
"Wah...begini ya apartemen kamu, bersih...nyaman..." Ucap Reza saat ia baru masuk kedalam.
"Duduk! dimana kotak obat nya?" Tanya Reza sebari memaksa Qiran untuk duduk di sofa, dan Reza segera mengambil kotak obat tersebut setelah Qiran menunjukanya.
"Sekalian benang dan jarumnya ya sayang..." Ucap Qiran yang hanya dituruti Reza, ia tidak tahu Qiran ingin jarum dan benang itu untuk apa.
Reza segera menghampiri Qiran dan duduk di sampingnya, memberikan obat pada luka Qiran dan terakhir menutupnya dengan plester, setelah lukanya di tutup, Qiran pun segera beringsut mendekat kearah Reza, merapatkan tubuhnya pada kekasihnya itu.
"Ini biru kehitaman sayang...pasti sakit ya?" Tanya Qiran dengan jemari yang sudah terangkat dan mengelus perlahan ujung bibir Reza, membuat kikuk tingkah Reza seketika, darahnya berdesir tak teratur, dadanya seperti sedang di gedor, jantungnya tak beraturan.
"Aku nggak apa apa kok, ini nggak sakit sama sekali." Ucap Reza yang membuat Qiran mengangguk.
"Qiran...mau ngapain?" Tanya Reza seketika saat ia sadari tubuh Qiran sudah benar benar dekat bahkan sudah saling menempel lutut keduanya.
Saat itu, Qiran hanya mengambil benang dan jarum yang ada di meja depan Reza, sembari mengambil satu kancing yang memang tersedia di tempat benangnya.
"Mau ngapain? jangan gini dong..." Ucap Reza yang belum tahu, kekasihnya itu akan berbuat apa padanya, hingga tangan Qiran mendekat dan menyentuh sedikit lehernya, membuat Reza terkaget di buatnya, dan saat itu, seketika Reza mengambil jemari yang menyentuhnya itu, menggenggamnya.
"Sayang...apaan sih! aku mau pasangin kancing di baju kamu! kancingnya lepas tuh, apa kamu mau lepas kemeja? akh jangan...aku beneran belum sanggup lihat roti sobek." Ucap Qiran dengan pipi mereh dan wajah berpaling, dan karena tanganya pun masih dalam genggaman Reza.
"Akh...nggak usah nggak usah...biarin aja, paling ntar juga aku buang." Ucap Reza sembari melepas perlahan tangan Qiran, dan saat itu segera Reza berdiri, berjalan cepat menuju ke kamar mandi.
"Akh...aku sangat tak suka! kenapa bisa wajahku merona disaat seperti ini, akh aku tak bisa mengendalikanya, pasti ini penyakit, aku yakin ini nggak normal." Ucap Reza sembari membenturkan diding keningnya dengan perlahan lahan, lalu ia pun mengatur nafasnya, barulah setelah teratur, Reza keluar dari dalam kamar mandi, menuju kearah Qiran lagi, namun ternyata Qiran sudah berada di kamarnya dan sudah mulai mengemas pakaianya.
"Sayang...sini, bantuin..." Ucap Qiran yang langsung membuat Reza berjalan mendekat kearahnya, Reza pun segera membantu Qiran memasukan beberapa pakaianya kedalam koper, koper yang lumayan besar dan bisa menampung banyak isi.
Sampai...Reza tanpa sengaja memegang bra pink yang sudah tertata di dalam koper, Reza bermaksud menata ulang agar lebih rapi, namun ia tidak sengaja menyentuhnya.
"Astaga!" Ucapnya dengan nada suara yang sedikit meninggi saking kagetnya.
"Akh bra ku, kamu menyentuhnya!" Ucap Qiran dengan terkejutnya pula.
"Aku nggak sengaja! sungguh!" Ucap Reza dengan kedua tangan menangkup, dan membuat Qiran tertawa.
"Yaudah lanjutin, aku tungguin di luar." Ucap Reza yang langsung pergi menuju ke dapur, membuka pintu lemari pendinginya dan memasukan kepalanya disana, mengambil satu botol air mineral dan menekan nekanya ke pipi kanan kirinya yang ia rasa sangat panas kala itu.
Hingga semua sudah usai, dan keduanya putuskan untuk pulang kerumah, hingga beberapa saat, tibalah keduanya di rumah, nampak Eric dan Gandi ada disana, sedang duduk main game berdua.
"Kalian! ngapain? ada apa?" Tanya Reza yang penasaran, karena keduanya tidak sedang janjian nge game atau keluar bersama.
"Lu ma lama amat...udah dua kali gue dan Evan datang kesini." Ucap ketus Gandi pada sahabatnya itu, hingga Gandi menarik tangan Reza dan membisikinya sesuatu, nampak Reza pun manggut manggut di buatnya, Reza sudah mengerti.
"Iya...nanti gue izin sama bunda dan papa dulu Gand...gue capek...mau istirahat, ntar gue kabarin deh." Ucap Reza sembari melirik kekasihnya yang tengah berjalan masuk menuju kamarnya.
"Iya, iya...gue paham kalian sedang kasmaran, nggak gitu juga kali natapnya." Ucap Gandi yang tengah menggoda Reza, hingga akhirnya keduanya pamit pergi, saat itu Gandi dan Reza bergegas menuju kerumah Eric, namun setelah sampai sana, ternyata Eric sedang berlibur ke Negara omanya, ke tempat oma Neta, itupun Gandi dan Evan tahu dari asisten rumah tangganya
"Bro gue di rumah lu nih, akh sama Evan juga...lu nggak bilang kalau nggak dirumah." Ucap Gandi pada panggilanya, ia ingin memastikan sendiri keberadaan sahabatnya itu.
"Eh...ini lagi liburan dirumah oma gue Gand, sebel gue, masak di tinggalin mulu sama nyokap bokap gue, ya gue ajakin kesini aja, kumpul deh disini, ada apa tumben tumbenan!" Ucap Eric yang menerangkan.
"Gue mau ngajak lu liburan sih...besok, akh lu ma nggak ada..." Ucap Gandi dengan jawabanya.
"Akh gue nggak bisa gabung Gand...sorry ya..." Ucap Eric yang lalu keduanya akhiri percakapanya kala itu.
"Gimana Van, Reza ikutan, di izinin dia, tapi ya pasti om Aditya nggak semudah itu kasih izin, pasti ada yang ngintilin tuh ntar." Ucap Gandi menerangkan, saat itu Gandi dan Evan tidak tahu, bahwa Qiran pun ikut.
"Kok Reza sih Gand, aku aja pasti juga di ikutin, kayak nggak ngerti kakek kamu aja!" Ucap Evan dengan senyum tertahanya, namun ia pun tak merasa risi akan hal itu, bahkan Gandi pun pasti akan ada yang mengikutinya, mungkin lebih banyak daripada yang mengawal Reza dan Evan.
"Terus, kamu sendirian?" Tanya Evan saat keduanya sudah berada dalam perjalanan pulang menuju rumah Gandi.
"Gue nggak tahu Key bisa ikut apa nggak, akh ntar deh gue bujuk dia, tapi kalau nggak ikut pun nggak apa Van, paling Reza juga sendirian." Ucap Gandi yang tenang menyetir, namun saat itu, seketika saja Evan memperlihatkan layar ponselnya pada Gandi, tertulis pesan dari Reza.
"Aku jelas ngajak Qiran lah." Ucap pesan yang Gandi baca, dan seketika matanya melotot tak percaya, Reza benar benar mengalami banyak kemajuan.