diri, mungkin waktunya aku praktekin, sono pulang...semoga kita nggak usah ketemu lagi, nyusahin aja!" Ucap Gandi dengan songongnya.


Dan benar saja, si gendut yang Gandi tolong malah lari ngibrit dengan cepatnya.


"Ya...dia beneran ngibrit...cewek gendut nggak punya hati, mana Evan dan semua sudah pada pulang lagi." Ucap Gandi dalam hati, yang sudah memasang kuda kuda yang ia tahu saat berlatih dengan sang papa.


"Kau nggak takut beneran melawan kami berempat? kau sendirian sekarang, meski kau pandai beladiri, tak mungkin menang melawan kami." Ucap salah seorang, dan benar saja, ke empatnya sudah maju mengeroyok Gandi yang seorang diri.


Sekali dua kali Gandi berhasil menghindar dan malah bisa memukul balik lawanya, namun sesekali pipinya terkena tonjokan pula.


"Cih, aku nggak sangka, di sekolahan elit kayak gini masih aja ada preman kampungan." Ucap Gandi yang menyerang balik dan terjadi baku jotos, alhasil ke empat lawanya terdapat memar yang lumayan banyak, namun Gandi hanya mendapat dua memar saja di pipi kananya dan di ujung bibirnya.


"Gan apa apaan kau ini?" Tanya Evan yang menarik lengan Gandi agar menjauh dari ke empat siswa yang bonyok karenanya.


"Ada apa ini?" Tanya pak guru yang baru datang.


"Aduuh....aaakhh...pak tolong....mereka mengeroyoku...aduh...sakit semua tulang tulangku...rasanya patah semua...akh...sakit..." Tiba tiba teriak Gandi seketika seperti orang yang teraniaya, padahal dibanding lukanya, luka ke empat siswa yang baku jotos denganyalah yang lebih parah kenyataanya.


Lalu Evan dan yang lain membawa Gandi segera ke UKS, tak lupa si gendut pun ikut serta disana.


"Heh gendut...aku bilang kau jangan muncul di depan aku lagi...masih aja muncul dasar...sana pulang!" Ucap Gandi dengan kasarnya, dan membuat si gendut sedikit sedih.


"Makasih...tidak akan pernah aku lupakan hari ini." Ucap si gendut yang lalu pergi meninggalkan Gandi dan teman temanya.


"Lu keterlaluan Gan...dia juga punya perasaan...awas lu kena karma tahu rasa." Ucap Eric dengan candanya.


Hingga bu dokter yang jaga UKS pun datang dan memeriksa luka memar Gandi sampai usai.


"Aduh Dok sakit...sakit semua..." Ucap Gandi dengan lebay nya.


"Cetak. Aduh." Tiba tiba sentilan Evan mengenai kening Gandi.


"Dokter udah pergi, nggak usah akting, kenyataanya kamu cuma memar doang, nah yang kamu gebukin ke empatnya masuk rumah sakit." Ucap Evan menerangkan.


"Kok kalian bisa datang bersamaan kemari? waktunya telat pula." Ucap tanya Gandi dengan protesnya.


"Kami lihat Gps di ponsel kamu diam nggak gerak, lalu Evan bilang mau balik, ya aku ikut balik lah, Reza juga." Ucap Eric yang menerangkan.


"Hah...papah!" Ucap sedikit teriak karena terkejut sosok sang papa sudah berdiri mematung di depan pintu UKS.


"Halo om..." Ucap Eric yang menyapa Arga, disusul dengan Reza yang ikut menyapanya pula.


"Kak..." Sapa Evan pada kakak iparnya.


"Kalian cepat pulang...jemputan kalian sudah menunggu di luar." Ucap Arga dengan wajah datarnya, tanpa ekspresi dan terkesan dingin.


Seketika semua berpamitan untuk pulang, dan tinggal Gandi yang masih duduk di atas ranjang UKS.


"Pah...maaf...Gandi nggak salah pah...Gandi hanya bela diri pah...papa mau marahin Gandi ya?" Ucap Gandi dengan nada ketakutanya, karena baru kali itu ia melihat ekspresi sang papa yang sangat mengerikan.


"Akh sakit papa!" Ucap Gandi yang merasakan tangan papanya yang keras dan sedikit memaksa mengangkat dagunya keatas.


"Bodoh! kalau sakit kenapa kamu biarin mereka memukulmu?" Ucap Arga yang diluar ekspektasi Gandi.


"Jadi papa nggak marah? Gandi berantem?" Ucap Gandi dengan senyum senangnya.


"Nggak marah Gandi, cuma jangan di ulangi lagi. Cowok berantem udah biasa, yang nggak biasa itu berantemnya karena ngrebutin cewek gendut...papa heran sama kamu." Ucap Arga yang membuat sang anak melongo seketika.