
Hingga waktu berganti, dan pagi pun menjelang. Tak sabar Arga dan Nindi untuk mempersiapkan hari, dimana mama papa serta Evan akan datang berkunjung ke rumah Arga dan Nindi, setelah mendapatkan kabar kemarin dari menantunya itu.
Sengaja Arga bangun awal pagi itu, menyiapkan semua keperluan sang istri mulai dari pakaian yang akan ia kenakan sampai susu khusus ibu hamil yang sudah ia hidangkan di meja samping tempat tidurnya, Arga begitu bahagia hingga tidak bisa di ekspresikan dengan kata kata.
Dan barulah ia keluar rumah untuk joging keliling perumahanya. Tidak lupa ia pun menyapa setiap orang yang di temuinya, tanpa terkecuali, dengan wajah yang begitu ceria dan tentunya sangat tampan, hingga semua orang yang di temuinya merasa ikut bahagia pula.
Sampai beberapa saat, Arga melihat kerumunan ibu ibu area perumahan yang tengah mengerumuni penjual bubur ayam. Nampak Arga pun penasaran dan ikut mendekat ke arah kerumunan tersebut.
"Bu...pada antri apa sih?" Tanya Arga yang baru mendekat ke arah kerumunan ibu ibu.
"Wah nak ganteng...nyasar kemari ya kalau joging?" Tanya ibu ibu yang begitu terpesona melihat Arga dengan keringat yang menetes di pelipisnya.
"Nggak bu...tuh rumah saya di ujung jalan sana...baru pindah kemarin bu..." Ucap Arga yang menerangkan.
"Ini nak...kita sengaja tiap pagi nungguin abang yang jualan bubur ayam ini nak...enak dan ngasih ayamnya banyak...murah lagi..." Ucap ibu ibu yang berada di antara kerumunan.
"Akh...begitu rupanya...baiklah...saya juga sekalian mau beli...mau nyobain..." Ucap Arga yang kemudian ikut mengantri di antara ibu ibu yang berdesakan.
"Nak...pindah kesitu sama orang tuanya ya? tuh...rumah ibu ada di sebelah belokan...mampir ya kalau lewat...ibu punya anak gadis loh yang baru lulus kuliah...cantik deh...nggak bakal nyesel pokoknya jadi mantu ibu..." Ucap salah satu ibu ibu yang mengagumi ketampanan Arga.
"Aduh bu...sepertinya saya akan mengecewakan ibu...maaf ya...tapi saya pindah ke rumah baru itu bukan dengan orang tua saya bu...tapi dengan istri saya...istri saya lagi hamil muda bu..." Ucap Arga yang antusias menerangkan.
"Ya...ibu kira kamu belum nikah nak...nggak apa apa...kita tetanggaan...meski jauh..." Kemudian ucap ibu ibu itu.
Hingga semua sudah menerima bungkusan bubur ayam yang baru di belinya, Dan sengaja Arga membeli dua bungkus bubur plus ayam dan kerupuknya.
Setelah usai, Arga pun memohon diri dari ibu ibu yang terlihat masih berkerumun dan bergosip, meski sudah mendapatkan buburnya, namun semua belum pada pulang.
"Bu...tahu nggak...itu kan pimpinan perusahaan Sanjaya...ibu main panggil nak nak saja...masak nggak kenal? kemarin yang baru pindahan...menantu dari keluarga Wijaya...nggak kalah besarnya loh...!" Ucap salah satu ibu ibu yang selalu update berita di internet.
"Habisnya tampan banget...seneng aja bisa manggil nak...dan untungnya dia ramah ya..." Ucap ibu ibu yang masih mengenang ketampanan Arga sanjaya.
Hingga pagi itu...nampak Nindi yang baru bangun dari tidurnya, menatap sekeliling dengan pandangan yang belum sempurna, Karena matanya masih terlalu silau oleh cahaya matahari yang sudah masuk dan menerangi sebagian besar area kamarnya.
