
Hingga sampai pukul tujuh malam, saat waktunya Nindi untuk makan malam, namun ia juga tak kunjung keluar dari kamarnya, dan membuat hati bibi seakan was was di buatnya, pasalnya hari itu ia mendapat perintah langsung dari tuan rumah yang mempekerjakanya untuk menjaga nyonya rumah, hingga ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Nindi perlahan lahan.
"Nyonya...apakah anda sudah bangun?" Ucap bibi asisten rumah tangga dengan ketukan ringan di luar pintu kamar Nindi beberapa kali.
Dan Nindi pun yang memang sudah bangun, tahu betul bahwa bibi tengah mengkhawatirkanya. Lalu ia pun segera menyahut dengan seketika, tanda ia baik baik saja.
"Iya bi...aku sudah bangun kok..." Ucap Nindi sembari beranjak dari tempatnya dan berjalan perlahan lahan menuju ke arah pintu kamarnya.
"Ada apa bi?" Ucap Nindi setelah membuka pintu kamarnya, dan terlihat si bibi asisten rumah tangganya sudah berdiri mematung di depanya dengan sedikit membungkuk.
"Itu nyonya...tuan tadi berpesan bahwa nyonya harus makan malam tepat waktu...sedangkan sekarang sudah lewar waktunya makan malam..." Ucap bibi dengan nada sedihnya.
"Oh...iya...baiklah, oh ya bi...apa suamiku belum pulang?" Tanya Nindi pada asisten rumah tangganya.
"Belum nyonya...apa nyonya mau saya ambilkan makan malamnya ke kamar saja?" Tanya bibi yang menawari nyonya mudanya.
"Nggak usah bi..." Ucap singkat Nindi.
"Yaudah...bibi duluan saja, nanti aku nyusul, sekarang aku masih mau cuci muka dulu." Ucap Nindi yang kemudian di laksanakan oleh sang bibi, lalu Nindi pun menutup pintu kamarnya lagi dan berjalan perlahan menuju kamar mandinya yang berada di dalam ruangan kamar yang di tempatinya.
Hingga beberapa saat, Nindi pun akhirnya keluar dari kamarnya dan berjalan dengan hati hati menuju ke arah meja makan.
Disana sudah terlihat bibi yang tengah mematung menungguinya, dan terlihat hidangan di atas meja makan yang sudah bibi siapkan untuknya.
Hingga terdengar bunyi rintik hujan yang baru turun mengguyur malam itu, nampak udara dingin menyeruak, segera saja bibi berlari menuju meja kecil yang di atasnya terdapat remote control AC, segera bibi menaikan suhu penghangatnya, agar udara di dalam kediaman Arga itu menjadi hangat.
Nampak Nindi menikmati makan malamnya, namun hanya sedikit sekali menurut bibi, dimana pikiran Nindi sudah melayang menuju ke arah sang suami, hujan yang rintik itu pun kian lama kian makin deras dan lebat, bahkan sesekali bunyi petir turut menghiasi.
Dalam hatinya hanya ada satu doa yang ia panjatkan, Semoga suaminya baik baik saja dan bisa pulang malam itu dengan selamat sampai rumah.
"Bi...maaf ya...sampai pukul segini bibi masih terjebak disini, apa tidak apa apa bi? bibi pulang kemalaman? nggak ada yang nyari?" Ucap tanya Nindi di sela sela makanya.
"Tidak apa apa nyonya...tadi tuan sudah berpesan, jadi bibi juga sudah pamit orang rumah kalau mungkin malam ini bibi menginap disini nyonya." Ucap bibi dengan senyum ramahnya, dimana ia tahu bahwa orang yang dekat dengan kediaman tuan dan nyonyanya hanya ia seorang, dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membantu menjaga nyonya mudanya, toh juga tidak setiap hari, sedangkan bibi dengan senang pula melakukanya, karena hitung hitung, tuan dan nyonya nya tidak pernah perhitungan soal gaji ataupun soal uang belanjaan padanya, bahkan sering banyak kelebihanya, sedangkan nyonya dan tuanya tidak pernah mau menerima kelebihan kembalian uang belanjaan.
