
Evan berlari secepatnya, menghampiri Vanya yang sudah menuruni separuh anak tangga. Lelaki itu tepat berhenti di dua anak tangga depan Vanya, menyetop Vanya dengan kedua tangan yang mencekal kedua lengan gadis itu.
"Van! apa itu tadi?" ucap Evan dengan nada meningginya.
"Apa itu tadi?" tanya nya sekali lagi.
"Apa Van?" tanya Vanya balik pada lelaki di depannya.
"Kau tahu! semua gadis hanya memiliki sekali malam pertama! apa semalam..." ucap Evan yang tertahan karena Vanya sudah menjawabnya dengan beberapa kali anggukannya. Seketika Evan tersentak, dadanya sesak, jantung di sana memukul mukul seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Van! kenapa kamu nggak bilang? hah...kenapa?" tanya Evan lagi pada Vanya. Namun gadis itu hanya terdiam.
"Nggak apa apa Van...aku baik baik saja!" ucap Vanya dengan kedua jemari tangan yang menyentuh wajah lelaki tampan dihadapannya.
"Kau baik baik saja! tapi aku tidak Vanya! hah...aku sudah merusakmu!" ucap Evan dengan kedua tangan yang meraih kedua jemari Vanya untuk di genggamnya.
"Tunggu! jadi Dion, dia tidak..." lagi ucap Evan yang tertahan karena Vanya sudah mengangguk.
"Kenapa kamu tidak bilang? kenapa kamu tidak bercerita? kenapa Vanya? kenapa?!" ucap Evan dengan suara lantang nya.
"Nanti kita bahas lagi...biarkan aku keluar dari rumahmu ya Van...aku mohon..." ucap Vanya yang lalu bergegas menuruni anak tangga, dan Evan hanya mengekorinya saja, Evan tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu, ia terlihat sangat kacau, karena mengingat apa yang telah ia lakukan pada gadis yang dicintainya. Ia menyalahkan dirinya sendiri dalam hatinya, bahkan mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Vanya, dan merusak gadis itu, hingga Vanya menghentikan langkahnya, yang membuat Evan tersentak karena tanpa sadar Evan telah menubruk Vanya di depannya.
"Ada apa Vanya?" tanya Evan pada gadis itu.
"Kamu Van yang ada apa?" tanya Vanya balik pada lelaki yang sedari tadi mengekorinya sampai di depan teras luar rumah.
"Aku ingin mengantarmu pulang..." ucap Evan dengan jujurnya.
"Jangan! kamu mau semua orang tahu aku dari rumahmu?" ucap Vanya yang merasa tidak nyaman.
"Aku yang lebih tidak nyaman saat meninggalkanmu sendirian! aku tidak mau menjadi pecundang! oke baiklah...bilang pada Dion...jangan kemana mana, aku akan kesana setelah ini." Ucap Evan dengan mantapnya, sembari meraik kepala Vanya lalu mengecup puncaknya.
"Tunggu aku datang..." bisik Evan lagi didepan wajah cantik itu, dan Vanya hanya mengangguk mengiyakannya saja.
Lalu Vanya pun pergi meninggalkan Evan yang masih mematung disana. Hingga sampai di rumah, Dion sudah siap akan keluar, disana pun sudah ada Daniel, keduanya sarapan di meja makan.
"Vanya!" sapa Daniel pada gadis itu.
"Ya, ya...kalian lanjutkan saja sarapannya. Oh ya...Dion...Evan nanti akan datang kemari, bisakah kamu meluangkan waktu? dia bilang pagi ini juga...bisakah kamu di rumah sebentar lagi?" ucap Vanya sebelum ia benar benar pergi masuk kedalam kamarnya.
"Oh begitu ya...bisa bisa...kita pending saja ya untuk sebentar lagi." Ucap Dion pada Daniel, dan lelaki itu hanya mengangguk mengiyakannya saja.
"Siapa Evan?" tanya Daniel pada Dion.
"Kekasih Vanya!" bisik Dion dengan senyumannya.
Hingga satu jam kemudian, Evan benar benar datang ke rumah Dion dan Vanya, saat itu Daniel pun masih berada disana.
Ke empatnya duduk di ruang tamu, canggung serta tegang saat itu yang Evan rasakan, namun terlihat santai dan biasa saja pada Dion dan lelaki di samping Dion.
"Emb...aku kesini ingin membahas sesuatu yang sifatnya pribadi, bisakah hanya kita bertiga saja disini?" ucap Evan yang meminta Daniel tidak ikut dalam pembicaraan.