Terlihat segelas susu di meja kecil samping tempat tidurnya, segera saja ia mengambilnya dan meminumnya sampai habis tak tersisa.
Nindi pun segera masuk ke dalam kamar mandi, sambil menyahut pakaian yang sang suami sudah siapkan, dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
"Sayang...sayang! kamu ini...harusnya kan aku yang nyiapin pakaian kamu...bukan sebaliknya gini...!" Ucap Nindi sembari masuk ke dalam kamar mandi.
Hingga beberapa saat, Nindi pun keluar dari dalam kamar mandi, setelah selesai dengan dandananya, ia pun segera mengambilkan pakaian ganti pula untuk sang suami, Nindi sudah tahu acara hari itu, bahwa mama papanya akan datang berkunjung, dan sengaja Arga mengambil cuti, meski akan melakulan rapat nya lewat video call saja dari rumah.
Setelah Nindi keluar dari kamarnya, dan akan turun menyusuri anak tangga, terlihat sang suami sudah sibuk di depan meja makan dengan sesuatu yang baru ia tuang kedalam mangkuk.
"Sayang...kamu sedang apa? ngapain?" Ucap Nindi yang baru menuruni beberapa anak tangga, dan seketika itu pula Arga menoleh lalu bergegas menghampiri sang istri yang berada masih di atas tangga yang akan turun kebawah.
"Sayang...kamu hati hati ya...jalanya pelan pelan saja...apa perlu kita pindah kamar di bawah aja? biar kamu nggak kesulitan naik turun rangganya sayang?" Ucap Arga sembari menghampiri sang istri dan membantunya untuk turun perlahan lahan.
"Sayang...sikap kamu kemanisan...aku nggak apa apa...aku masih bisa lihat anak tangga di depan aku...belum ketutup perut aku...kamu akh..." Ucap Nindi dengan hati yang geli ia rasakan, dimana sang suami bersikap kelewat Protektif tiba tiba padanya.
"Sayang...ayo duduk...aku sudah belikan bubur ayam tadi...kesukaan kamu yang banyak irisan ayamnya...sarapan dulu ya...eh tadi susunya udah aku buatin di atas laci kamar, sudah di minum belum?" Ucap Arga dengan tangan yang menarik kursi untuk sang istri duduki.
"Sayang...kamu jadi makin manis banget sih...makasih ya..." Ucap Nindi dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Cup," Arga mengecup bibir sang istri sesaat, dengan mata yang menatapnya lekat.
"Harus dong...untukmu dan calon anak kita...aku akan selalu ada untuk menjaga kalian." Ucap Arga yang kemudian ikut duduk di samping sang istri dan menikmati makan sarapanya.
Hingga sarapan usai dan terlihat Arga bergegas membereskan meja makanya, membawa semua mangkuk dan gelas kotor ke dapur, agar nanti di cuci bibi asisten rumah tangganya kalau sudah datang.
"Sayang...aku tinggal jalan jalan di luar rumah ya...sebentar...cari cahaya matahari pagi..." Ucap Nindi dengan sedikit teriaknya saat sang suami sudah menaiki beberapa anak tanga akan menuju ke kamarnya dan ingin segera mandi, badanya terlihat sudah cukup lengket karena keringat.
Namun dengan cepat Arga segera berlari turun kembali, tanpa jawaban ia menghampiri sang istri yang sudah berada di teras, di depan pintu utama rumahnya.
"Mau aku anterin nggak sayang? ayo...kita jalan jalan...sekalian aku ingin berjemur di bawah sinar mentari denganmu." Ucap Arga dengan tangan yang sudah memeluk lengan atas sang istri dan ikut berjalan menuju ke luar rumahnya.
"Sayang...kamu yakin kamu nggak over protektif sekarang?" Ucap Nindi tiba tiba saat menyadari tingkah sang suami yang sudah berlebihan menurutnya.