
Malam kian larut, Evan hanya menyendiri di ruang kamarnya, terduduk di lantai bersandar ranjangnya, dengan sebotol wine disampingnya, kepalanya menunduk penuh dengan kesedihan, dimana sampai detik itu hanya Vanya lah gadis yang ia cintai, namun mengingat konsekuensi yang Gandi katakan, tidak bisa Evan membiarkan Vanya terluka oleh perkataan dan cemoohan orang.
"Haruskah aku melepasmu saja? bisakah kita bahagia? melupakan satu sama lainnya? sedangkan kau selalu ada di depan mataku!" ucap Evan dengan tegukan besar wine langsung dari botolnya.
Di tempat acara, Gandi terlihat tengah mengantar kepergian para tamu undangan, Vanya dan Dion pun sudah pergi dari sana. Reza dan Qirani pun sudah berpamitan terlebih dahulu, apa lagi Eric dan Nora! calon istrinya itu adalah wanita karir yang super sibuk.
Tinggalah teman Key tadi yang datang dengannya yang menghampiri Gandi dan berpamitan untuk pulang, sedangkan Key tidak ingin bertemu dengan Gandi, perasaan sakit dan muak saat melihat lelaki itu selalu Key rasakan, bahkan saat melihat ada gadis lain yang mencium Gandipun, Key tidak ambil pusing, dalam hatinya berkata, sembilan tahun adalah waktu yang lama, bukan waktu singkat, jadi jika hanya satu dua wanita yang ada di dekat Gandi, itu sudah biasa, apa lagi mengingat siapa Gandi saat itu, Key tahu tidak sedikit gadis yang sudah lalu lalang pergi disisinya, dan gadis gadis itu bukanlah gadis sembarangan, pastilah gadis luar biasa yang mungkin rekan Kerja, atau kolega, atau pula sekedar kenalan dari kalangan atas. Sedangkan Key hanyalah spesialis Dokter bedah, bukanlah apa apa untuk Gandi, jadi Key putuskan terus menyimpan semua kenangan itu dilubuk hatinya yang terdalam. Meski Key rasa itu tidak adil baginya, karena hanya Key yang tidak bisa lepas dari bayang bayang masa lalunya, hingga membentengi dirinya sendiri dalam kesendirian selama itu.
"Kamu yang datang dengan Key kan? Key nya mana?" tanya Gandi pada lelaki yang masih mematung di hadapannya.
"Oh...Key nya sudah di parkiran duluan kak." Ucap lelaki tersebut yang usianya tiga tahun di bawah Gandi. Namun belum sempat lelaki itu menyelesaikan ucapannya, Gandi sudah pergi terlebih dahulu dari tempatnya.
Sontak lelaki itu pun akan ikut mengejar Gandi, namun Max sudah menahannya sebentar.
"Sebentar tuan! anda tolong tunggu disini sebentar ya..." ucap Max pada lelaki tersebut, dan sepertinya berhasil.
Gandi langsung berlari menuju tempat parkir, disana ia terlihat celingukan mencari keberadaan Key. Terlihat gadis itu tengah menyandarkan tubuhnya kesamping pintu mobil, dengan memainkan ponselnya disana. Seketika Gandi pun menghampirinya.
"Key..." ucap Gandi saat menghampiri gadis itu, dan sudah di dekatnya.
"Kamu manggil Key aku?" ucap Keyra yang menoleh karena panggilan Gandi.
"Ya...siapa lagi yang mempunyai nama Key selain kamu? ya kamu lah..." ucap Gandi yang kikuk, ia tidak tahu lagi harus bicara dari mana dulu.
"Key...minta nomornya dong!" ucap Gandi yang hanya kepikiran nomor ponsel, pikir Gandi akan lebih mudah jika ia mempunyai nomor ponselnya.
"Oh...mau nomor apa? nomor rumah? nomor rekening? atau nomor sepatu? waaah jangan sampai nomor bra aku ya!" ucap Key yang membuat Gandi terbengong melongo.
"Ni cewek kenapa bisa asal nyablak begini sih? masak iya dia nggak peka sih!" ucap Gandi dalam hatinya.
