
"Papa mu terlihat sangat kelelahan sayang...kasihan dia...pasti kecapean, kamu yang pinter ya sayang...Gandi nya mama sama papa." Ucap Nindi dengan lirihnya, sembari mengecup kening jagoan kecil yang tengah di susuinya, sembari satu tanganya mengelus lembut rambut sang suami yang ada di sampingnya, tidur tengkurap di atas bantalnya, Nindi merasa kasihan setelah apa yang tanpa sadar ia lakukan pada Arga, ia menarik rambutnya sekuat tenaga, dan itu tanpa kesadaranya.
"Sayang...ada apa lagi? kenapa kulit kepalaku yang sakit yang kamu pegang?" Ucap Arga dengan gerutu setengah sadarnya.
"Akh maaf maaf suamiku...nggak apa apa kok sayang...lanjut gih tidurnya!" Ucap Nindi sembari mengelus rambut kepala sang suami di bagian lain, dan Arga pun sayup sayup melanjutkan tidurnya lagi.
Hingga hari itupun berakhir dan hari hari berganti hari, bulan bulan berlalu begitu saja, kini Evan sudah mulai masuk taman kanak kanak tipe B, sedangkan Gandi, Reza, dan Eric ketiganya yang baru akan masuk taman kanak kanak tipe A.
Sedangkan Satria dan Yura pun beberapa bulan yang lalu, rumahnya baru jadi, dan untungnya bertempat tidak jauh dari rumah sahabat sahabatnya, dan hari itu, Satria dan Yura memutuskan untuk mengundang para sahabat sahabatnya untuk datang ke acara pindah rumahnya.
Terlihat tiga jagoan tengah menikmati kue dan permen yang tuan rumah siapkan, tampak ceria dan riang, tinggal Evan yang belum datang.
Sedangkan di teras belakang rumah Yura, nampak ketiga mamah muda tersebut tengah ngerumpi, ada saja yang di bahas ketiganya, sedangkan di ruang tengah, ada Satria yang tengah bermain catur dengan Aditya.
"Ndi...suamimu mana? lama amat jemput si Evan?" Tanya Yura pada Nindi, sembari tanganya menyodorkan kue yang Ifa bawakan tadi.
"Mana aku tahu ra...aku mau telephone juga takut kalau ada apa apa di jalan, biarin deh...biar se sampainya aja..." Ucap Nindi pada sahabatnya, dan terlihat ketiganya yang membahas tentang sekolah yang akan di jadikan tempat menuntut ilmu sang buah hati masing masing, dan nampaknya semua sepakat memasukan buah hati ketiganya ke sekolahan yang sama dengan Evan, karena pastilah ketiganya pun akan nyaman saat bersama dalam satu lingkungan sekolah, apa lagi sudah kenal satu sama lainya.
Hingga terlihat Arga datang jalan kaki dengan Evan yang ada di sampingnya, setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di halaman rumah Satria, dan terlihat satu kantong kresek besar penuh mainan di tangan Arga.
"Aku datang...!" Ucap Arga sembari memberikan mainan di tanganya pada Satria.
"Papa...!" Sapa Gandi seketika sembari berhambur ke dalam pelukan sang papa yang baru tiba, dan Arga pun langsung memeluk serta menggendong jagoanya dan membawanya mendekat menuju ke arah istrinya.
Disusul Satria dan Aditya yang ikut serta, Satria yang menggandeng Evan dan Eric di kedua tanganya, di tangan kanan dan kirinya.
Sedangkan Aditya juga sedang menggandeng Reza di pelukanya, semua menuju ke arah mamanya masing masing berada.
"Sayang...kok lama?" Tanya Nindi yang penasaran.
"Tuh...si Evan ngajak masuk toko mainan dulu, kurang afdol kali kalau nggak bawa kado ke rumah temanya." Ucap Arga sembari menunjuk ke arah mobil remote yang ke empat jagoan kecil pegangi masing masing.
"Sayang...mama Anin nggak ikut?" Tanya Yura pada Evan.
