THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Dibalik pertemuan



Evan pun akhirnya masuk kedalam dengan perlahan, ia melihat Vanya benar benar sudah sangat lelap tertidur, hingga ia putuskan untuk tidur di sofa yang ada didalam ruang kamar hotelnya.


Tepat pukul enam pagi, saat itu Evan masih tertidur, dan Vanya sayup sayup membuka matanya, Vanya terjaga karena tidak merasakan ada tubuh Evan di sampingnya, tanganya mengusap usap beberapa kali, namun tidak menemukanya, hingga ia terduduk dan menatap sekeliling, tatapanya tertuju pada sosok yng meringkuk di atas sofa dengan hanya berselimut jaket di tubuhnya.


Perlahan lahan Vanya pun menghampiri Evan, duduk di sampingnya, hingga tanpa sadar Evan yang saat itu merasa kedinginan hanya bisa beringsut memeluk pinggang Vanya, ia merasa sangat hangat saat memeluknya, Evan pun tak sadar atas apa yang tengah dilakukanya.


"Mah...bangunin Evan bentar lagi ya...Evan kedinginan..." Ucap Evan dengan gerutunya, meski matanya masih terpejam rapat.


"Sayang...kamu manis banget...ya ampun..." Ucap Vanya dengan gemasnya, dengan jemari yang sudah mengelus pipi halus Evan, hingga saat itu Evan tersentak, ia baru ingat bahwa kala itu tengah berada di dalam kamar hotel dan tidak sedang di rumah.


"Vanya...apa yang kamu lakukan disini?" Ucap Evan sembari terbangun dan duduk bersandar sandaran sofa.


"Aku masih ngantuk Van...jangan ganggu aku dulu ya..." Ucap Evan sembari beranjak dari sofa dan pergi menuju keatas ranjang, semalaman ia sama sekali tak nyaman, itu kala pertamanya ia tidur di sofa yang tidak leluasa.


Lalu Evan pun merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, sembari menarik selimutnya hingga hanya tersisa kepalanya yang tidak tertutupi.


Vanya pun hanya bisa menatap manja Evan yang baru berlaku manis padanya itu.


"Tok tok tok!" Tiba tiba terdengar ketukan dari luar pintu kamar hotel yang di tempatinya, segera saja Vanya beranjak dan bergegas membuka pintu kamarnya.


"Reza, Gandi...!" Ucap Vanya seketika saat ia melihat kedua cowok yang sudah mematung di depan pintu yang baru dibukanya, dan terlihat pula dua gadis di samping keduanya.


"Za...bener kan! gue nggak bohong...mereka tidur bareng semalam..." Ucap Gandi pada sahabatnya itu.


"Akh Evan juga udah ngerti Gand..." Ucap Reza sembari melihat kedalam kamar hotel yang masih nampak sepi.


"Terus Evan nya mana? mau kami ajak sarapan, kamu juga ikut Van..." Ucap Gandi yang ikut mengintip kedalam kamar.


"Nanti aja Evan biar aku yang ajak sarapan, kasihan dia semalaman nggak bisa tidur, baru tidur tadi pagi." Ucap Vanya dengan jujurnya, dan Reza serta Gandi memang melihat Evan masih terlelap diatas ranjng kamar hotelnya, meski keduanya begitu terkejut saat Vanya bilang demikian, namun Reza yang sudah pernah mengalaminya, bermalam dengan sang kekasih, tahu jelas bahwa apa yang di lihatnya tentu tidak sama dengan yang sebenarnya.


"Oh...oke oke baiklah...kami tinggal dulu, aku serahin Evan padamu Van." Ucap Gandi lagi yang lalu pergi meninggalkan kamar hotel yang Evan dan Vanya tempati, ke empatnya pun akhirnya pergi menuju ke tempat sarapan berada, di area hotel paling bawah.


Di dalam kamar Evan, Vanya hanya bisa menatap wajah damai yang selama itu ia sukai, bahkan kagumi.


Hingga membuat Evan terbangun dan menatap Vanya yang masih mematung menatap kearahnya.


"Apa semenyenangkan itu Van menatapku?" Ucap Evan saat ia sadari Vanya telah menatapnya lekat lekat.


"Bisakah aku terus menatapmu seperti ini Van?" Tanya Vanya yang tanpa ia sadari.


"Bukankah kita sudah bersama sekarang, kenapa masih tanya!" Ucap Evan lagi, dan ia akan beranjak menuju kekamar mandi.


"Mungkin, karena saat ini kamu belum tahu segalanya Van, bahkan ketika saat kamu tahu pun, kamu pasti tidak akan percaya padaku, pada semua yang aku katakan, aku hanya bisa menikmati keberadaanmu untuk sekarang, mengenang saat saat kamu lembut padaku dan tidak menolaku." Ucap dalam hati Vanya, yang saat itu kedua matanya sudah berkaca kaca ingin menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya yang sudah terkumpul.


Hingga Evan sudah usai dengan mandinya, dan keluar dari dalam kamar mandi.


"Van...nggak mandi?" Tanya Evan pada Vanya, dan dengan segera Vanya menepis lelehan air matanya, mengucek perlahan matanya yang terlihat memerah.


"Kamu menangis Van? kenapa? ada apa?" Tanya Evan seketika saat ia melihat mata Vanya yang memerah, dan lagi saat itu Vanya masih menguceknya.


"Akh...nggak Van...kemasukan debu tadi, sungguh nggak apa apa kok, aku ma nggak pernah nangis Van, masak kamu lupa siapa Vanya ini sih." Ucap Vanya yang memaksakan senyumanya, dan akan berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi.


Namun tangan Evan dengan cepat mengambil lengan Vanya dan menariknya dalam pelukanya, Evan memeluk tubuh gadis yang sudah bertahun tahun mengganggu otaknya itu.


"Kamu kira aku bodoh! aku nggak se bodoh itu untuk kamu kibulin." Ucap Evan yang masih memeluk, dan Vanya tidak bisa menolaknya, ia menyukai pelukan itu, bahkan ia tak bisa bayangkan seorang Evan memeluknya.


"Iya...kamu bodoh! nggak menyadari perasaanmu padaku sejak lama." Ucap Vanya disela sela pelukanya.


"Aku baru sadar saat kamu ngilang nggak ada kabar, dan aku merindukan kebawelanmu." Ucap jujur Evan dengan senyum senangnya.


"Yakin cuma rindu bawelnya aku aja?" Ucap Vanya sembari menyudahi pelukanya dan mendongak nenatap wajah Evan yang berada tepat di atas wajahnya.


Dengan tubuh yang masih menempel satu sama lain, dan tangan yang masih saling berpaut, tatapan hangat keduanya pun saling mengisyaratkan kebahagiaan, hingga tanpa sadar keduanya terbimbing saling mendekatkan wajahnya, namun saat itu Evan masih bisa menahan keinginanya untuk mencium Vanya, ia hanya menikmati wajah cantik di depanya yang sudah memejamkan kedua matanya, sampai...tiba tiba kedua tangan Vanya merangkul lehernya dan menariknya dengan cepat hingga bibir keduanya saling menyatu berbenturan ringan dan menekan, hingga beberapa saat, Evan hanya bisa menikmatinya saja, ciuman yang ia inginkan namun terlaksana meski dengan sedikit paksaan.