Pikiranya hanya tertuju pada cuaca malam itu.
"Semoga tidak mati listrik yatuhan..." Ucap Arga dalam hatinya berkali kalai ia gumamkan, ia tahu betul bahwa sang istri takut akan gelap, dan Arga lebih khawatir lagi saat Nindi tengah mengandung di trimester akhirnya.
Segera ia mengambil ponselnya, namun ternyata ponselnya mati, benar benar tidak mendukungnya sama sekali.
"Akh...sial!" Dengus kesalnya seketika.
"Mas mau aku anterin? kemanapun boleh..." Ucap seorang wanita cantik dengan dress merah mencolok seatas lutut dan tanpa lengan, bahkan terkesan sangat minim, membuat kulit putihnya banyak terekspos. Dengan tangan yang memegangi satu payung, dan terlihat kuku jemari yang terawat dengan warna kuteks yang senada dengan dress yang dikenakanya.
Nampak sesaat Arga menikmati pandangan gratisnya tersebut, hingga petir menggelegar hebat, seketika menyadarkanya dari racun dunia itu.
"Terimakasih banyak, tapi saya lebih suka hujan hujanan saja, daripada nebeng payung anda! karena istri saya suka mual bahkan sering muntah kalau mencium parfum yang asing dari pakaian saya, apa lagi di tubuh saya." Ucap Arga sembari berlari sekencangnya dengan memakai tas tangan kulitnya sebagai payung di atas kepalanya.
Arga berlari menuju ke arah mobilnya, dan segera masuk ke dalam setelah sampai tepat di samping pintu mobilnya.
Sedangkan sang wanita yang tadi menawarinya tumpangan, tahu betul maksud Arga, dimana jika ia setuju menerima tawaranya, pastilah parfum mencolok miliknya akan menempel pada kemeja yang di gunakan Arga.
Dan bisa jadi, tawaranya akan berubah ke arah serius jika Arga termasuk golongan pria hidung belang.
Arga segera memacu mobilnya, dengan menembus curah hujan yang lumayan lebat malam itu, ia juga belum sempat makan dengan benar tadi, karena pikiranya sudah tertuju pada sang istri, otaknya hanya di penuhi oleh Nindi dan calon puteranya, lalu meninggalkan tempat pertemuan dan menyerahkan sisanya pada sekretaris dan asistenya.
"Sayang...aku harap kamu baik baik saja...dan aku benar benar tak ingin listrik padam malam ini." Ucap Arga sepanjang perjalanan.
"Duaaaar!" Tiba tiba kilat menyambar dan benar saja, saat mobil yang di kendarainya masuk ke jalan yang menuju ke rumahnya, nampak kanan kiri rumah terlihat padam, benar saja, wajah Arga makin panik seketika, ia pikir Nindi pasti ketakutan, ia bahkan tak bisa mengatur kecepatan mobilnya, hingga tiba di kediamanya, segera ia pun berlarian masuk kedalam rumah, dengan pakaian basah kuyupnya, Arga bergegas mencari keberadaan sang istri.
"Sayang...kamu dimana?" Ucap Arga dengan suara sedikit meningginya, dan hanya cahaya remang remang dari lilin yang ada.
Hingga sampai di depan pintu kamarnya, nampak bibi tengah membantu istrinya untuk duduk di tepian ranjang.
"Sayang kamu pasti ketakutan, maaf...maaf ya aku telat pulang..." Ucap Arga seketika, sembari berhambur datang ke arah sang istri dan memeluknya erat disana, sedangkan sang bibi yang menyaksikan adegan manis yang romantis itupun segera pamit undur diri dari dalam ruang kamar tuan rumahnya, membiarkan tuan dan nyonya nya untuk bersama.