"Jelas lah nomor ponsel kamu Key, kamu kejauhan mikirnya sampai nomor sandal sama nomor bra!" ucap Gandi yang membuat Key kesal.
"Oh...setelah sekian tahun kamu ngeblokir nomor aku, sekarang kamu minta lagi? kalau dipikir pikir kelewatan nggak sih!?" ucap Key yang lalu masuk kedalam mobil sembari terlihat menghubungi seseorang disana.
"Kalau kamu nggak cepet keparkiran! aku tinggal!" ucap sadis Key saat itu yang Gandi dengar.
"Key...please...beri aku kesempatan untuk menjelaskannya Key!" ucap Gandi dengan tangan yang menggedor gedor kaca pintu mobil.
"Enak saja! setelah mencampakkanku kau datang lagi! hah...dasar sinting!" ucap Key dengan gerutunya yang tidak menggubris gedoran Gandi yang sedari tadi terus memohon. Sampai orang yang Key tunggu pun tiba, dan ikut masuk kedalam mobil.
"Aku nggak kenal...hya! hutang, hutang! sejak kapan kamu tahu aku suka berhutang?" ucap Key yang memberi isyarat untuk menancap pedal gas mobilnya, mobil berlalu pergi begitu saja.
"Aku tahu aku salah...aku tahu aku telah menyakitimu, aku pun tahu bagaimana perasaanku hingga saat ini Key! aku pastikan akan mendapatkanmu! aku janji!" ucap Gandi yang mulai tertantang oleh mantan pacarnya itu.
"Bos...anda di tolak lagi?" ucap Max yang tiba tiba muncul dari belakang Gandi.
"Hah...lagi? kapan aku ditolak? kenapa lagi?" tanya Gandi balik.
"Nah itu buktinya!" ucap Max dengan jujur, saat melihat bosnya kelabakan.
"Bukankah itu lebih menantang? daripada yang gampang di dapatkan!?" ucap Gandi dengan senyuman tampannya, ia merasa gadis itu selalu bisa menarik perhatiannya.
Max hanya menatap bosnya tanpa komentar, karena ia belum pernah melihat bosnya itu mengejar wanita sampai sebegitunya.
"Apa bos jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya Max pada bosnya, Max pikir Gandi jatuh cinta karena gadis itu yang menolong bosnya saat malam tahun baru kemarin.
"Ya...bisa dibilang begitu lah Max...cinta pertama aku." Ucap jujur Gandi.
Ditempat Dion, Vanya meletakan tas tangannya keatas meja depan kaca riasnya.
"Tok, tok, tok, Van aku masuk ya..." ucap Dion dari luar pintu kamar Vanya, keduanya memang tinggal satu rumah namun tidak tidur satu ranjang.
"Iya masuklah..." ucap Vanya dengan lesunya, jujur saat itu ia khawatir pada Evan. Dion masuk kedalam dan duduk di tepian ranjang samping Vanya.
"Van...apa hubunganmu dengan pak Evan?" tanya Dion pada istrinya.
"Ceritanya panjang, aku yang mengejar dia duluan, aku yang selalu menempel padanya, membuat lelaki pendiam itu merasa terus aku ikuti, dulupun aku periang, sangat centil, sangat percaya diri, sampai...aku pindah sekolah dan memutuskan bersama mama, mencari keberuntungan di Negara lain." Ucap Vanya dengan kedua mata berbinar senang saat Dion lihat.
Dion baru sadar, gadis itu bercerita dengan ceria saat menceritakan masa masa Vanya dan Evan.
"Apa kalian saling mencintai?" ucap Dion seketika yang membuat Vanya menoleh menatap kearah lelaki itu. Vanya mengangguk mantap dengan jawabannya.
"Akh syukurlah!" ucap Dion dengan lonjakan senangnya, Dion pun ikut senang saat Vanya memiliki tambatan hati.
"Jadi kamu nggak marah?" tanya Vanya dengan antusiasnya.
"Kenapa aku marah? aku saja sering jalan sama Daniel, kamu pun juga harus bahagia lah...!" ucap Dion yang membuat Vanya bahagia, lalu iapun berpamitan untuk ke rumah Evan detik itu juga, dan Dion mengizinkannya.