THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Setelah sekian purnama



Pukul tiga dini hari, Gandi mengajak Max pergi meninggalkan Rumah sakit tersebut. Gandi merasa apa yang ia rasakan memang sangat keterlaluan, namun ia tidak menyesalinya sama sekali.


"Apa Dokter Keyra ada?" tanya Gandi langsung pada perawat yang berjaga di ruang UGD.


"Oh Dokter Keyra sudah pulang pak semalam, karena memang Dokter Key belum saatnya bekerja, masih minggu depan pak." Ucap si perawat yang menerangkan pada Gandi.


Gandi pun langsung pergi, ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya, meski dalam kondisi yang jelas membuat kedua orang tuanya khawatir jika melihat.


"Kita langsung pulang." Ucap Gandi pada Max, namun lelaki itu menolaknya, karena ia sudah berbicara pada perawat yang berjaga, bahwa Gandi harus pulang setelah mendapat persetujuan Dokter jaga besok. Namun Gandi tidak mau tahu, ia memaksa untuk pulang apapun yang terjadi.


Hampir subuh Gandi dan Max tiba di rumah Gandi, disana ia masuk kedalam rumah begitu saja, sedangkan Max kembali pulang setelah mengantarkan Gandi. Sepi, hening saat itu di rumahnya, Arga dan Nindi pun masih pada tidur saat pukul empat dini hari.


Gandi segera menuju kekamarnya dengan langkah gontai, ia merebahkan tubuhnya perlahan lahan keatas pembaringan, karena bekas lukanya masih sakit ia rasakan, namun tidak se sakit luka hatinya. Hingga ia tertidur kembali.


Ditempat Evan, pagi itu ia sudah bersiap untuk joging dan berolahraga, aktivitas setiap pagi yang selalu ia lakukan, dengan berlari kecil menyusuri jalanan tempat tinggalnya. Tiba tiba langkah kakinya terhenti saat menatap sosok yang sangat ia kenali, berkulit putih mulus, dengan rbut pendek sebawah telingannya tengah berjemur di depan sebuah rumah.


"Vanya?" ucap Evan yang merasa mengenal sosok itu, namun setelah itu, wanita itupun langsung masuk kedalam rumah, membuat Evan mau tidak mau melanjutkan jogingnya kembali.


"Nggak mungkin Vanya! aku hanya halusinasi saja, pasti!" ucap Evan yang menepis perasaannya. Evan merasa aneh saja saat tetangga barunya adalah Vanya.


"Pasti bukan!" ucapnya lagi sembari mengeraskan musik yang ia dengar lewat headset di telinganya, dan menutup kepalanya dengan penutup kepala di hodie yang ia kenakan.


Sampai ia tiba di rumahnya kembali, ia melihat asistennya sudah tiba dan bersiap di teras depan rumahnya.


"Bram...ini tahun baru...kenapa kamu datang? kamu nggak pulang kampung atau liburan?" ucap Evan yang


keheranan melihat asistennya itu.


"Bos...saya lupa kemarin belum memberikan berkas berkas ini pada anda." Ucap Bram sembari menyerahkan tiga map dengan warna tidak sama ke tangan Evan, Bram mendapat libur selama tiga hari di awal tahun.


"Baiklah, pergilah kalau begitu." Ucap Evan dengan nada suara datarnya, dan Bram pun langsung pergi meninggalkan Evan sendirian.


"Bos...selamat tahun baru..." ucap Bram dengan sedikit teriakannya setelah ia sampai di mobil, lalu menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan Evan disana. Evan pun lalu masuk kedalam rumahnya sembari membawa map itu bersamanya. Beberapa saat setelah Evan usai mandi, ia lalu berada di meja makan, saat itu lah, terdengar suara seseorang tengah bertamu, dan saat itu pula bibi asisten rumah tangganya memang kebetulan Evan liburkan karena tahun baru, terpaksa Evan pun beranjak dari tempat duduknya, samar samar Evan mendengar suara itu kian akrab di telinganya, semakin membuat Evan mempercepat langkah kakinya.


