THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Berenang menjelang petang



Siang menjelang sore di kediaman Arga sanjaya, disaat mama Anin belum di jemput papa Rendi, nampak semua berkumpul di teras samping rumah Arga.


Terlihat Nindi duduk di samping sang suami dengan lengketnya, namun Arga pun juga tidak merasa risi atau tak nyaman saat mama melihatnya atau bibi yang melihatnya.


"Mama kenapa nggak nginap disini saja mah?" Ucap tanya Arga saat terlihat mama mertuanya setelah menelephone bibi pengasuh Evan, karena Evan sengaja Anin tinggal di rumah dan tidak di ajak.


"Evan di rumah sama bibi ga gimana mama mau nginep sini?" Ucap Anin yang pikiranya sudah kepikiran rumah saja.


"Evan biar aku dan Nindi jemput aja mah...!" Ucap Arga sembari menggenggam jemari sang istri yang dari tadi tanganya melingkar mengerat di lenganya.


"Nggak usah lah ga...nanti Evan adaptasi lagi nggak bisa tidur dia...!" Ucap Anin yang menerangkan, karena puteranya itu jarang bisa cepat beradaptasi di tempat baru, bahkan bisa di bilang sulit beradaptasi.


"Toh papa kamu juga mana bisa sehari saja tanpa mama nak...nggak bisa!" Ucap Anin dengan bangganya, hingga tawa ketiganya pecah seketika.


"Tumben sayang kamu nggak lemes lagi ya kalau dekat dengan suami kamu, hemmmz mama jadi ingat pas hamil kamu tuh...sama...pinginya deket suami, apa lagi nyium bau keringat suami, suka banget nak..." Ucap Anin sambil mengenang dirinya dulu, hamil pertama yang menurutnya paling parah, sedangkan saat hamil Evan, ia nggak mual sama sekali, hahkan terkesan bugar, mual sekali dua kali wajar untuk ibu hamil.


Hingga tanpa terasa waktu sudah sore saja, dan bibi asisten rumah tangga berpamitan untuk pulang sore itu, karena tugasnya hari itu sudah di selesaikan semuanya.


Dan tidak berselang lama, terlihat mobil papa Rendi yang baru memasuki area pekarangan rumah Arga.


"Sayang...gimana Evan?" Tanya Anin pertama kali saat ia menyapa sang suami datang.


"Baik kok sayang...aku tinggal tadi tidur dia sayang, hai sayang nya papa gimana keadaanya?" Tanya Rendi pada puterinya, dan berlalu masuk sambil merangkul pundak sang istri di sampingnya, tak lupa Arga serta Nindi segera memberi salam pada papanya.


"Kayaknya...nggak bisa mampir lama lama deh sayang...papa masih ada urusan...kesini cuma mau jemput mama kamu saja," Ucap papa dengan mata menatap sang istri untuk mengajaknya pulang.


"Yaudah sayang...mama sama papa pamit aja kalau gitu...kapan kapan mampir lagi...salamin ya buat kakak ipar kamu...mama nggak bisa mampir hari ini, jangan lupa salamin kalau ketemu ya!" Ucap Anin pada anak dan menantunya, lalu keduanya pun pergi meninggalkan kediaman Arga setelah berpamitan.


"Sayang...berhubung nggak ada orang...udah sepi...temani aku yuk...aku tiba tiba kepingin renang...ayo...!" Ucap Nindi dengan senyuman menggodanya.


"Sekarang? yakin mau renang sayang?" Tanya balik Arga yang merasa sedikit aneh tingkah sang istri.


"Aku kenapa khawatir kalau kamu nanti bisa kram perut sayang? yakin mau renang?" Tanya Arga lagi yang tengah memastikan, namun Nindi hanya mengangguk mantap untuk jawabanya.


"Oke...oke baiklah sayang...ayo aku temani," Ucap Arga sembari mengajak sang istri naik ke kamarnya dan berganti pakaian renang.


Setelah keduanya sudah berganti dengan pakaian renangnya, dan sudah siap, Arga dan Nindi pun langsung menuju ke kolam renang, dengan membawa handuk di tanganya, Arga dengan siap mengawal sang istri di sampingnya.