"Mama sedang ada arisan tan di rumah." Ucap Evan sembari mendekat ke arah sang kakak dan duduk di sampingnya, dan segera saja Nindi menyambutnya dengan menyuapkan kue ke mulut sang adik, nampak begitu dekat dan akrab saat semua mata menatapnya.
Hingga waktu begitu cepat, dan ternyata sudah pukul tiga sore, namun di taman, ke empat jagoan kecil masih asyik main dengan mobil mobilanya.
"Sayang ayo pulang...udah sore..." Ucap Nindi yang sedikit keras untuk memanggil anaknya dan adiknya.
"Ma...bisa nggak Gandi disini dulu...Gandi masih kepingin main..." Ucap Gandi yang memasang wajah memelasnya.
"Sudah Nindi...biar mereka main lebih lama lagi, nanti pulangnya biar sama aku saja." Ucap Ifa yang membuat Nindi dan Arga saling menatap satu sama lain, kemudian mengangguk.
"Yaudah sayang...nanti baliknya kamu sama tante Ifa dan Om Aditya ya...mama sama papa pulang dulu, papa mau rapat nanti." Ucap Nindi pada jagoanya dan di sambut anggukan bahagia oleh Gandi, lalu ia kembali bermain dengan teman temanya lagi.
"Baiklah kak...kami pulang dulu, nitip Gandi sama Evan ya kak..." Ucap Nindi sebelum berpamitan pada tuan rumah.
"Ra...sat...kami pulang dulu...kapan kapan kami pasti main lagi." Ucap Nindi yang di sambut pelukan hangat oleh Yura, lalu keduanya pun pulang hanya berdua saja.
"Sayang...kamu beneran mau rapat ntar?" Tanya Nindi pada sang suami.
"Iya...kenapa?" Tanya balik Arga pada sang istri.
"Nggak apa apa...pingin tau aja!" Ucap Nindi sembari melirik ke arah sang suami di sampingnya, karena biasanya Arga selalu cari alasan untuk bisa berduaan dengan sang istri.
"Emb...kalau ngasih lirikan kayak gitu pasti isyarat!" Ucap Arga yang tengah menggoda sang istri, namun malah di cuekin oleh Nindi, kareba Arga seperti itu sudah tak terhitung kalinya, hingga mobil yang di kendarai keduanya sampai di tempat parkir rumahnya.
Keduanya pun segera turun dari dalam mobil, dan di sambut oleh sang bibi yang ternyata tengah menunggu kedatangan tuan dan nyonya nya.
"Loh...bibi belum pulang? masih disini ya ternyata?" Tanya Nindi yang mengira sang bibi sudah pulang, karena jam kerjanya harusnya sudah habis dari pukul tiga sore tadi.
"Iya nyonya...nungguin nyonya sama tuan dulu baru pulang..." Ucap bibi yang membuat Nindi tersenyum
"Oh ya bi...ini ada sedikit Rizqi buat cucu bibi" Ucap Nindi sembari memberikan uang lembaran seratus ribuan tiga lembar. Karena Nindi tahu, bibi juga punya cucu laki laki, dan mainan yang suaminya bawa tadi hanya pas untuk anak dan teman temana, Arga lupa untuk membeli lebih untuk cucu si bibi.
"Ini apa nyonya?" Tanya bibi sembari menerima uang dari nyonyanya.
"Akh...itu tadi suamiku beli mainan nggak di lebihin, dia lupa mungkin bibi juga punya cucu laki laki." Ucap Nindi dengan senyum ramahnya.
"Terimakasih nyonya.." Ucap bibi yang kemudian berpamitan untuk pulang, karena pekerjaanya hari itu sudah rampung atau beres semua, lalu Nindi pun bergegas ke kamar menyusul sang suami, niatnya mau menyiapkan kemeja yang akan Arga gunakan setelah mandi, Nindi tidak ingin wibawa suaminya anjlok karena Arga tidak berpakaian yang semestinya saat rapat, meski Nindi tahu, semua pakaian yang suaminya kenakan selalu pas saat dipandang. Namun Arga keseringan memakai kaos berkerah saja seingat Nindi.