"Hah...Evan? kenapa Evan?" ucap Vanya yang tidak kalah terkejutnya saat menatap lelaki gagah yang baru keluar dari dalam rumah, Vanya begitu merindukannya, Vanya ingin berlari memeluk Evan saat itu, namun ia takut Evan akan membencinya setelah beberapa tahun yang lalu saat Evan mengetahui hubungannya dengan Dion.


"Ah...Van...aku tidak tahu bahwa disini adalah rumahmu, aku tetangga baru disini, dan...ini kue untukmu, jangan salah...aku pun membagikannya pada tetangga yang lain." Ucap Vanya yang sedikit terbata bata, lalu akan pergi dari tempatnya. Namun seketika itu pula Evan berhasil menarik tangannya mencegahnya untuk pergi dari sana.


"Tunggu Van...beginikah sikapmu pada tetangga baru?" ucap Evan dengan nada lembutnya, membuat Vanya berhenti meronta dan lunak seketika.


"Tapi..." ucap Vanya yang merasa ia bersalah besar pada lelaki di depannya itu.


"Tapi apa Van?" tanya Evan pada gadis itu, sembari memberikan kotak besar kue yang Evan pegangi ke tangan Vanya, gadis itu pun menerimanya dan tidak berpikir macam macam, dengan senyuman tampan yang khas milik Evan, ia mampu meluluhkan hati Vanya yang sudah sekian lama berhenti mengharapkannya.


Evan menarik paksa Vanya masuk kedalam, menekan tubuh gadis itu hingga menyandar ke sebelah daun pintu yang tertutup, mengeratkan satu tangannya ke tangan Vanya, dan satu tangan yang lain menarik tengkuk gadis itu.


Pesona Vanya tidak bisa Evan tolak, sekian lama Evan mencoba menghapus jejaknya, namun tidak pernah berhasil, hingga saat itu Vanya dengan sendirinya datang pada Evan, disaat Evan sudah memiliki segalanya.


Evan mendaratkan ciumannya, ciuman yang bermula hanya kecupan, hingga beberapa kali, membuat Vanya membuka bibirnya, Vanya tidak bisa membohongi dirinya sendiri, hanya Evanlah yang mampu membangunkan detak jantungnya yang sudah lama terhenti dentumannya.


Kian lama, ciuman itu makin menggila, membuat Vanya menjatuhkan kotak kue dari tangannya, dan turut mengalungkan kedua tangannya keleher lekaki tersebut. Keduanya seakan gila dengan perpisahan panjang yang memisahkan keduanya, ingin menebus sebuah penyesalan dengan hati yang terdalam.


Hingga Evan membawa tubuh gadis itu menuju sofa, Evan mendominasi disana, meski dengusan, hingga terengah keduanya, seakan tidak ingin menyudahinya. Sampai....bunyi ponsel Vanya membuatnya terpaksa menghentikan ciuman liarnya.


Dilayar ponsel tertera nama Dion disana. Membuat Evan memukul sandaran kursi yang ada di depannya, disamping Vanya.


Vanya hanya memberi isyarat pada lelaki yang masih menatapnya tajam itu dengan satu jari telunjuk yang menempel pada bibir Evan. Tanda lelaki itu harus diam. Lalu Evanpun beringsut menyamping, melakukan apa yang Vanya inginkan.


"Halo Dion..." ucap Vanya yang mengangkat panggilan suaminya.


"Sayang...lama sekali bagi bagi kuenya...aku mau keluar nih sama Daniel..." ucap Dion dengan rengekannya. Seketika Vanya tahu Daniel yang Dion sebutkan barusan.


"Sudah kok, kamu bisa tinggalkan rumah, nggak pulang malam ini pun nggak apa apa, aku tidak akan takut sendirian lagi." Ucap Vanya sembari melirik dan menyunggingkan senyumannya ke arah Evan, dan Evan hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawabannya. Lalu panggilan itu pun usai.


"Gila! benar benat gila! keturunan Wijaya berselingkuh dengan istri orang! gila! kamu sudah nggak waras Evan...nggak waras..." ucap dalam hati Evan yang menyalahkan bahkan mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga hati serta perilakunya di depan wanita yang ia cintai.