"Kenapa ga? kenapa harus di kunci segala sih sayang?" Tanya Nindi dengan keherananya.


"Emmmb...itu...kayak nggak tahu aja sih, noh tetangga sebelah...sukanya main nyelonong masuk aja, aku kan nggak rela, kalau sampai tubuh istriku yang seksi ini tanpa sengaja di lihatnya!" Ucap Arga dengan jujurnya, meski kakak nya sendiri, ia benar benar tak rela tubuh sang istri di lihat lelaki lain, terlebih...Arga ingat betul kebiasaan Aditya yang dahulu, saat masih di apartemen, tiba tiba saja sering sudah berada di dalam apartemenya.


"Akh...iya sayang...iya...yaudah sana tutup dulu gih...!" Ucap Nindi yang meminta sang suami agar segera menutup dan mengunci pintunya.


Hingga Arga kembali, dan mendapati sang istri dengan lincahnya berenang di kolam kesana kemari dengan sehatnya, dan tidak terlihat lemah atau pun lemas sama sekali.


Arga pun pangsung melepas kaos putih yang di kenakanya, bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendeknya, ia lalu ikut mencebur dan berenang menuju sang istri yang sudah sampai di tepian kolam yang paling ujung di depanya.


"Sayang...pelan pelan...!' Ucap Arga saat melihat sang istri berenang dengan cepat malah menghampirinya, hingga sampai di dekatnya dan mengalungkan kedua tanganya ke leher sang suami.


"Yakin nggak apa apa sayang?" Tanya Arga sembari menyibakan rambut panjang sang istri ke kedua sisinya, dan Nindi hanya menggeleng geleng saja, tanda ia tidak apa apa dan baik baik saja.


"Sini...ayo ikut aku menepi sebentar...!" Ucap Arga sembari menggiring sang istri agar mengikutinya menuju ke tepian yang dekat dengan kursi santai di dekatnya.


"Mau kemana sayang?" Tanya Nindi saat ia sadari sang suami malah naik keatas permukaan dan meninggalkanya sendirian.


"Tunggu sebentar..." Ucap balasan Arga sesaat, hingga ia datang lagi dengan membawa karet tali yang biasa di buat membungkus nasi bungkus, yang baru ia ambil dari dapur.


"Sini sayang...!" Ucap Arga yang langsung di ikuti Nindi, ia pun langsung mendekat ke arah sang suami yang tengah duduk di tepian kolam, dengan kedua kaki yang sudah masuk kedalam kolam.


Dengan cekatan, Arga pun membalikan tubuh Nindi agar memunggunginya, ternyata ia ingin mengikat rambut panjang Nindi agar tidak membuat sang istri kerepotan saat berenang.


Dengan lincahnya jari jari Arga mengeratkan rambut Nindi dan membuat cepolan keatas, dengan tali karet gelang untuk menyangganya.


"Nah udah siap sayang...mau lanjut?" Tanya Arga sembari menghadapkan tubuh sang istri menghadap kearahnya lagi.


"Ehem...!" Dengus Nindi sembari meraih wajah sang suami dengan kedua tanganya, lalu sedetik kemudian mengecup bibirnya tanpa aba aba.


"Makasih sayang...kamu perhatian banget meski hal sekecil itu pun, Haruskah aku beri hadiah? atau...mau aku kasih balasan dengan cara lain? balasan spesial yang sudah aku pilih pastinya!" Ucap Nindi dengan menggodanya, dan kini kedua tangan sang istri sudah mengalung dan mengerat di lehernya.


"Cegluk." Arga menelan ludahnya sendiri, Arga paham benar apa yang tengah istrinya ucapkan, apa lagi dengan mata menyipit menggoda dan bibir yang sengaja di tekuknya, namun Arga harus bijak dan harus bisa menolak dengan halusnya, agar sang istri tidak sedih apa lagi kecewa, karena dari pagi hingga siang tadi sudah dua kali keduanya melakukanya, Arga hanya khawatir dengan kandungan istrinya.


"Kakak...kenapa saat aku membutuhkanmu seperti ini...kamu nggak nongol juga sih?" Ucap Arga dalam hati, dan kini otaknya tengah berpikir keras, kata kata apa yang akan ia ucapkan agar sang istri tidak bersedih.