THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Pagi yang penuh energi



Malam kian larut, Saat Nindi mengamati wajah sang suami di sampingnya yang tengah tertidur dengan pulasnya, Nampak lelah dan capek saat Nindi lihat, Padahal Arga seharian tidak kemana mana, Dan hanya di rumah mama papanya saja.


"Sebenarnya kamu kenapa sih sayang?" Ucap Nindi sembari perlahan lahan jemarinya mendekat ke wajah sang suami dan meletakanya ke atas pipi atasnya, Ibu jarinya mengelus perlahan disana.


Hingga mata yang terpejam di depanya itu perlahan lahan membuka, Mula mula sayup sayup lalu melebar sempurna.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu belum tidur sayang? esok kita sudah pindah rumah kan...ayo istirahat...aku bebasih untuk malam ini." Ucap Arga yang masih bisa bisanya menggoda sang istri.


"Kamu sudah lemas seperti bayi kayak gini masih aja bisa bercanda sih...sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Nindi lagi dengan nada pelanya.


"Aku juga nggak tahu sayang...tiba tiba aku mual...aku pusing...tiba tiba ilang...lalu pingin makan ini...itu...terus nggak selera lagi...akh...dan sekarang...aku sudah nggak merasa ngantuk sama sekali," Ucap jujur Arga atas apa yang ia rasakan, Dengan tangan yang meraih jemari sang istri lalu menggenggamnya.


"Sayang...kira kira di dapur mama ada ikan teri nggak?" Tanya Arga tiba tiba.


"Hah...ikan teri? teri nasi yang kecil kecil itu?" Tanya Nindi balik dengan heranya,


"Bukan...bukan teri nasi...tapi teri yang kayak ikan kecil kecil itu lo sayang..." Ucap balasan Arga pada sang istri.


"Emmmbb...ayo kita lihat...kamu mau buat apa kalau di dapur ada?" Tanya Nindi lagi dengan heranya.


"Mau aku irisin cabe sama tomah hijau...sama bawang merang di tumis...aku lapar...pingin makan lauk itu sayang..." Ucap Arga dengan manjanya, Dan makin membuat Nindi tak mengerti dengan keanehan yang suaminya lakukan.


"Oh...oke...mari kita lihat...ada atau tidak di dapur...kenapa selera kamu jadi langka sih sayang?" Tanya Nindi sekaligus ajakanya pada sang suami, Dan dengan segera Arga beranjak dari tidurnya, Menarik tangan Nindi agar mengikutinya, Sesampainya di dapur...Nindi dan Arga segera mencari apa yang di inginkan, Setelah ketemu...Arga mulai memasaknya, Di bantu Nindi yang membantu memotonginya.


"Akh...mateng deh..." Ucap Arga dengan senangnya, Setelah masakanya matang, Dan segera saja Arga memgambil piring dengan nasi dan membawanya menuju ke arah sang istri.


"Mau makan sama sama?" Tanya Arga sembari menyunggingkan senyumnya.


"Itu...di dapur masih ada daging loh sayang...nggak mau?" Ucap Nindi yang memberi tahu, Namun Arga hanya menggeleng tanda ia tidak mau.


"Oh...baiklah...aku minta sesuap saja ya..." Balas Nindi dengan senyum kecutnya, Namun setelah Nindi ikut memakanya, Nindi malah makan banyak dan terlihat lebih menyukainya daripada Arga, Hingga makanan yang ada di atas piring itu pun habis tak tersisa.


"Akh...nikmatnya...sayang...enak banget masakan kamu...tapi aneh deh...hanya tumisan gitu aja rasanya nikmat ya...?" Ucap Nindi sembari menyunggingkan senyumnya, Karena ketahuan menyukainya yang tadinya ia kira rasanya bakal biasa saja.


Hingga beberapa saat, Terlihat keduanya menikmati acara nonton video dari laptopnya, Sambil menunggu makanan yang baru keduanya makan tercerna dengan sempurna.


Hingga...Arga memutuskan untuk tidur saat melihat sang istri sudah menguap untuk beberapa kali, Tanda ia sudah mengantuk, Lalu keduanya pun tertidur dengan perut kenyang malam itu.


Fajar mulai tiba, Saat Nindi merasakan sesuatu menyentuh bibirnya, Sayup sayup ia pun membuka matanya, Namun masih terasa berat ia rasakan, Hingga ia hanya mengandalkan indera penciumanya untuk mencium bau segar yang sudah menguar, Serta indera perabanya untuk menelusuri sesuatu yang hangat dan lembut di hadapanya.