"Oh...baiklah aku keluar sebentar kalau begitu." Ucap Daniel yang seketika beranjak dari duduknya dan langsung pergi setelah mendapat anggukan dari Dion. Kemudian Evan mulai pembicaraannya setelah lelaki itu benar benar pergi.
"Aku tahu ini sangat memalukan, tapi aku sadar...aku tidak bisa menghindarinya, harusnya kamu sudah tahu kan semalam Vanya tidak pulang? dia bersamaku." Ucap Evan dengan seriusnya. Dan saat itu Dion hanya mengangguk anggukan kepalanya saja tanda ia mengetahuinya.
"Apa kamu tidak apa apa jika Vanya bersamaku? aku yakin rumah tangga kalian hanya status saja bukan? bisakah kau melepaskan Vanya untukku?" ucap Evan lagi lagi dengan seriusnya.
"Emb...baiklah baiklah...aku tahu aku juga salah...aku bersembunyi dibalik Vanya, dan aku sadar Vanya tidak bahagia, terlihat dari perubahan sikapnya dan sifatnya, dahulu sejak pertama aku bertemu dengan Vanya, dia gadis periang, penuh percaya diri dan juga pemberani, ia berani mengambil sikap yang menurut aku wow banget, namun sejak kita menikah...aku tidak pernah memberikan kewajibanku padanya, mungkin hanya sekedar mencukupi semua kebutuhannya saja, tidak batinnya. Dan lagi...aku melihatnya tersenyum dan tertawa lagi seperti dulu sejak beberapa hari yang lalu, aku yakin kamu lah yang membuatnya tersenyum...jadi baiklah...aku putuskan untuk melepasnya...jaga dia baik baik, jika sampai kau menyakitinya...aku yang berada di depan untuk melawanmu!" ucap Dion yang lalu membuat Vanya berhambur memeluknya.
"Eeeeh....!" ucap Evan sembari menarik tangan Vanya hingga ia tidak jadi memeluk Dion, membuat Dion tertawa dibuatnya.
"Jangan khawatir...satu kali aku pernah kehilangannya, sekarang tidak akan pernah aku melepasnya." Ucap mantap Evan sembari menggenggam jemari Vanya.
"Akh...jadi kamu suka lelaki yang over begini Van?" celetuk Dion yang membuat Evan mengatupkan bibirnya.
"Baiklah akan aku urus semuanya...kamu tenang saja...tunggu di rumah dengan tenang oke?" ucap Dion pada Evan dan Vanya.
"Lalu Vanya?" tanya Evan pada lelaki itu.
"Ya dia disinilah...masak iya sudah mau kamu bawa pulang pak Evan?" ucap Dion dengan gerutunya.
"Tidak! tidak! walau bagaimanapun kamu laki laki, dia tidak boleh tinggal disini, biar dia menempati apartemen saja!" ucap Evan yang lagi lagi membuat tertawa Dion.
"Ya...ya terserahlah...aku mau jalan dulu...keluar Kota, biar pengacara aku yang urus semua...kalian tenang saja..." ucap Dion yang lalu mencoba menghubungi Daniel kembali.
Evan dan Vanya hanya tersenyum melihat tingkah Dion yang menurutnya berhati baik itu.
"Terimakasih Dion...jika ada kesulitan di perusahaanmu atau masalah pekerjaan...jangan lupa kamu harus memberi tahu siapa bukan?" ucap Evan yang berlalu menghampiri Dion dan menjabat tangannya. Lalu di balas lelaki itu dengan jabatan tangan pula.
Hingga Dion dan Daniel pergi dari sana, tinggal Evan dan Vanya yang masih berada di rumah Dion.
"Ayo..." ucap Evan yang mengajak Vanya, saat gadis itu kedapur mengembalikan gelas minuman disana.
"Ayo kemana?" tanya Vanya sembari berbalik menatap kekasihnya.
"Mau ke KUA juga masih belum bisa...ke kamar saja lah..." ucap Evan dengan senyum yang tersungging di bibirnya, terlihat makin menambah ketampanannya.
"Hah...ke kamar? sekarang?" dengus kaget Vanya atas apa yang Evan katakan, otaknya sudah liar kemana mana.
"Iya ke kamar...memangnya kamu tidak mau siap siap pindah sekarang? hemmmz...memang apa sih yang sedang ada di otak kamu?" ucap Evan sembari menoel hidung mancung di depannya.