
Key merebahkan tubuhnya yang ia rasa sangat kaku karena berada di dalam pesawat yang sangat amat lama, ia merebahkannya di atas pembaringan, tatapannya menerawang jauh ke langit langit kamarnya.
"Kamar yang masih sama, tidak ada yang berubah sama sekali, sembilan tahun lebih..." ucap Key dengan dengusan lelahnya, hingga tatapannya teralih ke meja samping tempat tidurnya, disana dibawah lampu duduk di atas meja, terlihat satu foto dalam figura kecil yang begitu menyita perhatiannya. Segera Key beringsut dan meraih foto tersebut, menatapnya, ia pun langsung tersentak dan terduduk saat menyadarinya. fotonya yang tengah di peluk seorang lelaki dari belakang.
"Lelaki brengsek, aku membencimu Gandi!" ucap Key yang lalu menarik laci yang ada di bawah meja dan memasukan foto itu kedalamnya, terkesan melemparnya dengan kasar.
Lalu Key pun menarik kedua lututnya hingga tertekuk kedepan dadanya, memeluknya dengan kedua tanganya erat, hingga menundukan wajahnya dan kening itu menyentuh kedua lututnya, Key menangis disana.
"Sembilan tahun sudah, tapi bayanganmu saja tidak pernah melepaskanku! mau apa sih kau? lelaki brengsek!" ucap Key dalam hatinya, hingga ia berusaha menenangkan dirinya dengan olah pernafasan yang sudah beberapa tahun ia pelajari, cukup ampuh untuk menenangkan diri dan cukup cepat untuk membuat berhenti tangisannya.
"Kenapa aku harus menangis? lelaki seperti itu tidak akan pernah tahu tangguhnya Keyra Abiyasa sekarang!" ucap Key dengan gerutunya.
"In the past you might mock my lame kiss, but now...who's scared. (Dulu mungkin kau mengejek ciumanku yang payah, tapi sekarang...siapa takut)" ucap Key dengan angkuhnya, namun seketika ia langsung menoyor kepalanya sendiri, saat ia memikirkan kata katanya barusan.
Pukul setengah enam pagi, saat mama Key sudah sibuk dengan bibi asisten rumah tngganya di dapur, mama Key sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan, dan terlihat Key yang sudah dari luar, ia masuk menuju ke dapur dengan mengambil air mineral, disana mama dan sang bibi pun begitu terkejut, keduanya tidak melihat Key keluar rumah namun sudah pulang saja setelah joging.
Key selalu menjaga kebugaran tubuhnya, termasuk menjaga kelangsingannya, mengingat semasa SMP nya ia sebesar tong di tengah perempatan jalan.
"Loh sayang...kapan keluarnya? sudah balik aja?" ucap mama Key pada anak gadisnya, karena mama Key kira, Key akan kesusahan untuk menyesuaikan waktu setelah lama di Negara orang.
"Akh...mama nggak tahu aja kalau Key semalamam nggak bisa tidur, tidur juga baru dua jam sudah kebangun dan tidak bisa tidur lagi. Mama nggak tahu selama ini Key selalu terbangun karena mimpi yang sama, mimpi di cium Gandi." Ucap Key dalam hatinya, dan senyumannya hanya tersungging sembari kedua pundaknya yang terangkat sesaat.
"Sudah ah mah...Key mau ke kamar dulu ya mah, tubuh Key lengket, mau mandi dulu." Ucap Key yang masih menggenggam botol air mineral dan membawanya menuju ke kamarnya, tidak lupa kecupan di kedua pipi mamanya.
Debaran jantungnya seakan hampir meledak setiap ia mengingat dan membayangkan lelaki yang sudah mencampakkannya itu, apa lagi mimpi buruk yang selalu terulang Key alami, membuatnya susah untuk kembali memejamkan matanya.