"Sayang...tumben pagi pagi sudah bangun sudah wangi pula..." Ucap Nindi dengan bisikan lirihnya.


"Aku mau ngajak kamu olah raga sayang..." Ucap Arga dengan jujurnya, Sambil mengecup punggung tangan istrinya.


"Akh...aku masih ngantuk sayang...kamu turun saja...nanti juga ketemu papa, Pasti papa udah mulai joging juga pagi pagi gini...maaf ya...aku nggak bisa nemenin..." Ucap Nindi yang masih dengan mata terpejamnya, Namun...Nindi segera tersadar bahwa oleh raga yang suaminya maksud bukanlah joging yang Arga lakukan hampir setiap paginya, Melainkan olah raga dalam cara lain, Saat Nindi rasakan tangan nakal sang suami sudah memulainya.


"Please...jangan buat aku malu karena nggak bisa jalan hari ini sayang...ingat...kita ada acara pindahan hari ini..." Ucap Nindi disela sela aktivitas sang suami, Hingga pagi itu pun terasa menyegarkan setelah keduanya melewati pagi buta yang penuh energi dan kesegaran setelah mandi bersama.


"Dasar kebiasaan...aku ngomong apa juga nggak di dengar kalau sudah ada maunya!" Dengus Nindi dengan kesalnya saat tengah merapikan pakaian dan make up nya di depan kaca cermin riasnya.


"Kamu ngomong apaan sayang? kamu ngomong sama aku?" Tanya Arga yang samar samar mendengar gerutuan sang istri di dekatnya, Sedangkan Arga masih baru saja mengenakan pakaianya.


"Nggak...aku bicara sama wanita di depanku...dia cantik...lebih cantik kalau nggak ada bekas gigitan drakula," Ucap Nindi dengan sebalnya, Saat ia melihat bekas gigitan Arga yang masih samar samar terlihat di sebelah lehernya.


"Oh..." Ucap Arga sembari menoleh dan menatap ke arah cermin di depan istrinya, Dengan senyum yang tersungging geli di bibirnya, Serta pikiran jahil yang tiba tiba muncul seketika di benaknya.


Dengan cepat...Arga menghampiri Nindi yang masih duduk disana, Lalu menundukan wajahnya hingga menenggelamkanya di jenjang leher sang istri, Memberikan satu bekas lagi di sebelahnya, Kini kedua sisi jenjang leher Nindi ada bekasnya.


"Hya....Arga...kamu ngapain? kenapa malah kamu tambahin...!" Dengus Nindi dengan geramnya, Dan bercampur kesal ia rasakan.


"Loh...tadi katanya biar makin cantik kalau ada bekasnya kan? aku tambahin biar nggak berat sebelah sayang..."


Ucap arga dengan polos yang sengaja ia buat.


"Arga...sejak kapan kamu nggak fokus aku ajak bicara...aku bilang tadi lebih bagus kalau nggak ada bekasnya...bukan lebih bagus kalau ada bekasnya...!" Ucap Nindi yang sudah naik emosinya. Hingga tanpa ampun ia mengejar sang suami sambil membawa bantal di tanganya, Melemparinya sampai Arga minta ampun, Menimpanya saat Arga sudah terjatuh di atas tempat tidur, Dan menaiki tubuhnya sampai bantal bantal itu benar benar mengenai tubuh Arga yang di naikinya.


"Kenapa...kamu suka asal naroh bekas? harusnya kamu sembunyiin Arga...aku yang bawa kemana mana...aku malu tahu..." Ucap Nindi yang masih geram di atasnya.


Hingga dengan sekali sentak kini posisi berpindah sempurna, Arga sudah menghadang pergelangan tangan sang istri di bawahnya.


"Maaf sayang...aku suka saat kamu bersikap seperti ini...kamu sangat menggemaskan...sungguh aku tak ingin sekalipun jauh darimu, Walau hanya sebentar saja," Ucap Arga yang suadh mencium Nindi dengan lembutnya.


"Maaf ya maaf...tapi nggak boleh nambah...aku lapar sayang...ayo turun...!" Ucap Nindi dengan dengusanya, Ia tahu betul rayuan sang suami, Dan kali itu ia tak akan terkena perangkapnya lagi. Hingga Arga mengerti dan mengajak sang istri untuk turun menuju ke bawah, Dimana mama dan semua bibi terlihat sedang sibuk menata sarapan di meja makan.


"Aku mau main sama Evan ya sayang..." Ucap Arga yang kemudian meninggalkan sang istri yang tengah menuju ke arah dapaur dan akan membantu mama serta bibi di sana, Dan Nindi hanya mengangguk mengiyakanya saja.